Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Perang dengan AS Uji Doktrin dan Teknologi Pertahanan Udara Iran

Published

on

Perang dengan AS menjadi ujian bagi kemampuan Iran menghadapi serangan berteknologi tinggi sekaligus mengembangkan sistem pertahanan yang lebih cepat, cerdas, dan mandiri.
Perang dengan AS menguji doktrin dan teknologi pertahanan udara Iran di tengah penggunaan AI, sistem otomatis, dan senjata berteknologi tinggi.

Ahlulbait Indonesia, 9 Agustus 2026 – Perang terbaru menjadi ujian langsung bagi doktrin dan teknologi pertahanan udara Iran. Amir Shakouri mengatakan berbagai kajian yang sebelumnya dilakukan secara teoritis kini diuji di medan tempur ketika Iran menghadapi teknologi serangan yang semakin cepat, otomatis, dan berbasis kecerdasan buatan.

Kepala Kantor Studi dan Riset Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran itu menyampaikan hal tersebut dalam wawancara khusus dengan Mehrnews Agency pada Minggu (9/8/2026). Menurut Shakouri, salah satu tugas utama lembaganya adalah memantau perubahan lingkungan strategis dan memprediksi bentuk perang masa depan.

Baca juga: WSJ: Iran Membatasi Kehadiran Militer AS di Teluk Persia

Pusat kajian, kata Shakouri, secara terus-menerus mempelajari perubahan global, karakter ancaman, metode serangan, serta perkembangan teknologi ofensif dan defensif di sektor udara.

Hasil kajian tersebut digunakan untuk menyesuaikan struktur, peralatan, dan metode pertahanan agar tetap mampu beradaptasi dengan ancaman baru.

Berbagai kajian mengenai perubahan karakter ancaman, metode serangan, dan teknologi baru telah dilakukan sebelum perang terbaru. Sejumlah proyek dan program kemudian disusun berdasarkan kajian tersebut. Sebagian telah menghasilkan capaian, sementara lainnya masih berada dalam tahap pelaksanaan dan penyempurnaan.

Perang terbaru kemudian menjadi ujian langsung terhadap hasil kajian tersebut.

Sebelumnya, berbagai teknologi telah melalui pengujian, tetapi belum pernah menghadapi lawan dengan tingkat kemampuan teknologi seperti dalam perang tersebut. Medan tempur akhirnya menjadi pengujian nyata terhadap seluruh unsur pertahanan, mulai dari personel dan pelatihan hingga peralatan dan teknologi.

Shakouri mengatakan pertahanan udara menunjukkan kemampuan beradaptasi ketika menghadapi metode serangan baru. Dalam sejumlah kasus, perubahan pada teknologi, peralatan, dan taktik dilakukan dalam waktu relatif singkat sehingga kemampuan pertahanan meningkat dan sejumlah pesawat tanpa awak serta objek udara lawan berhasil dihancurkan.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kajian dan penelitian pertahanan udara harus terus dilanjutkan agar kemampuan pertahanan dapat menyesuaikan diri dengan ancaman masa depan.

AI Mengubah Kecepatan Perang

Shakouri mengatakan perang terbaru menunjukkan bahwa medan tempur semakin bergantung pada teknologi, terutama kecerdasan buatan.

AI digunakan untuk mempercepat pengambilan keputusan, memproses informasi dalam jumlah besar, mengidentifikasi sasaran, dan mendukung pengarahan operasi. Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran mendasar dibandingkan pola perang sebelumnya.

Pada masa lalu, pesawat pengintai mengumpulkan informasi, kemudian data dan gambar diperiksa setelah pesawat kembali. Analisis dilakukan, sasaran ditentukan, dan misi berikutnya baru dikeluarkan. Seluruh proses tersebut dapat berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari.

Kini, informasi dari satelit, sensor, dan berbagai sistem dapat dikumpulkan serta diproses secara waktu nyata. Keputusan operasional kemudian dapat dihasilkan dalam waktu jauh lebih singkat.

Shakouri memperkirakan perang masa depan akan semakin bergerak menuju sistem yang cerdas, tanpa awak, dan otomatis.

Teknologi antariksa, prosesor berkecepatan sangat tinggi, teknologi kuantum, sistem laser, teknologi elektromagnetik, hingga bioteknologi disebut sebagai sejumlah bidang yang berpotensi memainkan peran penting.

Teknologi laser, misalnya, menarik perhatian karena biaya penggunaannya dinilai lebih rendah dibandingkan sejumlah sistem rudal. Ketika ancaman udara dapat dilawan menggunakan sistem yang lebih murah dan cepat, negara-negara akan terdorong mengembangkan teknologi tersebut.

Iran, menurut Shakouri, terus memantau perkembangan berbagai teknologi tersebut. Sebagian telah menghasilkan produk, sebagian masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, sementara lainnya masih berada dalam tahap riset dan pengembangan.

Universitas, perusahaan berbasis pengetahuan, serta generasi muda dengan kemampuan tinggi dilibatkan dalam pengembangan teknologi yang dibutuhkan, khususnya di bidang pertahanan dan pertahanan udara.

