Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Ubah Doktrin Pertahanan Udara, Tinggalkan Doktrin Lama

Published

on

Teheran membangun sistem mandiri dan terpadu yang menggabungkan sensor, persenjataan, informasi, serta teknologi domestik di bawah komando tunggal.
Teheran membangun sistem mandiri dan terpadu yang menggabungkan sensor, persenjataan, informasi, serta teknologi domestik di bawah komando tunggal.

Ahlulbait Indonesia, 9 Agustus 2026 – Iran mengubah doktrin pertahanan udaranya secara mendasar setelah Revolusi Islam dan pengalaman delapan tahun perang Iran-Irak. Amir Shakouri, Kepala Kantor Studi dan Riset Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat Iran, mengatakan perubahan tersebut menggeser pertahanan udara dari struktur yang berada di bawah Angkatan Udara menjadi sistem mandiri, terpadu, dan berlapis untuk menghadapi karakter ancaman yang terus berkembang.

Dalam wawancara khusus dengan Kantor Berita Mehr pada Minggu (9/8/2026), Shakouri menjelaskan bahwa sebelum Revolusi Islam 1979, doktrin militer Iran berorientasi ofensif. Pada masa pemerintahan Pahlavi, angkatan bersenjata Iran dipersiapkan untuk menjalankan peran sebagai “polisi kawasan”, dengan kekuatan udara menjadi salah satu tumpuan utama.

Investasi besar diarahkan untuk memperkuat Angkatan Udara. Sejumlah pesawat tempur, termasuk F-16, telah dibeli dan direncanakan dikirim ke Iran setelah Revolusi Islam, tetapi rencana tersebut tidak pernah terealisasi.

Baca juga: WSJ: Iran Membatasi Kehadiran Militer AS di Teluk Persia

Pada periode itu, pertahanan udara masih berada di bawah Angkatan Udara dengan tugas utama melindungi pangkalan-pangkalan militer.

Situasi berubah setelah Revolusi Islam dan pecahnya perang Iran-Irak. Pengalaman delapan tahun perang menunjukkan bahwa pertahanan udara tidak dapat bertumpu pada perlindungan pangkalan semata.

“Pengalaman perang menunjukkan bahwa dengan tetap berada di pangkalan, kita tidak dapat melindungi wilayah udara negara maupun memberikan dukungan efektif kepada pasukan sendiri,” ujar Shakouri.

Pertahanan udara kemudian diperluas keluar dari pangkalan dan ditempatkan lebih jauh ke dalam medan pertahanan. Tugasnya berkembang mencakup dukungan terhadap pasukan darat, perlindungan wilayah udara, serta keselamatan penerbangan.

Perubahan tersebut mendorong pembentukan jaringan pertahanan udara terpadu yang memungkinkan berbagai unsur sensor, sistem senjata, dan unit pertahanan bekerja dalam satu kesatuan.

Dari Doktrin Ofensif Menuju Pertahanan Mandiri

Setelah perang berakhir, Iran kembali menyesuaikan doktrin pertahanannya. Doktrin ofensif digantikan dengan doktrin defensif, tetapi perubahan tersebut tidak berarti kemampuan ofensif dihapuskan.

Shakouri menegaskan bahwa Iran tidak memulai perang. Namun, jika diserang, Iran akan terlebih dahulu mempertahankan diri dan dapat mengambil tindakan ofensif dalam kerangka pertahanan yang dianggap sah.

Seiring dengan pembentukan pertahanan udara sebagai struktur mandiri, berbagai peraturan, instruksi, dan dokumen doktrin juga ditinjau serta disusun kembali untuk menyesuaikan kebutuhan pertahanan baru.

Menurut Shakouri, sedikitnya terdapat tiga faktor utama yang mendorong pembentukan pertahanan udara sebagai struktur mandiri.

Pertama, perubahan karakter ancaman. Kajian terhadap berbagai konflik regional, terutama Perang Teluk, menunjukkan bahwa kekuatan udara dan antariksa menjadi salah satu instrumen utama dalam operasi militer modern.

Pihak yang menyerang terlebih dahulu berupaya menguasai wilayah udara sebelum melanjutkan operasi darat. Karena itu, pertahanan udara yang kuat dapat menggagalkan gelombang awal serangan dan mencegah lawan memasuki tahap operasi berikutnya.

Kedua, kebutuhan terhadap komando tunggal.

“Pekerjaan pertahanan udara harus dilakukan secara benar-benar terkoordinasi dan terpadu,” kata Shakouri.

