Opini
Pengakuan Jujur Riyadh: Payung Keamanan AS Mulai Runtuh

Ahlulbait Indonesia, 11 Agustus 2026 — Kesepakatan pertahanan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menunjukkan perubahan dalam kalkulasi keamanan Riyadh di tengah melemahnya citra daya tangkal Amerika Serikat dan pencarian jaminan keamanan yang lebih besar, menurut analisis surat kabar Al-Akhbar yang dikutip Tasnim News pada Senin (10/8/2026).
Kesepakatan yang dikenal sebagai Kesepakatan Makkah tersebut memunculkan pertanyaan mengenai arah keamanan kawasan. Apakah kesepakatan itu membuka jalan menuju “Teluk Persia pasca-Amerika” atau justru hanya mereproduksi kebijakan Washington melalui kekuatan proksi di kawasan.
Baca juga: AI Boleh Menulis, tetapi Penulis dan Jurnalis Harus Berpikir
Menurut Al-Akhbar, aspek terpenting dari kesepakatan pertahanan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bukan apakah ketiganya akan berubah menjadi aliansi militer aktif atau apakah pasukan ketiga negara suatu hari akan bertempur dalam satu front. Hal yang lebih penting adalah perubahan cara Riyadh memandang keamanan nasionalnya.
Arab Saudi selama puluhan tahun membangun keamanan berdasarkan hubungan dengan Amerika Serikat. Namun, langkah menuju kesepakatan baru tersebut menunjukkan bahwa Riyadh mulai menerima kenyataan bahwa payung keamanan Amerika mulai runtuh dan tidak lagi cukup. Menempatkan seluruh kepentingan keamanan dalam satu keranjang juga dinilai bukan lagi kebijakan yang berkelanjutan.
Al-Akhbar menilai kesepakatan tersebut tidak berarti Arab Saudi berbalik melawan Amerika atau meninggalkan persenjataan dan kerja sama militernya dengan Washington. Namun, langkah tersebut menunjukkan pemahaman negara-negara kawasan, terutama negara-negara Teluk, bahwa Amerika Serikat tidak dapat sepenuhnya menjadi pelindung mereka.
Pengaruh Amerika Serikat di negara-negara Teluk, menurut analisis tersebut, tidak hanya bertumpu pada keberadaan pangkalan militer Washington di kawasan. Pengaruh itu juga dibangun melalui keyakinan bahwa keamanan negara-negara kawasan tidak mungkin terjamin tanpa Amerika Serikat.
Karena itu, ketika sekutu utama Washington seperti Arab Saudi mulai mencari payung perlindungan alternatif, hal tersebut dinilai menunjukkan melemahnya proyek Amerika Serikat dan fondasi pengaruhnya di negara-negara Teluk setelah perang regional terbaru.
Al-Akhbar menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti militer Amerika Serikat mengalami kekalahan dalam pengertian tradisional. Namun, pengalaman perang tersebut disebut telah merusak citra daya tangkal Amerika. Negara-negara sekutu Washington di kawasan yang sebelumnya menganggap Amerika sebagai penjamin terakhir keamanan mereka kini dinilai mulai menyadari perlunya mengubah kalkulasi dan mencari jaminan yang lebih nyata.
Baca juga: Trump Buntu, Gedung Putih Terjerat Kekacauan Politik
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan Saling Bertukar Kepentingan
Dalam Kesepakatan Makkah, Pakistan disebut berupaya menyediakan kemampuan militer dan nuklir bagi Arab Saudi, sementara Turki menawarkan industri pertahanan dan keahlian militer. Arab Saudi, di sisi lain, menyediakan pendanaan, pasar, dan investasi bagi kedua negara.
Al-Akhbar menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai pertukaran kepentingan, bukan pertemuan persaudaraan Islam. Pendekatan tersebut dinilai sebagai gambaran yang lebih realistis mengenai dasar hubungan ketiga negara.
Namun, kesepakatan tersebut juga menyisakan pertanyaan mengenai penerapannya ketika kepentingan keamanan masing-masing pihak diuji.
Jika Pakistan terlibat dalam konfrontasi penuh dengan India, apakah Turki dan Arab Saudi akan menganggap diri mereka ikut berperang melawan India. Apakah Kashmir kemudian akan menjadi bagian dari kepentingan keamanan nasional Arab Saudi. Pertanyaan tersebut juga menguji seberapa jauh prinsip “serangan terhadap satu pihak merupakan serangan terhadap semua pihak” dapat diterapkan ketika menghadapi konflik nyata.
Baca juga: Sekitar 700 Tentara AS Alami Cedera Otak Akibat Serangan Iran

Arab Saudi, Turki, dan Pakistan membangun kerja sama pertahanan melalui Kesepakatan Makkah di tengah perubahan kalkulasi keamanan Riyadh.
Kesepakatan Makkah dan Persoalan Palestina
Al-Akhbar juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai sisi paling memalukan dari kesepakatan tersebut, yaitu persoalan Palestina.
Menurut analisis tersebut, ketiga negara penandatangan mampu mengubah retorika mengenai keamanan menjadi konsep pencegahan kolektif ketika keamanan mereka sendiri dipertaruhkan. Namun, dalam persoalan Gaza, ketiganya dinilai tidak mengambil tindakan praktis dan hanya mengeluarkan pernyataan kecaman meskipun mengklaim mendukung Palestina.
Analisis tersebut mempertanyakan perbedaan antara sikap terhadap keamanan sendiri dan persoalan Palestina. Ketika keamanan negara-negara tersebut terancam, pencegahan praktis menjadi kebutuhan mendesak. Namun, ketika rakyat Palestina menjadi sasaran serangan, pencegahan disebut berubah menjadi persoalan moral semata.
Baca juga: Komandan Militer Iran Peringatkan Negara-Negara Islam agar Tidak Jadi “Perisai” AS
Al-Akhbar menegaskan bahwa persoalannya bukan tuntutan agar ketiga negara mengirim pasukan ke Gaza. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa komitmen pertahanan dibentuk untuk melindungi ketiga negara tersebut, sementara tidak dibangun sistem tekanan nyata yang dapat membuat perang Israel terhadap Gaza menimbulkan biaya politik, ekonomi, dan militer bagi Israel.
Dalam pandangan yang dikutip laporan tersebut, Palestina sejak awal lebih banyak menjadi bagian dari wacana Arab dan Islam daripada bagian dari konsep keamanan itu sendiri.
Karena itu, arti penting Kesepakatan Makkah menurut analisis tersebut bukan terletak pada kemungkinan Turki berperang melawan India atau kemungkinan Pakistan mengirim pasukan untuk membela Arab Saudi. Signifikansinya terletak pada kenyataan bahwa Riyadh mulai menyadari bahwa keamanan Saudi tidak sepenuhnya bergantung pada Washington.
Bagi Amerika Serikat, kondisi tersebut dinilai sebagai kerugian yang signifikan. Analisis Al-Akhbar menyimpulkan bahwa sebuah imperium mulai mengalami kemunduran ketika sekutu-sekutunya kehilangan keyakinan bahwa keberadaan imperium tersebut merupakan sebuah kebutuhan. []
Baca juga: Serangan Saudi-AS Hantam Maukib dan Penziarah Arbain Imam Husain di Karbala