Perang Menjadi Laboratorium Evaluasi

Salah satu fungsi utama pusat kajian militer adalah mengubah pengalaman di medan perang menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pertahanan.

Shakouri mengatakan pengalaman dari dua perang terbaru digunakan untuk menyusun dokumen, program, dan peta jalan baru. Sebelum perang berlangsung, pusat kajian telah mengembangkan dokumen transformasi pertahanan udara berdasarkan kajian teoritis dan analisis yang tersedia.

Setelah perang, pengalaman langsung di lapangan memberikan bahan tambahan yang sebelumnya tidak tersedia.

Personel pusat kajian turun ke berbagai satuan, berbicara dengan anggota yang terlibat langsung di medan, memeriksa kinerja sistem, serta menganalisis kekuatan dan kelemahannya. Seluruh proses tersebut kemudian diolah menjadi bagian dari manajemen pengetahuan pertahanan.

“Kini bukan waktunya untuk slogan. Kita harus menerima masalah, tantangan, dan kelemahan sebagaimana adanya lalu mencari solusi ilmiah,” ujar Shakouri.

Menurutnya, bahkan militer terkuat di dunia tetap memiliki kelemahan dan terus melakukan perbaikan. Amerika Serikat, Israel, dan China juga mempelajari pengalaman perang untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka.

Pengalaman perang membawa biaya besar berupa korban jiwa dan kerugian material. Namun, pengalaman tersebut juga menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan angkatan bersenjata.

Kemandirian Menjadi Dasar Inovasi

Salah satu prinsip utama pertahanan Iran adalah kemandirian dan produksi peralatan domestik.

Shakouri mengatakan ketergantungan pada peralatan impor setidaknya menciptakan dua persoalan. Pertama, ketergantungan operasional. Ketika sebuah sistem dibeli dari negara lain, pengguna dapat tetap bergantung pada pihak asing untuk pengoperasian, perbaikan, pemeliharaan, dan penyediaan suku cadang.

Ketergantungan tersebut dapat memengaruhi keamanan serta kesiapan pertahanan, terutama dalam kondisi konflik dan tekanan eksternal.

Persoalan kedua adalah kesesuaian peralatan dengan kebutuhan medan operasi. Sistem yang dibeli tidak selalu dirancang berdasarkan kondisi geografis, kebutuhan operasional, budaya organisasi, dan karakter medan suatu negara.

Bahkan ketika sanksi tidak ada dan sumber daya finansial tersedia untuk membeli peralatan canggih, tidak terdapat jaminan bahwa sistem tersebut akan sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan operasional.

Pengalaman sejumlah negara di kawasan, menurut Shakouri, menunjukkan bahwa pembelian peralatan canggih dalam jumlah besar tidak otomatis menghasilkan kemampuan penggunaan yang optimal. Teknologi militer tidak berhenti pada kepemilikan sistem, tetapi juga mencakup pengetahuan, pelatihan, pengalaman, organisasi, dan budaya penggunaannya.

Karena itu, Iran memilih mengembangkan kemampuan domestik.

Kemandirian tersebut, menurut Shakouri, mengubah posisi Iran dari konsumen menjadi perancang dan inovator.

Dengan mengembangkan teknologi sendiri, Iran dapat menciptakan sistem yang lebih murah sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan operasionalnya.

Dia mencontohkan teknologi laser yang menawarkan biaya penggunaan jauh lebih rendah dibandingkan rudal. Menurutnya, karakter perang masa depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan menggunakan teknologi secara cerdas untuk menghasilkan dampak terbesar dengan biaya serendah mungkin.

Iran juga berupaya menggabungkan berbagai teknologi untuk menghasilkan sistem yang cepat, cerdas, dan efektif.

Dalam perang terbaru, menurut Shakouri, sejumlah sistem yang dibangun melalui kombinasi berbagai teknologi menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap ancaman baru.

Sistem tersebut memiliki karakteristik berupa kecerdasan, kecepatan respons tinggi, biaya penggunaan lebih rendah, serta kemampuan menghadapi sebagian ancaman secara otomatis.

Perang terbaru dengan demikian tidak hanya menjadi ujian terhadap kemampuan operasional pertahanan udara Iran, tetapi juga terhadap seluruh ekosistem teknologi yang dibangun selama bertahun-tahun. Bagi Shakouri, pengalaman medan tempur menjadi sumber evaluasi untuk memperbaiki doktrin, teknologi, organisasi, dan kemampuan manusia.

Perubahan karakter perang juga menunjukkan bahwa keunggulan pertahanan udara semakin ditentukan oleh kecepatan mengubah informasi menjadi keputusan dan keputusan menjadi tindakan. Dalam konteks tersebut, kemandirian teknologi bukan hanya persoalan memproduksi senjata sendiri, melainkan kemampuan membangun sistem yang dapat terus belajar, beradaptasi, dan berkembang menghadapi ancaman yang berubah. []