Opini
Jangan Sampai Diplomasi Iran Jadi “Pas Gol” untuk Trump

Media ABI, 13 September 2026 – Mantan Menteri Luar Negeri Iran pada era Mahmoud Ahmadinejad, Manouchehr Mottaki, memperingatkan Teheran agar tidak mengambil langkah diplomatik yang justru dapat memberi keuntungan politik kepada Donald Trump menjelang pemilihan Kongres Amerika Serikat. Peringatan itu disampaikan Mottaki dalam analisis berjudul “Waspadai Umpan untuk Trump” yang diterbitkan Fars News Agency pada Sabtu (12/9/2026). Dia melihat perang Iran dan Amerika Serikat telah memasuki fase yang menentukan, dengan medan konfrontasi yang meluas dari operasi militer ke diplomasi dan politik domestik Amerika.
Baca juga: CIA Beberkan 71 Dokumen yang Selama Ini Dirahasiakan tentang 11 September
Tekanan Militer dan Hitungan Politik Washington
Mottaki menilai sejumlah perkembangan di kawasan menunjukkan tekanan terhadap kehadiran militer Amerika semakin besar. Dia menyinggung rencana penarikan pasukan Amerika dari Irak, laporan mengenai kondisi Armada Kelima Angkatan Laut Amerika di Bahrain, serta kemungkinan pemindahan sejumlah pangkalan Amerika di kawasan ke wilayah pendudukan Palestina. Dia juga memasukkan penyitaan kapal selam nirawak Amerika dan serangan terhadap sejumlah kapal dalam pembacaannya mengenai perubahan medan konflik di Teluk Persia dan Laut Oman. Menurut Mottaki, tekanan di laut berpotensi meningkat, terutama jika Iran mampu menembus blokade maritim. Dia melihat kemampuan Iran mengganggu pergerakan dan dukungan militer Amerika sebagai salah satu faktor yang akan memengaruhi keputusan Washington dalam menghadapi perang.
Perhatian Mottaki kemudian beralih pada kalender politik Amerika. Dia menyebut Trump memiliki waktu 53 hari sebelum pemilihan Kongres pada 3 November untuk menghadapi tekanan politik yang tercermin dalam jajak pendapat mengenai posisi Partai Republik. Kondisi itu, menurut Mottaki, dapat mendorong Trump mencari ruang untuk memperbaiki posisi politiknya. Dia menilai perang terbatas, blokade dan tekanan ekonomi belum menghasilkan tujuan yang diharapkan Washington. Karena itu, gencatan senjata dan perundingan masih mungkin digunakan sebagai instrumen politik. Mottaki juga mengaitkan upaya menjaga harga minyak dan munculnya narasi mengenai kemungkinan perundingan dengan Iran dengan kepentingan Trump mengelola opini pemilih dan elite politik Amerika menjelang pemilihan Kongres.
Baca juga: Rudal Balistik IRGC Hantam Fasilitas F-35, F-16, dan F-15 di Pangkalan AS
Bagi Mottaki, perang dan pemilu kini berada dalam satu rangkaian perhitungan. Tekanan di medan konflik dapat memengaruhi posisi Trump di dalam negeri, sementara setiap perkembangan diplomatik berpotensi digunakan Washington untuk membangun narasi keberhasilan.
Diplomasi Jangan Menjadi Jalan Keluar bagi Trump
Atas pembacaan itu, Mottaki meminta para pejabat Iran berhati-hati dalam menjalankan diplomasi selama 53 hari tersebut. Dia secara khusus meminta agar istilah “perundingan” tidak digunakan dalam pidato dan wawancara resmi. Mottaki juga menyerukan penghentian komunikasi mengenai perang dengan Amerika melalui perantara resmi seperti Pakistan, Qatar dan Oman maupun melalui jalur tidak resmi. Pertemuan dengan negara-negara Arab di selatan Teluk Persia yang membahas tatanan keamanan regional juga menurutnya perlu ditunda sampai hasil perang lebih jelas.
Menurut Mottaki, hasil konflik akan ikut menentukan bentuk tatanan keamanan kawasan. Karena itu, pembicaraan mengenai konfigurasi regional sebelum hasil perang diketahui dinilai dapat menempatkan Iran pada posisi yang kurang menguntungkan. Meski demikian, Mottaki tidak menempatkan diplomasi sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Dia mengingatkan bahwa dirinya telah lebih dari empat dekade berkecimpung dalam diplomasi dan memahami pentingnya hubungan, komunikasi serta perundingan bagi kepentingan negara. Yang dia persoalkan adalah waktu dan tujuan penggunaannya.
Mottaki merujuk pada keputusan Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya yang menolak menerima pesan Donald Trump yang disampaikan melalui Perdana Menteri Jepang. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu berarti membuka perundingan. Dalam kondisi tertentu, menolak berunding atau tidak menerima pesan dari lawan juga dapat menjadi pilihan diplomatik. Pengalaman Iran menghadapi kebijakan Trump menjadi alasan lain yang dikemukakannya. Mottaki mengingatkan bahwa Trump pernah membatalkan kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui, termasuk keputusan Amerika keluar dari JCPOA. Karena itu, dia meminta Teheran tidak mudah memberikan ruang kepada setiap tawaran baru dari Washington.
Baca juga: Selat Hormuz Kini Sepenuhnya Tertutup
Bagi Mottaki, “umpan” kepada Trump dapat berbentuk gencatan senjata, perundingan atau komunikasi politik yang kemudian digunakan Washington untuk membangun citra keberhasilan menjelang pemilihan Kongres. Kekhawatirannya bukan semata-mata mengenai hasil sebuah perundingan, melainkan konsekuensi politik yang lebih luas. Jika Trump berhasil mengubah persepsi pemilih melalui perkembangan diplomatik, kemenangan itu menurutnya dapat memperkuat kebijakan yang lebih keras terhadap Iran setelah pemilu. Karena itu, dia mengingatkan agar tidak ada pihak di Iran yang tanpa perhitungan memberikan “pas gol” kepada Trump.
Analisis Mottaki memperlihatkan bagaimana perang Iran dan Amerika dibaca di Teheran sebagai pertarungan yang berlangsung di beberapa lapisan sekaligus. Tekanan militer, blokade, sanksi ekonomi, diplomasi dan pemilihan Kongres Amerika saling berkaitan dalam perhitungan politik kedua negara. Dalam kerangka itu, 53 hari yang disebut Mottaki bukan hanya hitungan menuju pemilu. Periode tersebut dipandang sebagai masa ketika setiap langkah diplomatik Iran dapat memengaruhi posisi politik Trump di dalam negeri sekaligus menentukan ruang gerak Washington dalam perang.
Pesan Mottaki karena itu cukup jelas. Diplomasi tetap diperlukan, tetapi jangan sampai langkah diplomatik Iran justru menjadi modal politik bagi Trump. []
Baca juga: Perang Hari Ini sebagai Pertarungan Kehendak dan Ketahanan







