Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Surat IRGC kepada Rakyat Amerika, dari Perang Iran hingga Masa Depan Hubungan Kedua Negara

Published

on

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menerbitkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat yang membahas perang, kebijakan Washington, Palestina, dan hubungan Iran-AS.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menerbitkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat yang membahas perang, kebijakan Washington, Palestina, dan hubungan Iran-AS.

Media ABI, 29 September 2026 — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menerbitkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat, khususnya ilmuwan, mahasiswa, dan kalangan media. Surat tersebut diterbitkan Sepahnews pada Selasa (29/9/2026) dan berisi penjelasan panjang mengenai perang Iran-Amerika Serikat, alasan yang menurut IRGC membuat Iran mampu bertahan, sejarah hubungan kedua negara, posisi IRGC, persoalan Palestina, hingga seruan kepada masyarakat Amerika untuk mengambil peran dalam menentukan arah kebijakan negaranya.

Surat itu dibuka dengan sejumlah pertanyaan mengenai hubungan Iran dan Amerika Serikat. IRGC mempertanyakan mengapa Iran dapat bertahan menghadapi kekuatan militer Amerika yang menurut surat tersebut memiliki anggaran pertahanan jauh lebih besar, mengapa masyarakat Iran meneriakkan slogan “Matilah Amerika”, apakah penetapan IRGC sebagai organisasi teroris benar, serta mengapa berbagai upaya Amerika untuk mengubah arah politik Iran disebut terus mengalami kegagalan.

IRGC juga mempertanyakan masa depan konflik dan bagaimana masyarakat Amerika dapat menghindari dampak perang. Untuk menguji sendiri berbagai pernyataan yang disampaikan dalam surat, masyarakat Amerika bahkan diajak berkunjung ke Iran dan melihat langsung sejumlah lokasi, termasuk Selat Hormuz.

Baca juga: IRGC Sebut Hormuz Jadi “Medan Perburuan” Drone Laut AS

Perang, korban dan sasaran Amerika

Menurut surat tersebut, perang terbaru dimulai tujuh bulan sebelumnya setelah Amerika Serikat menyerang Iran. IRGC menyebut serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Minab menewaskan 168 anak dan menyebut serangan terhadap kantor Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, juga mensyahidkan Ayatullah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya, termasuk cucunya yang berusia 14 bulan.

Surat itu menyebut lebih dari 3.600 orang di Iran telah gugur dalam perang tersebut, sebagian besar warga sipil, termasuk sekitar 400 anak. Delapan universitas, tiga rumah sakit, dan delapan sekolah juga disebut menjadi sasaran serangan. Seluruh angka dan uraian tersebut merupakan versi yang disampaikan IRGC dalam suratnya.

IRGC kemudian memaparkan tujuan perang. Dua sasaran awal yang disebut adalah perubahan pemerintahan Republik Islam dan pemecahan wilayah Iran. Setelah kedua tujuan tersebut, menurut surat itu, muncul 13 sasaran tambahan selama perang, mulai dari memaksa Iran menyerah tanpa syarat, menguasai Pulau Kharg dan minyak Iran, melakukan serangan darat, menghancurkan infrastruktur industri dan energi, menghancurkan industri nuklir serta kemampuan rudal dan drone, hingga menguasai Selat Hormuz dan mengakhiri dukungan Iran kepada kelompok perlawanan di kawasan.

Surat tersebut menyebut terdapat 15 sasaran yang dikemukakan Amerika dan Israel selama perang. IRGC menyatakan serangan besar-besaran memang menimbulkan kerusakan pada sebagian industri nuklir dan sejumlah fasilitas pertahanan udara Iran, tetapi tidak mencapai sasaran politik dan militer yang disebutkan dalam surat.

IRGC merinci hasil yang disebut sebagai kemenangan Iran

Surat tersebut tidak berhenti pada kegagalan sasaran perang. IRGC kemudian menyusun 12 hal yang disebut sebagai hasil strategis perang.

Dalam aspek militer, IRGC menyebut lebih dari 200 drone strategis, 12 pesawat tanker dan angkut, 30 pesawat tempur, sedikitnya satu pesawat AWACS, puluhan helikopter, puluhan sistem radar dan pertahanan udara, serta lebih dari 350 unit fasilitas dan infrastruktur pangkalan militer Amerika Serikat telah dihancurkan. Kemampuan operasional 18 pangkalan Amerika di kawasan, menurut surat itu, mendekati nol.

