Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Mantan Perwira Intelijen AS: Narasi Washington soal Penyelamatan Pilot dari Iran Dibuat-buat

Published

on

Scott Ritter, mantan perwira intelijen Korps Marinir AS dan mantan inspektur senjata PBB, menilai narasi Washington mengenai operasi penyelamatan pilot Amerika dari Iran dibuat untuk membentuk opini publik.
Scott Ritter, mantan perwira intelijen Korps Marinir AS dan mantan inspektur senjata PBB, menilai narasi Washington mengenai operasi penyelamatan pilot Amerika dari Iran dibuat untuk membentuk opini publik.

Media ABI, 20 September 2026 – Mantan perwira intelijen Korps Marinir Amerika Serikat Scott Ritter menyebut narasi Washington mengenai operasi penyelamatan seorang pilot Amerika yang disebut jatuh di Iran sebagai cerita yang dibuat untuk kepentingan propaganda. Menurut Ritter, kisah tersebut digunakan untuk membangun kembali citra Amerika Serikat setelah mengalami kekalahan dalam perang dengan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Ritter dalam program “X Space” yang digelar Tehran Times dan Sputnik pada Sabtu malam (19/9/26). Mantan inspektur senjata PBB tersebut membahas sejumlah perkembangan perang dan politik internasional, mulai dari konflik Rusia-Ukraina, tekanan ekonomi Amerika Serikat hingga kemampuan militer NATO.

Baca juga: Media Ibrani: Bahkan Yahudi Amerika Ingin Bantuan untuk Israel Dihentikan

Ritter secara khusus mempertanyakan wawancara program “60 Minutes” dengan pilot Amerika yang disebut berhasil diselamatkan setelah pesawatnya terkena serangan pertahanan Iran. Dia mengatakan tidak bermaksud meragukan kesaksian pilot tersebut sebagai seorang veteran Amerika, tetapi menilai masih terdapat banyak persoalan yang tidak terjawab dalam cerita mengenai operasi penyelamatan itu.

Menurut Ritter, program tersebut merupakan bagian dari upaya membentuk figur pahlawan bagi publik Amerika setelah perang dengan Iran tidak berjalan sesuai harapan Washington.

“Ini merupakan tindakan propaganda dan skenario yang dibuat dengan kerja sama Departemen Perang Amerika Serikat,” kata Ritter.

Dia menilai Amerika Serikat membutuhkan narasi semacam itu setelah mengalami apa yang disebutnya sebagai kegagalan dalam perang melawan Iran. Dalam pandangannya, cerita yang ditampilkan kepada publik melalui program televisi tersebut lebih menonjolkan sisi kepahlawanan daripada menggambarkan keseluruhan situasi yang terjadi selama perang.

Ritter juga menilai kemampuan Iran dalam menghadapi serangan Amerika telah menunjukkan kelemahan yang tidak diperhitungkan Washington sebelumnya. Dia menyebut perang tersebut memperlihatkan bahwa Iran mampu memberikan perlawanan yang lebih efektif dari perkiraan Amerika Serikat.

Baca juga: Italia Kerahkan Angkatan Laut ke Bab el-Mandeb

Pandangan Ritter kemudian melebar pada kemampuan militer NATO dan Rusia. Dia membantah pernyataan Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski yang menyebut NATO memiliki keunggulan udara yang menentukan jika berhadapan dengan Rusia dalam perang konvensional.

Bagi Ritter, kekuatan udara tidak dapat diukur hanya dari jumlah pesawat tempur. Operasi udara membutuhkan pemeliharaan pesawat, bahan bakar, amunisi, sistem komando dan kendali serta dukungan logistik yang mampu bertahan dalam perang berkepanjangan.

Dia menilai NATO belum menghadapi lawan yang memiliki kemampuan militer sebanding dalam konflik besar. Pengalaman operasi negara-negara Barat selama beberapa dekade, menurutnya, lebih banyak berlangsung menghadapi lawan dengan kemampuan pertahanan yang jauh lebih rendah.

Persoalan serupa, lanjut Ritter, terlihat pada persediaan amunisi dan kesiapan sebagian angkatan bersenjata Eropa. Dia juga menilai Rusia memiliki kemampuan rudal dan drone yang dapat memberikan tekanan besar terhadap infrastruktur militer negara-negara NATO.

Ritter turut mengaitkan perkembangan militer tersebut dengan perang Rusia-Ukraina. Dia menilai serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia dan serangan balasan Moskow telah memperlihatkan bahwa sejumlah perkiraan mengenai melemahnya Rusia tidak terbukti.

Baca juga: Korea Selatan Tegaskan Tak Akan Berperang Melawan Iran

Menurutnya, Washington sebelumnya terlalu percaya pada laporan yang menggambarkan Rusia berada di ambang keruntuhan ekonomi dan militer. Perkembangan di lapangan, kata Ritter, justru menunjukkan bahwa Moskow masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan perang sekaligus melakukan serangan balasan.

Tekanan perang juga dia hubungkan dengan persoalan energi Amerika Serikat. Ritter menyebut kenaikan harga minyak dan bahan bakar telah menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Donald Trump karena dampaknya langsung dirasakan konsumen.

Dia menilai serangan terhadap fasilitas energi Rusia ikut mempersempit pasokan bahan bakar di pasar internasional. Dalam situasi seperti itu, upaya mencari tambahan minyak dari Venezuela tidak akan memberikan hasil cepat karena infrastruktur produksi negara tersebut membutuhkan investasi besar untuk kembali beroperasi secara optimal.

Ritter juga memperingatkan bahwa tekanan energi dan biaya perang dapat memperbesar beban ekonomi Amerika Serikat. Namun, seluruh penilaian tersebut merupakan pandangan Ritter dalam wawancara tersebut dan tidak seluruhnya disertai data independen yang dapat memverifikasi setiap klaim mengenai kemampuan militer, kondisi ekonomi maupun perkembangan perang.

Yang menjadi garis besar pandangannya tetap sama, perang dengan Iran telah memperlihatkan keterbatasan kemampuan Amerika Serikat sekaligus memaksa Washington membangun narasi baru untuk menjelaskan hasil konflik kepada publiknya. []

Baca juga: AS Resmi Keluar dari Dewan HAM PBB Sehari setelah Laporan Serangan di Iran