Opini
Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Perang dengan Iran dinilai telah mengguncang fondasi kehadiran Amerika Serikat di Timur Tengah. Majalah Amerika Foreign Affairs menyebut negara-negara kawasan semakin meragukan kemampuan Washington menjamin keamanan mereka setelah Amerika gagal mencegah serangan terhadap sekutunya dan tidak mampu membuka kembali Selat Hormuz.
Pandangan tersebut disampaikan Mark Lynch, profesor ilmu politik dan hubungan internasional di George Washington University sekaligus penulis buku America’s Middle East: The Destruction of a Region, dalam artikel yang diterbitkan Foreign Affairs.
Lynch menyoroti tiga persoalan yang menurutnya paling merusak kredibilitas Washington. Amerika Serikat dan Israel gagal menggulingkan pemerintahan Iran, Washington tidak mampu melindungi sepenuhnya sekutu-sekutu Arabnya, dan Selat Hormuz tetap tertutup. Pada saat yang sama, dukungan Amerika terhadap kebijakan Israel di Gaza turut memperlemah kepercayaan negara-negara kawasan terhadap komitmen keamanan Washington.
Baca juga: Haaretz: Waktu Berpihak kepada Iran, Trump seperti Petinju Buta
Bagi Lynch, keadaan tersebut bukan gangguan sementara yang dapat pulih begitu perang berakhir. Perang ini telah menjadi titik balik yang membuat tatanan keamanan Timur Tengah yang dibangun Amerika semakin sulit dikembalikan seperti semula.
Tatanan Amerika yang Semakin Rapuh
Selama enam bulan perang, Iran menghadapi Amerika Serikat bersama negara-negara NATO, Israel, sejumlah negara kawasan dan aktor dari luar kawasan yang mengerahkan kemampuan intelijen, militer serta ekonomi untuk mendukung Washington.
Iran yang tidak memiliki senjata nuklir tetap menghadapi dua kekuatan nuklir tanpa menunjukkan keraguan. Dalam perang tersebut, Teheran juga memperlihatkan kemampuan yang kemudian dinilai sebagai bentuk daya tangkal baru. Penutupan Selat Hormuz dan dampaknya terhadap perekonomian Amerika serta dunia menunjukkan bahwa Iran bukan hanya memiliki kemampuan untuk menutup jalur pelayaran strategis tersebut, tetapi juga kemauan untuk melakukannya.
Serangan Iran terhadap sedikitnya 20 pangkalan Amerika di delapan negara kawasan turut memperlihatkan keterbatasan pertahanan Washington. Pangkalan-pangkalan tersebut tidak sepenuhnya terlindungi, sementara negara-negara tempat fasilitas itu berada ikut menghadapi risiko serangan.
Pandangan bahwa perang ini seharusnya mendorong Amerika meninggalkan Timur Tengah sebelumnya disampaikan Michael Fuchs, direktur Open Society Foundation dan mantan asisten khusus Presiden Joe Biden pada 2021 dan 2022. Dalam artikel yang juga diterbitkan Foreign Affairs, Fuchs menyebut perang Amerika terhadap Iran sebagai kegagalan dan bencana. Menurutnya, perang tersebut seharusnya menjadi alasan untuk mengakhiri kehadiran militer Amerika di kawasan.
Pemerintahan Trump dan para pendukungnya di Kongres selama ini berargumen bahwa kekuatan militer Amerika diperlukan untuk membendung Iran yang dianggap mengganggu stabilitas negara-negara tetangganya. Namun, perang tersebut justru memperlihatkan bahwa Washington tidak mampu melindungi mitra-mitranya di kawasan Teluk dari serangan Iran.
Baca juga: Pangkalan Rusak Diserang Iran, Pentagon Kaji Ulang Kehadiran Militer di Teluk
Persoalan itu menjadi semakin jelas di Selat Hormuz. Washington selama bertahun-tahun mengandalkan kehadiran militernya untuk menjamin kebebasan pelayaran di kawasan tersebut. Akan tetapi, perang dengan Iran justru berakhir dengan tertutupnya selat itu, sementara militer Amerika tidak mampu membukanya kembali dengan kekuatan.
