Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Bertahun-tahun Digempur Koalisi Arab, Ansarullah Semakin Kuat

Published

on

Ansarullah menegaskan setiap pelanggaran kedaulatan Yaman akan dibalas, meningkatkan risiko eskalasi Riyadh-Sana'a.
Pejuang Ansarullah Yaman dalam laporan Associated Press tentang perkembangan kekuatan militer kelompok tersebut setelah bertahun-tahun perang.

Media ABI, 17 September 2026 – Bertahun-tahun perang dan serangan udara belum membuat Ansarullah Yaman melemah. Sebaliknya, kelompok tersebut justru berkembang menjadi kekuatan yang memiliki kemampuan rudal, drone, produksi senjata di dalam negeri dan kapasitas untuk mengancam jalur pelayaran serta fasilitas minyak Saudi.

Gambaran tersebut muncul dalam laporan Associated Press berjudul Why Yemen’s Houthis have only grown stronger through years of war yang ditulis Joseph Krauss dan dipublikasikan pada 16 September 2026. Laporan itu menelusuri bagaimana Ansarullah mampu bertahan dan memperkuat kemampuan militernya setelah menghadapi operasi militer dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Inggris dan Israel.

Dari Perang Yaman ke Laut Merah

Menurut AP, Ansarullah kini bergerak menuju salah satu jalur laut penting dan telah menyerang fasilitas minyak Saudi. Serangan terhadap pelayaran di Laut Merah juga membuat kelompok tersebut memiliki pengaruh terhadap salah satu jalur perdagangan dunia dan ikut memengaruhi pasar minyak global.

Kemampuan itu tidak lahir dalam waktu singkat. AP menyoroti kondisi geografis Yaman yang luas dan bergunung-gunung sebagai salah satu faktor yang memungkinkan pasukan serta infrastruktur militer Ansarullah tersebar di berbagai wilayah.

Baca juga: Yaman: Kebohongan Saudi Tak Lagi Bisa Menipu Rakyat Arab dan Muslim

Dukungan Iran juga disebut berperan dalam perkembangan kemampuan tersebut. Bantuan berupa keahlian, pelatihan dan persenjataan disebut datang melalui jaringan sekutu Iran di kawasan.

Michael Knights, peneliti yang mengkaji Ansarullah dan kepala riset Horizon Engage, menyebut kelompok tersebut sebagai salah satu sekutu regional Iran yang paling berkomitmen, paling kuat secara ideologis dan paling agresif.

AP mencatat Ansarullah memiliki rudal balistik, rudal jelajah dan drone. Sejumlah sistem tersebut memiliki kemiripan dengan persenjataan Iran dan dapat menjangkau negara-negara Teluk serta Israel. Rudal antikapal dan drone laut juga digunakan untuk menyerang kapal di Laut Merah.

Jumlah personelnya pun meningkat tajam. Mengutip laporan pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2024, AP menyebut jumlah pejuang Ansarullah diperkirakan mencapai sekitar 350 ribu pada 2024, dibandingkan sekitar 30 ribu pada 2015 ketika Arab Saudi mulai melakukan intervensi dalam perang Yaman.

Ansarullah juga disebut telah membangun kemampuan produksi senjata di dalam Yaman. Sebagian besar persenjataan dapat diproduksi secara domestik, sementara Iran diyakini memasok sejumlah komponen berteknologi tinggi, termasuk sistem pemandu. AP juga menyebut adanya indikasi bahwa kelompok tersebut berupaya memanfaatkan kecerdasan buatan dalam pengembangan rudalnya.

Di pihak lain, Arab Saudi mengandalkan berbagai persenjataan buatan Amerika Serikat, termasuk pesawat tempur dan sistem pertahanan rudal. Persediaan rudal pencegat Saudi disebut mulai menghadapi tekanan. AP menyebut belum jelas sampai kapan Riyadh mampu menahan serangan Ansarullah dan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak.

Serangan yang Tak Mengubah Medan Perang

Arab Saudi melancarkan perang terhadap Ansarullah pada awal 2015 setelah kelompok tersebut menguasai sebagian besar wilayah utara dan tengah Yaman, termasuk Sana’a.

Selama tujuh tahun berikutnya, serangan udara Saudi berlangsung sementara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok separatis selatan berusaha merebut kembali wilayah yang dikuasai Ansarullah. Namun, garis depan tidak banyak berubah hingga gencatan senjata tercapai pada 2022.

Baca juga: Skenario Palsu Saudi Soal Serangan ke Mekkah, Gagal Provokasi Umat Islam

Perang Gaza kemudian membuka babak baru. Sejak 2023, Ansarullah mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan memberlakukan blokade terhadap Israel. Amerika Serikat dan Inggris merespons dengan serangkaian serangan udara mulai Januari 2024.

Pada tahun berikutnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan peningkatan serangan. Seorang pejabat militer AS mengatakan kepada AP bahwa sekitar 2.000 munisi dijatuhkan ke lebih dari 1.000 sasaran. Biaya munisi yang digunakan Amerika Serikat disebut mencapai lebih dari 750 juta dolar AS.

Setelah beberapa pekan serangan, Ansarullah menghentikan serangan terhadap kapal-kapal Amerika. Namun, serangan terhadap Israel tetap berlanjut dan kemudian dibalas Israel pada 2025.

Ansarullah relatif tidak banyak terlibat dalam beberapa bulan pertama perang Iran sebelum kembali menyerang Arab Saudi pada Juli dan menyatakan blokade terhadap pelayaran Saudi.

Mengapa Pilihan Militer Terbatas

Bagi lawan-lawannya, persoalan tidak berhenti pada kemampuan melakukan serangan udara. AP mencatat bahwa mengalahkan Ansarullah secara permanen membutuhkan penguasaan wilayah melalui operasi darat. Persoalannya, kelompok-kelompok yang berseberangan dengan Ansarullah sendiri masih terpecah.

Di satu sisi terdapat pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Di sisi lain ada kelompok separatis selatan yang mendapat dukungan Uni Emirat Arab. Kedua kelompok tersebut bahkan masih terlibat konflik satu sama lain pada awal tahun ini.

Thomas Juneau, profesor hubungan internasional di University of Ottawa yang mengkaji Iran dan Yaman, menyebut dukungan Iran sebagai salah satu faktor penting yang membuat Ansarullah mampu bertahan. Namun, menurutnya, kondisi lawan yang terpecah dan lemah juga memainkan peran besar.

Baca juga: Ansarullah Peringatkan Arab Saudi Tak Gunakan Mekkah Sebagai Tameng

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan yang berseberangan dengan Ansarullah disebut mundur dari sejumlah posisi ketika kelompok tersebut bergerak menuju Bab el-Mandeb, selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Situasi tersebut membuat pilihan Saudi semakin rumit. AP menyebut Riyadh tampaknya tidak ingin kembali memasuki perang besar dengan Ansarullah karena operasi darat berisiko berubah menjadi konflik berkepanjangan dengan korban besar.

Amerika Serikat juga menghadapi persoalan sendiri. Masih terlibat dalam perang dengan Iran, Washington disebut tidak ingin membuka konflik baru di Yaman.

Jalur diplomasi pun belum mudah ditempuh. Ansarullah menuntut Saudi mencabut blokade, sementara ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu hambatan bagi kemajuan hubungan Riyadh dan Teheran. []

Baca juga: Ansarullah Bantah Tuduhan Saudi soal Ancaman terhadap Makkah