Ikuti Kami Di Medsos

Opini

“Kaum Sarungan” Mengubah Perhitungan Keamanan Arab Saudi

Published

on

Kesepakatan Mekah akan menjadi ujian baru bagi Arab Saudi jika perang Yaman kembali pecah.
Kesepakatan pertahanan Arab Saudi, Turki dan Pakistan di Mekah mencerminkan perubahan perhitungan Riyadh menghadapi Ansarullah dan kemungkinan kembalinya perang di Yaman.

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Kesepakatan pertahanan antara Arab Saudi, Turki dan Pakistan muncul ketika situasi keamanan Asia Barat kembali memanas dan konflik Yaman mulai menunjukkan tanda-tanda menuju konfrontasi baru. Dalam analisis yang diterbitkan Mehr News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026, Kesepakatan Mekah dipandang bukan hanya sebagai pakta pertahanan tiga negara, tetapi juga sebagai tanda perubahan perhitungan Riyadh setelah kemampuan Ansarullah semakin diperhitungkan dalam keamanan di sekitar Arab Saudi.

Kesepakatan tersebut lahir ketika Yaman kembali menjauh dari situasi “tidak perang dan tidak damai”. Dalam beberapa pekan terakhir, Ansarullah kembali menunjukkan kemampuan menyerang posisi dan kepentingan Arab Saudi serta memengaruhi keamanan Laut Merah. Serangan rudal dan pesawat nirawak menunjukkan bahwa bertahun-tahun perang dan gencatan senjata belum menghapus daya tangkal Ansarullah.

Baca juga: Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika

Bagi Riyadh, persoalannya bukan hanya bagaimana menghadapi sebuah kekuatan di medan perang. Ancaman yang lebih besar adalah kemungkinan wilayah dan infrastruktur Arab Saudi kembali menjadi sasaran dalam konflik berkepanjangan. Dalam konteks tersebut, Kesepakatan Mekah menunjukkan bahwa cara Riyadh menghitung ancaman dari Yaman mulai berubah.

Dari Krisis Yaman ke Pakta Pertahanan

Kesepakatan Mekah menyatakan serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiganya. Terlepas dari bagaimana ketentuan tersebut diterapkan, klausul itu membawa pesan politik dan keamanan yang jelas. Arab Saudi tidak ingin menghadapi krisis militer baru seorang diri.

Pengalaman perang sebelumnya menunjukkan bahwa keunggulan militer konvensional Saudi tidak cukup untuk menghilangkan ancaman Ansarullah. Riyadh memiliki persenjataan dan kemampuan militer yang besar, tetapi Ansarullah mampu menggunakan rudal dan pesawat nirawak untuk membebankan biaya keamanan dan ekonomi yang tidak sebanding.

Karena itu, perubahan sikap Riyadh tidak dapat dilepaskan dari pengalaman tersebut. Arab Saudi membutuhkan cara untuk mencegah konflik Yaman kembali berubah menjadi perang yang menguras sumber daya sekaligus mengancam wilayahnya sendiri.

Nasser Taha Mustafa, jurnalis dan mantan Menteri Informasi Yaman, membahas Kesepakatan Mekah dalam kaitannya dengan perkembangan terbaru Yaman melalui analisis yang diterbitkan Al Jazeera.

Menurut Mustafa, waktu dan tempat penandatanganan kesepakatan juga memiliki makna. Pemilihan Mekah dan hari Jumat memberikan bobot simbolis dan politik tersendiri, sekaligus mempertemukan tiga negara yang masing-masing memiliki pengaruh besar di dunia Islam dan struktur kekuatan internasional.

Baca juga: Haaretz: Waktu Berpihak kepada Iran, Trump seperti Petinju Buta

Namun, arti penting kesepakatan tersebut tidak berhenti pada simbol. Pakta itu lahir ketika krisis Yaman kembali meningkat dan serangan Ansarullah terhadap sasaran Saudi serta sejumlah wilayah yang dikuasai pemerintah Yaman bertambah.

