Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Stok Rudal AS Menipis, Pentagon Paksa Industri Senjata Tingkatkan Produksi

Published

on

Pentagon menekan industri pertahanan Amerika Serikat untuk mempercepat produksi senjata setelah perang dengan Iran menguras persediaan rudal dan amunisi AS.
Pentagon memberi waktu 21 hari kepada industri pertahanan AS untuk menyusun rencana percepatan produksi dan pengiriman senjata.

Ahlulbait Indonesia, 9 Agustus 2026 – Departemen Perang Amerika Serikat menekan perusahaan-perusahaan pertahanan untuk meningkatkan produksi dan pengiriman senjata secara drastis setelah perang dengan Iran menguras persediaan amunisi AS. Washington Post melaporkan, tekanan tersebut mencerminkan tantangan serius yang dihadapi Washington untuk memulihkan cadangan senjatanya, baik dari sisi kapasitas industri maupun pembiayaan.

Dalam laporan eksklusif yang dikutip Kantor Berita Farsnews pada Minggu (9/8/2026), Washington Post menyebut pemerintah AS meminta perusahaan pertahanan mempercepat produksi sekaligus pengiriman senjata yang dibutuhkan militer.

Baca juga: USS Lincoln Terkatung-katung 208 Hari di Laut

Tekanan tersebut muncul beberapa hari setelah pejabat senior AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemberitaan mengenai kekurangan senjata telah membuat Donald Trump sangat terganggu. Salah satu pejabat bahkan mengatakan judul-judul berita negatif mengenai persoalan tersebut telah “membuatnya gila”.

Dalam perkembangan terbaru, Steve Feinberg, Wakil Menteri Perang AS, mengirimkan memo kepada para pimpinan industri pertahanan pada Rabu. Feinberg memberi waktu paling lambat 21 hari kepada perusahaan untuk menyerahkan rencana percepatan produksi dan pengiriman senjata.

Rencana tersebut harus menghasilkan jadwal pengiriman yang jauh lebih cepat dan agresif sekaligus memperbesar kapasitas produksi. Feinberg menegaskan bahwa siklus pengembangan dan produksi senjata yang berlangsung bertahun-tahun tidak lagi dapat diterima. Industri pertahanan diminta meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan “sekarang”.

Perang dengan Iran menguras persediaan rudal

Desakan itu datang ketika perang dengan Iran memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap persediaan amunisi Amerika Serikat.

Washington Post menyebut bahwa pada bulan pertama perang saja, militer AS menggunakan lebih dari 850 rudal Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal Patriot dan THAAD, serta lebih dari 1.300 rudal balistik taktis.

Analisis Center for Strategic and International Studies atau CSIS menunjukkan persediaan rudal Patriot dunia turun dari sekitar 2.200 unit sebelum perang menjadi kurang dari 827 unit. Persediaan rudal pencegat THAAD juga menyusut dari sekitar 452 unit menjadi kurang dari 278 unit.

Angka tersebut mencakup persediaan yang telah digunakan dan stok yang masih tersedia secara global. Persoalan ini menjadi semakin penting karena Washington pada saat yang sama harus melindungi pasukan dan pangkalannya di berbagai wilayah dunia.

Penurunan persediaan senjata bahkan disebut Washington Post telah menjadi salah satu sumber ketegangan antara Donald Trump dan pejabat Departemen Perang.

Trump membantah kekhawatiran tersebut. Pada Kamis, melalui media sosial miliknya, Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki “jumlah amunisi yang sangat besar”. Dia juga mengklaim sejumlah besar amunisi masih diproduksi dan dikirim ke AS.

Baca juga: WSJ: Iran Membatasi Kehadiran Militer AS di Teluk Persia

Namun, langkah Feinberg menunjukkan bahwa Pentagon tetap menempatkan peningkatan kapasitas produksi sebagai salah satu prioritas paling mendesak.

Gedung Putih libatkan perusahaan pertahanan

Upaya memperbesar produksi tidak berhenti pada memo Feinberg. Pada akhir Juli, sejumlah perusahaan besar dan perusahaan tradisional industri pertahanan AS bersama beberapa perusahaan rintisan di bidang persenjataan dan teknologi dipanggil ke Gedung Putih.

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, Menteri Perang Pete Hegseth, Direktur Office of Management and Budget Russell Vought, serta Direktur Urusan Legislatif Gedung Putih James Braid.

Para pimpinan perusahaan senjata diminta secara langsung menekan anggota Kongres agar meningkatkan anggaran pertahanan.

Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Boeing termasuk perusahaan besar yang hadir. Sejumlah perusahaan baru yang bergerak di bidang persenjataan otonom dan analisis data, seperti Anduril dan Palantir, juga turut serta.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk mendorong legislator menyediakan lebih banyak dana bagi pembangunan kembali kapasitas militer Amerika Serikat.

Baca juga: BBC Bongkar Batas Kekuatan Washington dalam Perang Iran

Dalam beberapa bulan terakhir, Pentagon juga telah membuat serangkaian kesepakatan dengan perusahaan pertahanan besar dan perusahaan rintisan. Kesepakatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi senjata berbiaya lebih rendah sekaligus memperbesar produksi sistem pertahanan udara yang lebih kompleks, termasuk rudal THAAD dan Patriot.

Masalah utama berada pada pendanaan

Namun, terdapat persoalan mendasar. Washington Post mencatat bahwa kesepakatan kerangka yang telah dibuat belum otomatis menjadi kontrak pembelian senjata.

Pelaksanaannya masih bergantung pada persetujuan anggaran Kongres.

Tom Karako, Direktur Missile Defense Project di CSIS, mengatakan kepada Washington Post bahwa kondisi tersebut menjadi hambatan utama. Menurutnya, hampir tidak ada kesepakatan yang telah berubah menjadi kontrak final karena Pentagon belum memperoleh sumber pendanaan yang diperlukan.

Persoalan semakin rumit karena rancangan undang-undang anggaran pertahanan AS senilai 1,15 triliun dolar masih menghadapi kebuntuan di Kongres. Partai Demokrat menentang peningkatan besar-besaran belanja militer. Jika kebuntuan berlanjut, rencana Pentagon memulihkan persediaan senjata dapat menghadapi hambatan serius.

Di tengah kebuntuan tersebut, Pentagon pada Senin mengumumkan kesepakatan kerangka baru dengan Northrop Grumman dan Lockheed Martin untuk meningkatkan produksi rudal Patriot dan THAAD.

Pekan sebelumnya, Lockheed Martin juga menerima kontrak dengan nilai potensial 58,6 miliar dolar. Kontrak tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi rudal Patriot PAC-3 hingga tiga kali lipat pada 2030.

Baca juga: Foreign Affairs: Amerika Harus Tinggalkan Timur Tengah

Pada Mei, Pentagon juga membuat kesepakatan kerangka dengan Anduril, Castelion, CoAspire, Leidos, dan Zone 5 untuk memperluas kemampuan ofensif militer AS secara cepat serta membeli rudal berbiaya lebih rendah.

Pentagon incar sejumlah program senjata baru

Dalam memo terbarunya, Feinberg tidak hanya meminta peningkatan produksi persenjataan yang sudah ada. Sejumlah program lain juga dimasukkan dalam rencana percepatan produksi atau peningkatan pembelian untuk anggaran tahun fiskal 2028.

Daftar tersebut mencakup rudal pencegat generasi mendatang, sistem rudal darat-ke-udara canggih, radar bergerak untuk pertahanan udara, sistem pelatihan pilot canggih, serta sistem berbasis ruang angkasa untuk melacak rudal.

Feinberg juga meminta perusahaan pertahanan mengajukan proposal konkret mengenai investasi peralatan, pembangunan fasilitas, dan peningkatan kapasitas lini produksi. Langkah tersebut ditujukan agar industri pertahanan Amerika mampu mempertahankan volume produksi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Permintaan itu datang ketika sejumlah perusahaan senjata bahkan mulai menanggung sebagian biaya peningkatan produksi menggunakan dana sendiri sebelum memperoleh kepastian anggaran.

Menurut para pakar, langkah tersebut memiliki risiko cukup besar bagi perusahaan terbuka karena pemerintah belum memberikan komitmen pasti untuk membiayai seluruh pesanan.

Bukan hanya soal stok rudal

Persoalan yang dihadapi pemerintahan Trump tidak berhenti pada berkurangnya persediaan rudal. Tantangan yang lebih besar terletak pada keterbatasan kapasitas industri pertahanan untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan dalam perang besar dengan kecepatan yang dibutuhkan.

Pada saat yang sama, rencana pemulihan cadangan senjata masih bergantung pada keputusan Kongres mengenai anggaran pertahanan.

Bagi Pentagon, persoalannya kini bertemu pada dua kebutuhan yang sama-sama menentukan, kemampuan industri meningkatkan produksi dan kemampuan pemerintah menyediakan pendanaan untuk membayarnya. []

Baca juga: Jenderal Tertinggi AS Peringatkan Trump Segera Akhiri Perang Iran