Menurutnya, tanpa koordinasi tersebut, risiko kesalahan meningkat karena berbagai perangkat pertahanan udara berada di bawah sejumlah unsur berbeda. Ketiadaan jaringan terpadu juga dapat mengurangi kemampuan membedakan sasaran sendiri dan sasaran musuh, bahkan meningkatkan risiko pesawat sendiri menjadi sasaran.

Karena itu, Iran membangun jaringan yang menghubungkan seluruh sensor, sistem, dan perangkat pertahanan dari berbagai unsur. Informasi diproses secara terpadu melalui jaringan tersebut, sementara pengelolaan wilayah udara ditempatkan di bawah komando tunggal.

Ketiga, kebutuhan mengembangkan teknologi rudal dan sistem pertahanan buatan sendiri.

Baca juga: Kepemimpinan Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei Mengubah Peta Perang Iran

Ketika pertahanan udara masih berada di bawah Angkatan Udara, perhatian utama komando lebih banyak diarahkan kepada kemampuan ofensif. Menurut Shakouri, pengembangan sistem pertahanan udara membutuhkan organisasi mandiri yang dapat memusatkan seluruh sumber daya dan perhatian pada teknologi pertahanan udara.

Keamanan dan Keselamatan Penerbangan

Shakouri juga menekankan pentingnya pengelolaan wilayah udara secara terpadu untuk kepentingan militer maupun penerbangan sipil.

Menurutnya, keamanan dan keselamatan merupakan dua tugas yang harus berjalan bersamaan. Keamanan berkaitan dengan kemampuan menghadapi ancaman dari udara, sedangkan keselamatan mencakup perlindungan terhadap penerbangan sendiri dan penerbangan sipil yang diizinkan melintas di wilayah udara Iran.

Pengelolaan kedua misi tersebut, menurut Shakouri, membutuhkan struktur pertahanan udara yang mandiri dan terintegrasi.

Pada 2008, Pemimpin Revolusi Islam Iran mengeluarkan perintah untuk memandirikan pertahanan udara dan membentuk Markas Pertahanan Udara Khatam al-Anbiya. Menurut Shakouri, keputusan tersebut kemudian mendorong perkembangan besar dalam berbagai bidang dan mempercepat pencapaian kemandirian Iran di sejumlah sektor pertahanan.

Kemandirian Teknologi Belum Menghapus Kesenjangan

Shakouri mengakui Iran telah mencapai kemajuan besar dalam pengembangan radar, rudal, intelijen, dan berbagai sistem pertahanan buatan sendiri. Namun, dia mengakui ekspektasi masyarakat terhadap kemampuan pertahanan udara dalam menghadapi perang terbaru mungkin lebih tinggi dibandingkan kemampuan yang tersedia.

Dia mengingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran sebelum Revolusi Islam sangat bergantung pada teknologi asing. Bahkan, personel teknis Iran tidak selalu memperoleh keleluasaan untuk memperbaiki dan merawat sejumlah perangkat buatan Amerika Serikat.

Baca juga: Iran Tetapkan Syarat untuk Buka Selat Hormuz, AS Harus Tunduk

Setelah Revolusi Islam, penekanan terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, kemandirian, dan kemampuan ilmiah domestik mendorong pembangunan basis teknologi pertahanan di dalam negeri.

Namun, kesenjangan teknologi yang terbentuk selama beberapa dekade tidak dapat dihapus dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, negara-negara lawan juga terus mengembangkan kemampuan dan teknologi militer mereka.

“Kita memiliki infrastruktur, pengetahuan, tenaga ahli, kepercayaan diri, dan kemampuan ilmiah yang dibutuhkan,” kata Shakouri.

Menurutnya, modal tersebut memungkinkan Iran memperbaiki kerusakan dengan cepat sekaligus menggunakan pengalaman perang untuk terus meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata.

Perubahan doktrin pertahanan udara Iran pada akhirnya bukan hanya soal perpindahan struktur komando. Transformasi tersebut mencerminkan upaya membangun sistem pertahanan yang mampu mengintegrasikan sensor, persenjataan, informasi, komando, serta kemampuan teknologi domestik dalam satu jaringan.

Namun, pengakuan Shakouri mengenai kesenjangan teknologi menunjukkan bahwa kemandirian pertahanan tidak identik dengan tercapainya keunggulan teknologi. Iran telah membangun fondasi domestik yang lebih kuat, tetapi perlombaan teknologi udara dan antariksa terus bergerak, sehingga kemampuan mempertahankan keunggulan tersebut akan bergantung pada kapasitas Iran untuk terus beradaptasi dan berinovasi. []

Baca juga: Tentara Iran: AS Harus Terima Tatanan Baru di Selat Hormuz