Perang Iran Mengguncang Fondasi Keamanan Washington
Bagi Lynch, di situlah perang terhadap Iran memberikan pukulan paling berat terhadap tatanan keamanan yang dipimpin Amerika.
Negara-negara Arab di Teluk disebut marah karena Amerika Serikat dan Israel memulai perang tanpa berkonsultasi dengan mereka. Mereka kemudian harus menghadapi ancaman serangan Iran secara langsung, meskipun tidak terlibat dalam keputusan untuk memulai perang.
Sistem pertahanan Amerika memang berhasil mencegat sebagian serangan Iran. Namun, sejumlah rudal dan pesawat nirawak tetap mencapai sasaran dan merusak sejumlah fasilitas penting.
Kerusakan fisik tersebut bukan persoalan terbesar. Yang lebih mengkhawatirkan bagi negara-negara Teluk adalah kesimpulan bahwa Amerika tidak mampu memberikan jaminan keamanan secara penuh ketika mereka benar-benar membutuhkannya.
Penutupan Selat Hormuz memperbesar persoalan itu. Langkah Iran menempatkan Amerika dalam posisi sulit sekaligus membuat perekonomian negara-negara Arab di Teluk berada dalam risiko. Para pemimpin negara tersebut, menurut Lynch, terkejut oleh sikap Washington yang dinilai mengabaikan tuntutan mereka serta ketidakmampuan Amerika mengendalikan situasi.
Dari pengalaman tersebut, muncul kesimpulan yang selama ini sulit dibayangkan. Jaminan keamanan Amerika yang menjadi fondasi tatanan kawasan tidak lagi dipandang sepenuhnya dapat diandalkan.
Perubahan sikap itu mulai beriringan dengan pembicaraan di Washington mengenai masa depan kehadiran militer Amerika di Teluk.
Baca juga: Khibiny di Balik Su-35, Perisai Elektronik untuk Mengecoh Radar Lawan
Pentagon Mulai Menimbang Ulang Kehadiran di Teluk
The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon sedang mengevaluasi kembali jejak militernya di Timur Tengah, termasuk kemungkinan mengurangi pasukan di kawasan Teluk dan meninjau ulang pembangunan pangkalan-pangkalan Amerika yang rusak selama perang dengan Iran.
Delapan sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, termasuk sejumlah pejabat, mengatakan kepada The Washington Post bahwa perang dengan Iran berpotensi membawa perubahan mendasar terhadap kehadiran militer Amerika di kawasan.
Salah satu pilihan yang sedang dipertimbangkan adalah menarik sebagian pasukan dari Teluk. Sejumlah pangkalan besar Amerika di kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan pesawat nirawak Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Kerusakan itu kini menjadi bagian dari pertimbangan strategis Pentagon. The Washington Post menyebut Departemen Perang Amerika sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa sejumlah pangkalan mungkin tidak akan dibangun kembali dalam bentuk seperti sebelum perang.
Evaluasi tersebut dipimpin kantor kebijakan Pentagon. Menurut seorang pejabat senior, Kepala Staf Gabungan dan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM juga tengah mempelajari persoalan tersebut.
Michael Ratney, mantan diplomat Amerika Serikat, mengusulkan pemindahan pasukan dan peralatan ke wilayah yang lebih jauh ke barat, seperti Yordania, Israel atau pesisir Laut Merah Arab Saudi. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi kerentanan pangkalan Amerika terhadap serangan.
Namun, pemindahan itu bukan solusi sepenuhnya. Iran telah menunjukkan kemampuan menyerang sasaran yang berada jauh dari wilayahnya, termasuk di Yordania dan Israel.
Perang dengan Iran dengan demikian tidak hanya meninggalkan kerusakan pada pangkalan dan fasilitas militer. Perang tersebut juga mempertanyakan dasar dari kehadiran Amerika di Timur Tengah, yakni keyakinan bahwa Washington mampu menjamin keamanan sekutu dan mengendalikan jalur strategis kawasan. []
Baca juga: Iran Putus Jalur Pasokan USS Abraham Lincoln dari Bahrain







