Opini
Riyadh Makin Terjepit, AS Tak Lagi Bisa Diandalkan

Media ABI, 14 September 2026 – Arab Saudi kembali menghadapi persoalan lama yang belum benar-benar selesai: bagaimana menjaga keamanan dan kepentingan energinya di tengah konflik Yaman yang justru semakin sulit dikendalikan.
Ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, situasi Selat Hormuz, serta serangan terhadap infrastruktur energi membuat ruang gerak Riyadh menyempit. Pilihan militer berisiko memicu perang yang lebih panjang, sementara jalur diplomasi belum menawarkan jaminan hasil. Di saat yang sama, Amerika Serikat, sekutu utama Saudi, belum menunjukkan keinginan untuk kembali membuka front baru di kawasan.
Baca juga: China Bantah Beri Citra Satelit kepada Iran
Fars News Agency mengutip laporan Politico pada Minggu (13/9/2026) yang menggambarkan perkembangan tersebut sebagai skenario buruk bagi Riyadh. Dalam beberapa hari terakhir, Ansarullah Yaman dilaporkan memperkuat posisi mereka di sekitar Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Perkembangan itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ancaman terhadap jalur ekspor minyak Saudi dan ketidakpastian di Selat Hormuz.
Bagi Riyadh, persoalannya bukan hanya soal keamanan. Gangguan pada jalur perdagangan dan energi berpotensi mengganggu ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengubah Arab Saudi menjadi pusat bisnis global melalui agenda reformasi ekonomi dan sosialnya.
Michael Ratney, mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, menilai perkembangan tersebut sangat mengecewakan bagi Riyadh.
“Terlepas dari permusuhan mereka dengan orang Iran, ini adalah perang yang tidak pernah mereka inginkan dan sangat membuat mereka khawatir. Ketika perang dimulai, skenario terburuk mereka mulai terwujud,” ujarnya.
Tekanan terhadap ekspor minyak
Setelah perang meluas dan Selat Hormuz menghadapi tekanan, Arab Saudi sempat menggunakan jaringan pipanya untuk mengalihkan sebagian pengiriman minyak menuju Laut Merah. Jalur tersebut menjadi salah satu cara Riyadh mengurangi ketergantungan pada rute yang melewati Hormuz.
Namun, sejak Juli, meningkatnya ketegangan dengan Ansarullah kembali membuka persoalan lama. Ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah membuat jalur alternatif tersebut ikut menghadapi risiko.
Dalam beberapa hari terakhir, Ansarullah dilaporkan mengambil alih kota pelabuhan al-Mokha dan sebuah pulau di Laut Merah dari pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Perkembangan ini meningkatkan kemampuan mereka untuk mengganggu pergerakan kargo yang berkaitan dengan Arab Saudi melalui kawasan Bab el-Mandeb.
Baca juga: Perwira Senior AS Akui Iran Tak Bisa Dikalahkan
Pada Jumat (11/9), Arab Saudi mengumumkan penghentian sementara jalur pipa yang mengalirkan minyak dari ladang-ladang besar di bagian timur negeri itu menuju Laut Merah di barat. Riyadh menyatakan keputusan tersebut diambil setelah serangan pesawat nirawak yang diklaim berasal dari Irak.
Dampaknya mulai terlihat pada arus ekspor. Data Kpler yang dikutip dalam laporan Politico menunjukkan ekspor minyak Saudi ke Asia turun tajam, dari sekitar 3,4 juta barel per hari pada Juni menjadi 128.000 barel per hari pada Agustus. Angka itu kemudian kembali meningkat menjadi sekitar 700.000 barel per hari pada September, tetapi masih jauh di bawah tingkat sebelumnya.
Pilihan militer sama-sama berisiko
Arab Saudi telah berperang melawan Ansarullah sejak 2015. Namun, bertahun-tahun intervensi militer tidak menghasilkan kemenangan yang mampu mengakhiri konflik. Perang tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 150.000 orang dan, sebelum gencatan senjata 2022, membawa Yaman ke ambang kelaparan.
Kini Riyadh kembali berada dalam posisi sulit. Neil Quilliam, pakar Timur Tengah dari Chatham House, mengatakan kemajuan Ansarullah telah meningkatkan tekanan terhadap Saudi untuk bertindak, tetapi setiap pilihan membawa konsekuensi besar.
“Arab Saudi selama beberapa tahun telah mencoba untuk keluar dari konflik Yaman,” kata Quilliam. “Kemajuan Houthi baru-baru ini telah meningkatkan tekanan pada Riyadh untuk bereaksi, sementara setiap opsi yang ada membawa biaya yang signifikan dan hasil yang tidak pasti.”
Arab Saudi dapat memperluas operasi militernya dan berusaha merebut kembali wilayah yang dikuasai Ansarullah. Namun, langkah tersebut berpotensi memperpanjang perang sekaligus meningkatkan risiko serangan terhadap fasilitas energi Saudi.
Baca juga: Biaya Perang Membengkak, AS Batasi Pengawalan Kapal Tanker di Hormuz
Sherwan Hendrin Ali, direktur riset Timur Tengah di ACLED, menilai kemampuan militer Ansarullah kini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Persenjataan mereka lebih canggih, sementara persediaan rudal pencegat Saudi disebut lebih terbatas setelah konflik AS dan Iran.
Diplomasi pun tidak sederhana. Riyadh dapat membuka kembali jalur komunikasi dengan Ansarullah atau Teheran, tetapi tuntutan Ansarullah terkait pencabutan blokade dan posisi Iran dalam konflik regional membuat penyelesaian diplomatik juga membutuhkan konsesi besar.
Masalahnya kembali kepada Washington
Di balik semua pilihan tersebut terdapat satu persoalan yang lebih besar: ketergantungan Saudi dan negara-negara Teluk terhadap Amerika Serikat.
Selama puluhan tahun, negara-negara Arab di Teluk mengandalkan Washington untuk menyediakan payung keamanan. Namun, kepercayaan terhadap komitmen tersebut semakin dipertanyakan selama pemerintahan Donald Trump.
Politico mencatat bahwa pada masa jabatan pertamanya, Trump tidak mengambil tindakan langsung setelah serangan yang dikaitkan dengan Ansarullah terhadap fasilitas minyak Saudi pada 2019. Serangan tersebut sempat melumpuhkan sekitar separuh kapasitas produksi minyak Arab Saudi.
Washington juga pernah melancarkan operasi udara terhadap Ansarullah sebagai respons terhadap serangan mereka di Laut Merah yang berkaitan dengan perang Gaza. Namun, situasi saat ini berbeda. Pasukan Amerika telah ditempatkan di sekitar Selat Hormuz dan Washington sendiri menghadapi konsekuensi politik dari perang yang tidak populer.
Bagi Trump, membuka operasi militer baru di Yaman dapat membawa persoalan politik domestik, terutama menjelang persaingan di DPR dan Senat.
Karena itu, Riyadh tidak bisa begitu saja mengandalkan Washington untuk kembali turun tangan.
Ratney menilai tanpa dukungan Amerika yang berkelanjutan, Saudi akan kesulitan mencapai tujuan strategisnya.
“Pemahaman saya pada titik ini adalah bahwa Gedung Putih tidak memiliki keinginan besar untuk masuk ke dalam konflik ini,” kata Ratney.
Bagi Riyadh, persoalannya kini bukan lagi memilih antara perang atau diplomasi. Kedua pilihan sama-sama mahal, sementara sekutu yang selama ini menjadi sandaran utama belum tentu bersedia ikut menanggung risikonya. []
Baca juga: Perangkap Emas Beijing untuk Dolar