IRGC juga menyebut sejumlah dampak yang dianggap lebih strategis. Surat itu menyatakan perang justru memperkuat persatuan nasional Iran, memperbesar dukungan kepada jaringan perlawanan, meningkatkan produksi rudal dan drone, serta membuat pertahanan udara Iran semakin kuat selama berlangsungnya konflik.

IRGC juga menyatakan bahwa Iran memperoleh kendali operasional atas Selat Hormuz untuk pertama kalinya. Dalam narasi surat tersebut, armada Amerika dipaksa menjauh ke Samudra Hindia dan aktivitas pangkalan Armada Kelima Amerika di kawasan disebut mengalami tekanan besar.

Pada sisi sosial dan politik, surat itu menyebut perang telah memperkuat identitas nasional masyarakat Iran dan menggagalkan upaya yang selama puluhan tahun, menurut IRGC, diarahkan untuk memecah Iran. IRGC juga menyatakan posisi Iran di tengah masyarakat internasional semakin kuat dan perang tersebut meningkatkan kesadaran politik masyarakat di berbagai negara.

Salah satu bagian yang cukup panjang membahas sistem Velayat-e Faqih. IRGC menyatakan syahidnya Imam Ali Khamenei justru memperlihatkan daya tahan sistem tersebut. Surat itu mengaitkan penyelenggaraan pemerintahan setelah kesyahidan Imam Ali Khamenei dan respons masyarakat terhadapnya dengan argumen bahwa sistem kepemimpinan tersebut tetap berjalan tanpa gangguan besar.

Baca juga: IRGC: Netanyahu Terlalu Kecil untuk Mengancam Iran

Tiga faktor yang menjadi dasar kemenangan Iran

Menurut IRGC, keunggulan rudal dan drone bukan faktor utama yang menentukan hasil perang. Surat tersebut menyebut tiga unsur yang dianggap menjadi dasar ketahanan Iran, yaitu maktab atau pandangan dunia tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an, persatuan masyarakat di sekitar prinsip tersebut, serta kepemimpinan yang dianggap memenuhi kriteria tertentu.

Pada bagian tentang maktab, surat itu menjelaskan sejumlah prinsip yang menurut IRGC menjadi fondasi Revolusi Islam, antara lain kejujuran, kebebasan, kesetaraan manusia, keadilan sosial, penghormatan terhadap hak orang lain, kesadaran diri, serta mendahulukan nilai kemanusiaan dibanding kepentingan pribadi.

Ketahanan masyarakat kemudian dijelaskan melalui rujukan kepada tradisi Karbala. Imam Husain disebut sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, Ali al-Asghar sebagai gambaran pengorbanan, Abbas bin Ali sebagai contoh kesetiaan, dan Sayyidah Zainab sebagai teladan kesabaran serta keberanian dalam menghadapi kekuasaan yang zalim.

Sementara itu, kepemimpinan dijelaskan melalui sejumlah kriteria seperti pengetahuan, kebijaksanaan, keadilan, ketakwaan, keberanian, serta pemahaman terhadap perkembangan zaman. Surat tersebut kemudian menghubungkan kriteria itu dengan kepemimpinan Republik Islam Iran.

“Matilah Amerika” dan sejarah hubungan kedua negara

Salah satu pertanyaan yang secara khusus dijawab dalam surat adalah mengapa masyarakat Iran meneriakkan slogan “Matilah Amerika” jika permusuhan tersebut bukan ditujukan kepada rakyat Amerika.

IRGC menegaskan bahwa slogan tersebut, menurut penjelasannya, bukan ditujukan kepada rakyat Amerika Serikat. Sasaran slogan adalah pemerintah dan kebijakan Amerika yang dianggap bertanggung jawab atas tekanan terhadap Iran dan negara lain. Surat itu bahkan menggambarkan rakyat Iran dan rakyat Amerika sebagai pihak yang sama-sama menghadapi dampak kebijakan pemerintah Amerika.

