Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Kehilangan Payung AS, Negara-Negara Teluk Cari Perlindungan Baru

Published

on

Negara-negara Teluk mulai mencari alternatif keamanan setelah perang memperlihatkan keterbatasan sistem perlindungan yang selama ini bertumpu pada Amerika Serikat.
Negara-negara Teluk mulai mencari alternatif keamanan setelah perang memperlihatkan keterbatasan sistem perlindungan yang selama ini bertumpu pada Amerika Serikat.

Media ABI, 17 September 2026 – Negara-negara Arab di kawasan Teluk mulai mencari pengaturan keamanan baru setelah perang regional memperlihatkan celah dan kelemahan dalam sistem keamanan yang selama ini bertumpu pada Amerika Serikat. Sejumlah negara bahkan mulai membuka jalur dialog langsung dengan Iran untuk membahas persoalan keamanan, termasuk navigasi di Selat Hormuz.

Dalam laporan analisis yang ditulis Vivian Nereim dan diterbitkan The New York Times pada 15 September 2026 dengan judul “Gulf Arab States Explore New Options as U.S. Bases Fail to Deter Iran”, disebutkan bahwa negara-negara Teluk yang selama bertahun-tahun mengandalkan jaminan keamanan Amerika Serikat kini mulai mencari pilihan lain setelah perang dengan Iran memperlihatkan keterbatasan perlindungan tersebut.

Laporan itu menyebut serangkaian serangan rudal dan drone Iran selama lebih dari enam bulan telah memperlihatkan kelemahan sistem keamanan yang selama ini diandalkan negara-negara Teluk.

Menurut The New York Times, sejumlah pangkalan Amerika Serikat di negara-negara Teluk hampir hancur akibat serangan Iran. Infrastruktur energi di kawasan, termasuk di Arab Saudi, juga mengalami kerusakan besar. Situasi tersebut mendorong para pemimpin negara-negara Teluk mencari cara lain untuk menjaga keamanan mereka, termasuk melalui diplomasi langsung dengan Iran.

Baca juga: Alasan di Balik Ketakutan Pilot Amerika Muncul di TV Iran

The New York Times mengutip para analis yang menilai para pemimpin kawasan tidak memiliki banyak pilihan selain mencari pengaturan keamanan alternatif. Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, menurut laporan tersebut, telah memperlihatkan kerentanan negara-negara Teluk sekaligus memperkuat pengaruh Iran di kawasan.

Badr Al-Saif, profesor sejarah di Universitas Kuwait, mengatakan kepada The New York Times bahwa negara-negara kawasan berada dalam posisi untuk mempertahankan sebagian dari masa lalu sembari berusaha membangun sesuatu yang baru. Menurutnya, negara-negara tersebut perlu keluar dari ketergantungan terhadap perlindungan eksternal.

Bahrain dan rapuhnya perlindungan AS

The New York Times menggunakan Bahrain sebagai salah satu contoh ketergantungan negara-negara Teluk terhadap payung keamanan Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, Bahrain menjadi lokasi pangkalan angkatan laut terbesar Amerika Serikat dengan harapan keberadaan pangkalan tersebut dapat memberikan perlindungan bagi negara itu.

Namun, dalam perang terbaru, pangkalan tersebut juga menjadi sasaran serangan Iran dan mengalami kerusakan berat. Seorang pejabat militer Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengatakan sebagian besar personel Angkatan Laut AS yang ditempatkan di pangkalan tersebut telah dipindahkan ke Florida, sementara hanya sejumlah kecil awak yang masih berada di lokasi.

The New York Times juga menilai perang tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan. Penutupan praktis Selat Hormuz oleh Iran disebut sebagai pukulan strategis besar sekaligus kemunduran ekonomi bagi negara-negara pengekspor energi di kawasan Teluk.

Menurut laporan tersebut, ketidakmampuan militer Amerika Serikat menghentikan serangan Iran menunjukkan persoalan strategis lain yang dapat berdampak serius terhadap negara-negara Teluk dan kemampuan Washington memproyeksikan kekuatan di kawasan.

Meski demikian, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait belum memiliki alternatif tunggal dan terpadu sebagai penjamin keamanan mereka.

Negara-negara Teluk telah menghabiskan miliaran dolar untuk membeli persenjataan canggih. Namun, menurut laporan The New York Times, angkatan bersenjata mereka lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan Iran. China dan Rusia, meski memiliki hubungan dekat dengan sejumlah negara Teluk, juga tidak memberikan bantuan kepada mereka dalam perang tersebut.

Baca juga: Trump Siapkan Pertemuan dengan Para Pemimpin Negara Teluk Bahas Iran

Upaya negara-negara Teluk mencari jalur keamanan alternatif dan meningkatkan kemandirian pertahanan masih berada pada tahap percobaan. Kesepakatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan kawasan, termasuk pakta pertahanan baru antara Arab Saudi dan Pakistan, juga belum teruji.

Negara Teluk mulai mempertanyakan prioritas Washington

The New York Times menyebut belum jelas apakah negara-negara tersebut memiliki kemauan dan kemampuan untuk memberikan bantuan keamanan kepada negara-negara Teluk. Karena itu, pilihan yang disebut paling realistis adalah membangun kemitraan pertahanan yang dapat melengkapi “payung keamanan Amerika Serikat”, bukan menggantikannya.

Laporan tersebut juga menyebut serangan Iran telah berdampak pada perekonomian negara-negara kaya minyak di kawasan Teluk dan merusak citra mereka sebagai tempat berlindung yang aman di tengah kawasan yang dilanda konflik.

Perang tersebut juga memperlihatkan bahwa sistem pertahanan canggih yang dimiliki negara-negara Teluk tidak selalu mampu bertahan menghadapi serangan. Iran disebut mampu menggunakan drone dalam jumlah besar dengan biaya relatif murah untuk menimbulkan kerugian besar terhadap negara-negara tersebut.

Baca juga: IRGC Hancurkan Drone MQ-9 AS ke-52

Christian Alexander, anggota senior Rabdan Security and Defence Institute, lembaga penelitian pemerintah Uni Emirat Arab, mengatakan kepada The New York Times bahwa ketika menghadapi serangan balasan Iran yang kuat, Amerika Serikat memprioritaskan perlindungan terhadap pasukannya sendiri dan Israel.

Menurut Alexander, prioritas tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan negara-negara Teluk untuk melindungi bandara, pelabuhan dan fasilitas desalinasi air mereka.

The New York Times juga melaporkan bahwa kekurangan rudal pencegat Amerika Serikat pada minggu-minggu pertama perang menjadi tantangan besar bagi negara-negara Teluk. Kondisi tersebut mendorong mereka meminta bantuan dari Ukraina dan sejumlah negara Eropa.

Namun, menurut laporan tersebut, negara-negara Teluk tetap belum mampu memberikan pertahanan yang memadai terhadap serangan Iran. []

Baca juga: Soal Program Nuklir, Iran Tak Akan Tunduk pada Tekanan