Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Pakar Militer AS: Perang Iran Meruntuhkan Ilusi Amerika Tak Terkalahkan

Published

on

Pasukan militer Iran dalam sebuah latihan, di tengah pernyataan sejumlah pejabat Teheran mengenai kesiapan memperluas pilihan operasi dalam menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya.
Pakar militer AS Douglas Macgregor dan fisikawan Ted Postol menyoroti kemampuan Iran melacak dan menyerang sasaran bergerak dalam operasi terhadap aset militer Amerika.

Media ABI, 14 September 2026 – Keberhasilan Iran menyerang sasaran militer Amerika Serikat di laut menjadi perhatian dua pakar militer dan teknologi pertahanan asal Amerika. Mereka menilai kemampuan Iran menemukan, melacak, dan menyerang sasaran bergerak yang berada di bawah perlindungan berlapis menunjukkan perkembangan penting dalam kemampuan operasional Teheran.

Fars News Agency melaporkan pada Senin (14/9/2026), pandangan tersebut disampaikan Kolonel Douglas Macgregor, pensiunan perwira militer AS, dan Dr. Ted Postol, fisikawan serta mantan penasihat rudal di Kongres Amerika Serikat. Keduanya menyoroti persoalan yang jauh lebih rumit daripada kemampuan rudal semata, yakni bagaimana Iran memperoleh informasi posisi sasaran secara akurat dan mengubahnya menjadi koordinat serangan dalam waktu yang cukup singkat.

Baca juga: China Bantah Beri Citra Satelit kepada Iran

Postol menilai kemampuan tersebut menunjukkan kematangan siklus intelijen-operasional Iran. Sementara Macgregor melihat perkembangan itu dari sisi yang lebih luas: kemampuan Iran menghadapi kekuatan militer AS telah mengguncang anggapan lama mengenai keunggulan militer Amerika.

Macgregor: Iran Bukan Lawan yang Bisa Diremehkan

Macgregor menilai perkembangan terbaru dalam konflik dengan Iran memperlihatkan keterbatasan struktur militer Amerika yang selama puluhan tahun tidak banyak diuji menghadapi lawan dengan kemampuan pertahanan udara, angkatan udara, rudal, dan sistem persenjataan yang terorganisasi. Menurutnya, Amerika selama sekitar tiga dekade lebih sering berhadapan dengan lawan yang tidak memiliki kemampuan militer sebanding sehingga sejumlah kelemahan struktural dalam militer AS tidak terlihat secara jelas.

Iran, menurut Macgregor, berada dalam kategori berbeda. Ia mengingatkan bahwa pengalaman perang Iran-Irak telah membentuk karakter militer Iran yang terbiasa menghadapi perang berkepanjangan dan menanggung korban besar tanpa kehilangan kemauan untuk bertempur. Di saat yang sama, Iran kini memiliki persenjataan yang dikembangkan dan diproduksi sendiri. Bagi Macgregor, kombinasi pengalaman tempur dan kemampuan persenjataan tersebut menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan Washington.

Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai keberhasilan rudal hipersonik Iran menembus pertahanan di sekitar kapal induk Amerika. Menurut Macgregor, jika rudal dapat mencapai sasaran atau melintas di atas kapal tanpa berhasil dicegat, hal itu menunjukkan bahwa sistem pertahanan AS tidak memberikan jaminan mutlak terhadap serangan.

Macgregor mengaitkan perkembangan tersebut dengan keputusan armada Amerika untuk menjaga jarak dari wilayah yang berada dalam jangkauan rudal Iran. Menurutnya, perubahan posisi itu mengurangi kemampuan Angkatan Laut AS untuk memberikan pengaruh langsung terhadap medan perang. Ia juga menilai serangan terhadap kapal tanker minyak Iran mencerminkan keterbatasan pilihan militer Washington.

Baca juga: Diplomasi Al-Jolani Tak Hentikan Israel, Nafsu Ekspansi Israel Makin Besar

“Ketika Anda tidak bisa menembak target militer musuh, Anda beralih ke kapal tanker minyak sipil,” kata Macgregor. Menurutnya, langkah tersebut tidak memberikan keuntungan strategis yang jelas dan justru dapat menimbulkan kerugian bagi Amerika dalam jangka menengah.

Postol Soroti Sulitnya Menyerang Kapal Bergerak

Postol melihat persoalan tersebut dari sisi yang lebih teknis. Menurutnya, menghantam kapal yang terus bergerak di laut jauh lebih rumit daripada menyerang sasaran tetap seperti instalasi radar atau pangkalan militer. Ia menyebut rudal Iran “Bashir” dengan jangkauan sekitar 1.200 kilometer dan tingkat akurasi tinggi sebagai salah satu sistem yang digunakan dalam operasi tersebut. Namun, akurasi rudal saja tidak cukup untuk memastikan serangan terhadap kapal yang sedang bergerak.

Kapal induk dapat melaju sekitar 30 knot. Dalam selang waktu antara pendeteksian sasaran, pengiriman informasi, pemrosesan data, peluncuran rudal, hingga rudal tiba di lokasi, kapal dapat berpindah beberapa mil laut. Karena itu, mengetahui posisi kapal ketika rudal ditembakkan belum tentu cukup. Penyerang harus mampu memperbarui posisi sasaran dan memperkirakan pergerakannya secara akurat hingga mendekati waktu tumbukan.

Postol mengatakan Iran dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan kemampuan yang semakin baik dalam menjalankan siklus intelijen hingga serangan terhadap sasaran tetap, termasuk sistem radar pertahanan. Namun, menurutnya, keberhasilan terhadap sasaran bergerak membutuhkan tingkat koordinasi dan kecepatan informasi yang jauh lebih tinggi.

Baca juga: Mengapa Washington Mengecilkan Arti Penting Kendaraan Nirawak yang Disita Iran

Di titik inilah ia menyoroti kemungkinan peran satelit pengintai milik Tiongkok dan Rusia dalam menyediakan informasi bagi Iran. Persoalan utamanya, menurut Postol, bukan hanya memperoleh gambar satelit, melainkan seberapa cepat informasi tersebut dapat diolah menjadi koordinat sasaran yang akurat dan masih relevan ketika serangan dilancarkan.

Bukan Hanya Soal Kekuatan Rudal

Postol juga menekankan bahwa kapal induk tidak beroperasi sendirian. Sebuah kelompok tempur kapal induk biasanya dilindungi kapal perusak, kapal lain, kapal selam, serta berbagai sistem pertahanan yang dirancang untuk mendeteksi dan menghadang ancaman sebelum mencapai kapal induk. Karena itu, keberhasilan Iran menyerang sasaran bergerak dalam lingkungan pertahanan berlapis menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada daya ledak rudal.

Yang diuji adalah keseluruhan rantai operasi: menemukan sasaran, mempertahankan informasi tentang posisinya, memperbarui data, menghitung pergerakan, lalu mengarahkan senjata menuju titik yang tepat. Bagi Postol, kemampuan Iran mencapai tingkat akurasi seperti itu menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya mengembangkan rudal dengan daya jangkau dan daya hancur tinggi, tetapi juga semakin mampu menyelesaikan persoalan paling sulit dalam perang rudal modern: menemukan sasaran bergerak dan mempertahankan akurasi ketika sasaran berada di balik beberapa lapis pertahanan. []

Baca juga: Reuters Soroti Ancaman Rekayasa Balik Kapal Selam Nirawak AS