Untuk menjelaskan sikap tersebut, IRGC menyertakan uraian sejarah yang panjang mengenai hubungan Iran-Amerika sejak 1953. Surat itu menyebut kudeta terhadap pemerintahan Mohammad Mosaddegh, dukungan Amerika kepada pemerintahan Shah, aktivitas SAVAK, Revolusi Islam 1979, konflik setelah revolusi, perang Iran-Irak, serangan terhadap kapal dan fasilitas minyak Iran, hingga jatuhnya pesawat Iran Air 655 yang menewaskan 290 orang.

Surat tersebut kemudian menyebut pembekuan aset Iran, sanksi ekonomi, operasi media dan perang informasi, konflik dengan kelompok bersenjata, perang melawan ISIS, serta pembunuhan Jenderal Qasim Soleimani dalam serangkaian peristiwa yang oleh IRGC ditempatkan sebagai bagian dari sejarah panjang tekanan Amerika terhadap Iran.

IRGC juga menyebut perang 12 hari pada Juni 2025 dan kerusuhan pada Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian konflik sebelum perang terbaru. Dalam surat tersebut, semua episode itu dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melemahkan atau mengganti sistem politik Iran.

Baca juga: 20 Tahun, IRGC Kembangkan Rudal Anti Kapal Induk AS

IRGC membantah label terorisme

Mengenai penetapan IRGC sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, surat tersebut mempertanyakan penggunaan istilah terorisme dan hak asasi manusia dalam politik internasional.

IRGC menggambarkan dirinya sebagai lembaga yang dibentuk setelah Revolusi Islam berdasarkan konstitusi Iran untuk menjaga hasil revolusi dan melindungi kemerdekaan serta kedaulatan negara. Surat tersebut menyatakan bahwa penetapan IRGC sebagai organisasi teroris berkaitan dengan perannya dalam menghadapi berbagai operasi, konflik, dan kelompok yang didukung Amerika Serikat dan Israel.

Surat itu juga menyebut IRGC sebagai institusi yang memiliki peran utama dalam menghadapi terorisme di kawasan.

Kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat

Setelah membahas hubungan bilateral, surat tersebut memperluas kritiknya kepada kebijakan Amerika Serikat di berbagai negara. IRGC menyebut Vietnam, Afghanistan, Irak, Yaman, Suriah, Palestina, serta sejumlah negara lain sebagai contoh keterlibatan militer atau politik Amerika yang menurut mereka menimbulkan kerugian besar.

Dalam uraian mengenai Afghanistan, surat tersebut menyoroti biaya perang, korban, penarikan pasukan Amerika, serta berakhirnya pemerintahan yang didukung Washington. Untuk Irak, surat itu menyoroti biaya perang, korban, keputusan politik mengenai keberadaan pasukan Amerika, dan perkembangan pangkalan militer Amerika di negara tersebut.

Kemudian menghubungkan perang luar negeri dengan kondisi ekonomi Amerika. IRGC menyebut meningkatnya utang, pengeluaran militer, ketimpangan sosial, kemiskinan, serta perubahan kebijakan perdagangan sebagai tanda bahwa sumber daya Amerika, menurut pandangan mereka, terlalu banyak digunakan untuk perang dan intervensi luar negeri.

Bagian lain mengkritik pemerintah Amerika terhadap persoalan-persoalan yang dianggap tidak utama, sementara inflasi, kesehatan, perumahan, dan persoalan ekonomi masyarakat disebut belum terselesaikan. Surat tersebut juga menggunakan perang Afghanistan dan Irak sebagai contoh bagaimana keputusan militer yang dianggap tidak strategis dapat menghabiskan sumber daya dalam jumlah besar.

Palestina dan isu nuklir

Palestina mendapat perhatian besar dalam surat tersebut. IRGC mengaitkan dukungan Amerika Serikat kepada Israel dengan konflik di Gaza dan menyebut angka korban, kerusakan rumah, sekolah, universitas, dan fasilitas kesehatan yang menurut surat tersebut terjadi selama perang.

Surat itu juga menyebut kematian Aaron Bushnell, anggota Angkatan Udara Amerika Serikat yang melakukan aksi bakar diri di depan Kedutaan Besar Israel di Washington pada 2024, sebagai contoh protes dari seorang warga Amerika terhadap kebijakan negaranya.

