Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Pakar CSIS: Kekuatan Siber Iran Menjadi “Selat Kedua”

Published

on

Pakar CSIS menilai kemampuan siber Iran meningkat dan semakin terintegrasi dengan strategi perang asimetris.
Pakar siber CSIS Nikita Shah menilai peningkatan kemampuan siber Iran dapat menjadi pengungkit tambahan dalam strategi perang asimetris menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya.

Ahlulbait Indonesia, 10 Agustus 2026 – Pakar siber Center for Strategic and International Studies atau CSIS, Nikita Shah, menilai kemampuan siber Iran mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir dan semakin diarahkan untuk mendukung strategi perang negara tersebut.

Dalam laporan analitis yang dilaporkan Fars News Agency pada Senin, 10 Agustus 2026, Shah menelaah perkembangan operasi dan kemampuan siber Iran sejak konflik dimulai pada Februari 2026. Menurut analisis tersebut, aktivitas siber Iran meningkat dalam empat hingga enam bulan terakhir dan perangkat sibernya ditata ulang untuk memberikan dukungan lebih langsung dalam menghadapi Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah rival regional.

Shah menilai perkembangan tersebut berpotensi menjadikan kemampuan siber sebagai instrumen tambahan untuk mengikis kemampuan Amerika Serikat dan sekutunya, di samping pengaruh strategis Iran melalui Selat Hormuz.

Menurut Shah, peningkatan kemampuan siber Iran merupakan bagian dari pergeseran strategi militer yang semakin mengandalkan instrumen asimetris. Pendekatan tersebut mencakup eksploitasi terhadap kerentanan kekuatan konvensional Amerika Serikat dan Israel, upaya membatasi akses melalui Selat Hormuz untuk memberikan tekanan terhadap pasar energi global dan rival regional, serta kampanye perang informasi untuk membentuk narasi mengenai konflik.

Baca juga: Perang dengan AS Uji Doktrin dan Teknologi Pertahanan Udara Iran

Dalam strategi tersebut, kemampuan siber berfungsi sebagai faktor pendukung penting, terutama dalam perang informasi. Kapasitas ini membantu mengikis kemampuan rival sekaligus memungkinkan proyeksi kekuatan melampaui wilayah Iran.

Sejak Maret 2026, aktivitas yang dicatat dalam laporan mencakup spionase siber, pembangunan akses teknis, operasi siber disruptif, operasi informasi berbasis kemampuan siber, penyebaran spyware, serta operasi yang berkaitan dengan konflik.

Operasi siber semakin terintegrasi dengan strategi perang

Shah mengidentifikasi tiga kecenderungan strategis. Pertama, perangkat siber Iran semakin langsung mendukung strategi perang.

Pada tahap awal konflik, aktivitas siber Iran masih tersebar dan banyak mengandalkan akses teknis yang telah diperoleh sebelumnya. Bentuknya antara lain serangan hacktivist berupa perubahan isi situs dan operasi peretasan yang diikuti pembocoran data. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi pendekatan yang lebih terkoordinasi dan selaras dengan tujuan perang.

Menurut Shah, perubahan paling jelas terlihat dari meningkatnya prioritas spionase siber. Pada Juli 2026, Iran disebut berhasil meretas SS7, protokol untuk merutekan data dalam jaringan telekomunikasi. Akses tersebut disebut memungkinkan identifikasi lokasi pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah dan digunakan untuk mengarahkan serangan militer yang menimbulkan korban di pihak Amerika.

Pejabat senior Amerika Serikat dan Israel yang memiliki nilai intelijen tinggi juga disebut menjadi sasaran. Menurut Shah, operasi tersebut kemungkinan bertujuan memahami proses pengambilan keputusan strategis, terutama terkait perundingan diplomatik dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik.

Iran juga disebut menyusup ke kamera keamanan di sejumlah negara untuk membantu penargetan militer melalui drone atau rudal serta menilai kerusakan setelah serangan. Spionase siber juga dilaporkan meluas ke sektor penerbangan, kedirgantaraan, manufaktur pertahanan, telekomunikasi, serta industri antariksa dan satelit.

Kecenderungan kedua adalah penggunaan kemampuan siber ofensif untuk membentuk lingkungan operasi sesuai kepentingan Iran.

Shah menyatakan bahwa sebagaimana Amerika Serikat dan Israel menggunakan kemampuan siber ofensif untuk melemahkan infrastruktur Iran pada tahap awal konflik, Iran juga memanfaatkan kemampuan tersebut untuk memengaruhi medan operasi.

Baca juga: Perang dengan AS Uji Doktrin dan Teknologi Pertahanan Udara Iran

Ruang informasi dipandang sebagai salah satu medan utama konflik dalam doktrin Iran. Perang informasi menjadi instrumen untuk memperoleh kedalaman strategis dengan memproyeksikan kekuatan jauh melampaui batas wilayah Iran.

Dari sisi cakupan, aktor siber Iran disebut menjalankan berbagai operasi disruptif di Amerika Serikat. Kelompok hacktivist pro-Iran juga disebut terus menargetkan organisasi di berbagai wilayah Asia Barat.

Dari sisi sasaran, aktor siber Iran dan kelompok hacktivist disebut menargetkan pejabat aktif maupun mantan pejabat Amerika Serikat dan Israel, terutama melalui peretasan yang diikuti pembocoran data. Menurut Shah, keterlibatan kelompok tersebut menunjukkan mobilisasi bagian lain dari ekosistem siber Iran untuk mendukung upaya perang.

