Opini
AI Boleh Menulis, tetapi Penulis dan Jurnalis Harus Berpikir

Oleh: Muhlisin Turkan
Ketua Deperteman Humas, Media dan Penerangan Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (HMP ABI)
Ahlulbait Indonesia, 10 Agustus 2026 — Kecerdasan buatan (AI) sudah masuk ke ruang redaksi. Wawancara bisa ditranskripsikan dalam hitungan menit, dokumen panjang dapat diringkas, data lebih mudah diolah, tulisan dapat diperiksa, bahkan draf berita bisa selesai jauh lebih cepat. Banyak pekerjaan yang dulu menyita waktu kini dapat dipangkas. Persoalannya bukan pada penggunaan teknologi tersebut, melainkan pada apa yang terjadi ketika kemudahan mulai membuat jurnalis malas berpikir sendiri.
Kerja jurnalistik sebenarnya dimulai sebelum komputer dibuka dan satu kalimat ditulis. Semuanya berawal dari rasa ingin tahu, dari melihat sesuatu yang janggal, menemukan persoalan di tengah masyarakat, mendengar keterangan yang berbeda, atau menyadari bahwa ada bagian dari sebuah peristiwa yang belum terungkap.
Baca juga: Dari Las Vegas ke Jakarta, Politik yang Hidup dari Emosi Rakyat
Seorang wartawan datang ke lapangan bukan hanya untuk mengumpulkan bahan. Ada orang yang harus ditemui, pertanyaan yang harus diajukan, keterangan yang perlu dibandingkan, dan detail yang harus dicermati. Kadang satu hal kecil yang luput dari perhatian justru menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang lebih besar. Pengetahuan seperti itu tumbuh dari pengalaman dan perjumpaan langsung dengan kenyataan.
AI tentu berguna. Transkripsi, penerjemahan, pengolahan data, pemeriksaan bahasa, dan berbagai pekerjaan teknis dapat diselesaikan lebih cepat. Waktu yang biasanya habis untuk pekerjaan semacam itu bisa dialihkan untuk menemui sumber, mengecek fakta, turun ke lapangan, dan memahami persoalan secara lebih utuh.
Masalahnya muncul ketika alat bantu berubah menjadi tempat bergantung.
Mula-mula AI digunakan untuk memperbaiki kalimat. Kemudian untuk mencari judul. Berikutnya membuat pembuka berita, merangkum wawancara, menyusun pertanyaan, menentukan sudut pemberitaan, sampai menulis draf secara penuh. Setiap tahap terlihat masuk akal. Namun jika seluruh proses tersebut akhirnya diserahkan kepada mesin, jurnalis perlahan kehilangan kemampuan untuk menentukan sendiri apa yang penting, apa yang perlu dicari, dan mengapa sebuah persoalan layak diberitakan.
Baca juga: Dosa Max Blumenthal Hanya Satu: Menjadi Saksi dari Teheran
Jurnalisme membutuhkan lebih dari kemampuan merangkai kata. Sebelum menulis, seorang wartawan harus mampu bertanya apa yang sebenarnya terjadi, apa yang belum diketahui, siapa yang belum didengar, dan keterangan mana yang perlu diperiksa lagi. Dari pertanyaan semacam itu arah sebuah berita ditentukan.
Karena itu, persoalannya bukan apakah jurnalis menggunakan AI atau tidak. Persoalannya adalah siapa yang memegang kendali. Mesin dapat membantu mencari, mengolah, dan merapikan bahan. Namun penentuan fakta, sumber, sudut pemberitaan, dan kesimpulan harus tetap menjadi tanggung jawab jurnalis.
Tulisan yang rapi belum tentu benar. Data yang banyak belum tentu menggambarkan kenyataan secara utuh. Jawaban yang cepat pun belum tentu menyentuh persoalan yang sebenarnya.
Ironisnya, ketika membuat tulisan menjadi semakin mudah, nilai jurnalis yang benar-benar mampu mencari kebenaran justru semakin tinggi. Saat sebuah teks bisa dihasilkan dalam hitungan detik, kemampuan menulis dengan cepat bukan lagi keunggulan utama. Yang lebih penting adalah apa yang ditemukan sebelum tulisan itu dibuat.
Di tengah ledakan produksi konten, jurnalis yang paling berharga bukanlah mereka yang paling cepat meminta mesin menulis. Mereka adalah mereka yang masih memiliki rasa ingin tahu, keberanian untuk bertanya, ketekunan untuk memeriksa, dan independensi untuk mengatakan bahwa sebuah informasi belum cukup kuat untuk diberitakan.
Baca juga: Dari BrahMos hingga Sabang: Saatnya Indonesia Berhenti Menjadi Bangsa Pembeli
Pada akhirnya, AI boleh menjadi tangan tambahan bagi jurnalis. AI boleh menjadi alat untuk menghemat waktu, mengolah data, dan mengurangi pekerjaan teknis. Tetapi AI tidak boleh menjadi pengganti mata, telinga, kaki, nurani, dan pikiran seorang. Sebab selama kebenaran masih harus dicari, seseorang tetap harus pergi mencarinya.
Dan selama sebuah berita membutuhkan seseorang yang bersedia berdiri di belakang setiap fakta yang ditulisnya, jurnalisme masih memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma, yaitu manusia yang bertanggung jawab atas kebenaran.
Teknologi akan terus berubah. Cara berita diproduksi juga akan berubah. Namun pekerjaan utama jurnalis tetap sama. Melihat, mendengar, bertanya, memeriksa, lalu menyampaikan apa yang benar-benar terjadi.
AI boleh menulis. AI boleh membantu. Tetapi pekerjaan paling penting tetap tidak boleh diserahkan kepada mesin, yaitu berpikir.
Sebab ketika wartawan tidak lagi mencari, mempertanyakan, dan memeriksa sendiri, yang tersisa mungkin memang sebuah berita. Tetapi belum tentu masih ada jurnalistik di dalamnya. []
Baca juga: Oleh-Oleh dari Banjaran: Dari Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan Menuju Gerakan Tabyin