Mengenai program nuklir Iran, IRGC mempertanyakan alasan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun menyatakan Iran hanya berjarak beberapa bulan atau beberapa pekan dari kemampuan membuat senjata nuklir. Surat itu menghubungkan persoalan tersebut dengan kesepakatan nuklir 2015 dan mempertanyakan keputusan Washington untuk meninggalkan kesepakatan tersebut.

IRGC juga mempertanyakan mengapa kemampuan nuklir Iran terus dijadikan alasan untuk tindakan militer apabila sebelumnya pemerintah Amerika telah menyatakan bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan. Seluruh uraian tersebut disampaikan sebagai argumentasi IRGC dalam surat terbuka tersebut.

Seruan kepada rakyat Amerika

Pada bagian akhir, surat tersebut beralih dari uraian sejarah dan politik kepada seruan langsung kepada masyarakat Amerika. IRGC meminta warga Amerika menggunakan pengaruh politik mereka untuk mengubah arah kebijakan luar negeri Washington.

Surat tersebut menyinggung demonstrasi menentang perang, protes terhadap kebijakan pemerintah, serta keberatan dari mahasiswa dan akademisi terhadap keterlibatan penelitian mereka dalam program yang berkaitan dengan kepentingan militer.

IRGC kemudian mengusulkan sejumlah langkah, antara lain mengakhiri perang, menarik pasukan dari pangkalan militer di luar negeri, mengurangi dukungan kepada Israel, menghentikan operasi yang dianggap sebagai intervensi di negara lain, dan mengalihkan anggaran tersebut untuk penelitian, produksi, serta pelayanan publik. Surat itu menyebut angka sekitar 800 pangkalan militer Amerika di berbagai negara sebagai bagian dari argumentasinya.

Surat tersebut juga menggunakan prinsip yang dikenal luas dalam berbagai tradisi agama, yaitu agar seseorang tidak melakukan kepada orang lain sesuatu yang tidak ingin diterimanya sendiri. Prinsip itu kemudian digunakan IRGC untuk mengajak masyarakat Amerika membayangkan apabila kota, rumah, sekolah, dan fasilitas publik mereka mengalami kehancuran seperti yang digambarkan terjadi di Gaza, Lebanon, dan Minab.

Pada bagian yang berhubungan dengan politik domestik Amerika, IRGC menyerukan agar masyarakat menggunakan hak pilih mereka untuk menentukan pemimpin dan anggota Kongres yang sesuai dengan ukuran kepemimpinan yang mereka anggap benar. Ini merupakan seruan politik yang secara eksplisit ditujukan kepada pemilih Amerika dalam surat tersebut.

Baca juga: IRGC Tetapkan Syarat Buka Kembali Selat Hormuz

Peringatan mengenai kelanjutan perang

Menjelang penutup, IRGC memperingatkan bahwa kelanjutan perang dapat memperluas konflik dan memicu reaksi di berbagai wilayah. Surat itu mengutip peringatan pemimpin Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei.

IRGC menyatakan bahwa masyarakat Amerika merupakan pihak yang dapat mengubah arah tersebut. Surat itu menyerukan agar warga Amerika memisahkan diri dari kebijakan Israel dan pemerintah Washington, serta menyatakan bahwa Iran dan Amerika dapat hidup berdampingan secara damai.

Surat tersebut ditutup dengan seruan agar masyarakat Amerika menyerahkan urusan negara kepada orang-orang yang disebutnya sebagai pemikir, meninggalkan kebijakan yang dianggap sebagai bentuk dominasi terhadap negara lain, dan mengakui apa yang disebut IRGC sebagai perubahan zaman serta meningkatnya kehendak bangsa-bangsa.

Pada bagian paling akhir, IRGC kembali menegaskan komitmennya untuk melanjutkan perjuangan melawan apa yang disebutnya sebagai penindasan dan hegemoni. Surat itu juga memuat harapan keagamaan mengenai masa depan Palestina serta kedatangan kembali Nabi Isa dan Imam Mahdi, sebelum ditutup dengan harapan atas berakhirnya penindasan dan terciptanya perdamaian dunia. []

Baca juga: Dua Kapal AS, Delapan Tanker, dan 10 Kapal Pelanggar Jadi Sasaran IRGC