Operasi tersebut juga memiliki dimensi psikologis dan informasi. Serangan yang menembus struktur pemerintahan Israel dan jaringan militer Amerika Serikat dapat melemahkan persepsi mengenai efektivitas, kemampuan, dan keamanan kedua negara.

Gangguan yang dirasakan warga dan dunia usaha juga dapat menimbulkan ketakutan, perpecahan, serta kekacauan. Dampak tersebut memungkinkan Iran membebankan biaya kepada rival dari jarak jauh sekaligus membentuk lingkungan informasi yang lebih menguntungkan, terutama apabila dukungan publik global terhadap kelanjutan konflik menurun.

Shah menilai kecerdasan buatan menjadi instrumen penting yang memperkuat kemampuan Iran dalam operasi siber dan informasi.

Laporan intelijen ancaman yang dikutip dalam analisis tersebut menyebut penggunaan kecerdasan buatan untuk penulisan kode dan pengembangan malware, rekayasa sosial, serta produksi dan manipulasi konten.

Menurut Shah, teknologi tersebut tidak mengubah logika strategis Iran dalam konflik, tetapi meningkatkan kecepatan, skala, jangkauan, dan dampak operasi sibernya.

Kemampuan siber menjadi pengungkit tambahan bagi Iran

Kecenderungan ketiga adalah kemampuan Iran memanfaatkan kapasitas sibernya secara efektif meskipun menghadapi sejumlah keterbatasan.

Shah menilai serangan siber terhadap fasilitas penyediaan air di Amerika Serikat sangat mengkhawatirkan. Namun, keterlibatan Iran dalam serangan tersebut belum terkonfirmasi. Jika terbukti berasal dari Iran, serangan tersebut berpotensi meningkatkan eskalasi konflik.

Baca juga: Iran Ubah Doktrin Pertahanan Udara, Tinggalkan Doktrin Lama

Shah menempatkan serangan tersebut dalam pola operasi Iran yang lebih panjang. Menurut analisisnya, aktivitas siber Iran sepanjang konflik menunjukkan pola yang serupa dengan konflik 12 hari melawan Israel pada 2025, termasuk kesamaan sasaran, penggunaan aktor negara dan hacktivist, serta taktik.

Pola tersebut menunjukkan pemanfaatan operasi siber untuk membentuk lingkungan operasi sekaligus memperoleh informasi bagi operasi berikutnya. Dampaknya dapat diarahkan pada sasaran fisik dan militer maupun persepsi dan kognisi.

Salah satu karakter doktrin militer Iran adalah eskalasi terkendali, yaitu tindakan yang meningkatkan intensitas konflik tanpa berkembang menjadi perang total. Jika serangan terhadap fasilitas penyediaan air Amerika Serikat terbukti dilakukan Iran, tindakan tersebut dapat dipandang sebagai upaya membebankan biaya kepada lawan tanpa mencapai tingkat eskalasi seperti sejumlah serangan militer dan fisik.

Iran juga kemungkinan masih menghadapi keterbatasan operasional. Laporan pada Maret 2026 menyebut Amerika Serikat dan Israel telah menargetkan pusat komando siber dan perang informasi Korps Garda Revolusi Islam Iran pada tahap awal serangan.

Belum diketahui seberapa besar kapasitas siber Iran yang telah dipulihkan. Namun, peningkatan aktivitas yang dicatat Shah menunjukkan sebagian perangkat siber Iran telah kembali aktif dalam skala lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Sejumlah laporan juga menyebut penggunaan komunikasi satelit untuk melanjutkan aktivitas tersebut, meskipun gangguan terhadap infrastruktur digital Iran berpotensi membatasi kemampuan operasionalnya di ruang siber.

Siber menjadi pengungkit tambahan di luar Selat Hormuz

Shah mengaku belum mengetahui apakah perubahan organisasi dalam struktur militer Iran telah diterapkan pada perangkat sibernya. Namun, menurutnya, Iran secara terbuka mengandalkan perang asimetris dan memahami bidang yang dapat memberikan keunggulan kompetitif melalui kemampuan siber.

Baca juga: Stok Rudal AS Menipis, Pentagon Paksa Industri Senjata Tingkatkan Produksi

Dalam penilaian Shah, penguasaan Selat Hormuz merupakan salah satu pengungkit tekanan terpenting Iran. Kemampuan siber memiliki posisi penting meskipun bersifat sekunder dan berfungsi sebagai instrumen pendukung.

Kapasitas tersebut membantu Iran meningkatkan presisi serta memperkuat aktivitas militer dan ekonominya, sekaligus membentuk kondisi lingkungan yang mendukung operasi.

Jika serangan siber terhadap Amerika Serikat nantinya terbukti dilakukan Iran, Shah memperingatkan bahwa Teheran akan memiliki pengungkit tekanan tambahan dalam rangkaian instrumen perang asimetrisnya. Kemampuan tersebut berpotensi semakin mengikis kapasitas Amerika Serikat.

Shah memperkirakan aktor siber Iran tengah menyiapkan akses teknis baru dan mengembangkan kemampuan tambahan untuk digunakan apabila konflik berlangsung dalam jangka panjang. []

Baca juga: Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, AS Harus Tunduk