Serangan terhadap wilayah dan infrastruktur penting seperti Marib dan Mokha turut meningkatkan kekhawatiran bahwa kondisi rapuh yang selama ini bertahan mulai berakhir.

Gencatan Senjata 2022 di Titik Rawan

Selama sekitar empat tahun dalam kondisi yang relatif tenang, Ansarullah tetap mempertahankan kemampuan militer dan politiknya. Kini, kemampuan tersebut kembali terlihat melalui tekanan terhadap Arab Saudi dan ancaman terhadap jalur pelayaran di Laut Merah.

Situasi ini memperlihatkan paradoks utama krisis Yaman. Perang besar tidak berlangsung, tetapi perdamaian yang stabil juga belum terwujud. Kondisi “tidak perang dan tidak damai” memang menurunkan intensitas pertempuran dalam periode tertentu, tetapi tidak menghilangkan akar konflik.

Meningkatnya serangan kini memunculkan pertanyaan apakah gencatan senjata 2022 secara de facto mulai kehilangan pijakannya.

Perhitungan Ansarullah juga tidak terbatas pada perkembangan internal Yaman. Gerakan tersebut beroperasi dalam konteks kawasan yang lebih luas. Perkembangan Iran, situasi Laut Merah dan persaingan keamanan regional dapat memengaruhi keputusan Ansarullah.

Karena itu, Riyadh tidak lagi dapat melihat persoalan Yaman secara terpisah dari lingkungan keamanan yang lebih luas di sekitarnya.

Riyadh Mencari Jaringan Keamanan Baru

Perubahan perhitungan tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya Arab Saudi memperluas hubungan keamanan dengan berbagai kekuatan. Dalam beberapa tahun terakhir, Riyadh secara bertahap berusaha mengurangi ketergantungan penuh pada jaminan keamanan negara-negara Barat dan memperluas kerja sama dengan berbagai aktor.

Kerja sama dengan Turki dan Pakistan dapat ditempatkan dalam kerangka tersebut. Bagi Riyadh, membangun jaringan keamanan yang lebih beragam berarti tidak bergantung pada satu kekuatan asing untuk menghadapi ancaman.

Baca juga: Analis: Perang Iran Bisa Jadi Kegagalan Terbesar AS

Kesepakatan Mekah dengan demikian dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, sebagai respons terhadap ancaman yang dianggap mendesak dari arah Yaman. Kedua, sebagai bagian dari upaya Saudi membangun arsitektur keamanan yang lebih beragam di kawasan.

Jika perang kembali pecah di Yaman, pertanyaan penting berikutnya adalah apakah komitmen pertahanan Mekah benar-benar akan digunakan ketika Ansarullah menyerang. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi ujian bagi kredibilitas pakta tersebut.

Jika kesepakatan itu hanya berhenti sebagai pernyataan politik, daya tangkalnya akan terbatas. Sebaliknya, jika Ansarullah menilai serangan terhadap Arab Saudi dapat memicu respons terkoordinasi dari ketiga negara, perhitungan keamanan kawasan dapat berubah.

Aliansi Baru dan Bobot Ansarullah

Pembentukan aliansi baru juga tidak otomatis berarti posisi Ansarullah melemah. Sebaliknya, kemunculan pengaturan semacam itu dapat dibaca sebagai tanda bahwa bobot Ansarullah dalam kalkulasi keamanan regional semakin diperhitungkan.

Ketika sebuah aktor nonnegara mampu mendorong kekuatan seperti Arab Saudi membentuk pakta pertahanan bersama dua negara dengan pengaruh regional dan internasional, perannya dalam dinamika keamanan kawasan sulit diabaikan.

Dari sudut pandang tersebut, Kesepakatan Mekah bukan hanya respons terhadap kekuatan Ansarullah. Kesepakatan itu juga menjadi pengakuan praktis bahwa lingkungan keamanan di sekitar Arab Saudi telah berubah.

Yaman kini berada pada titik yang sensitif. Jika konflik kembali meluas, Riyadh akan menghadapi dua pilihan sulit. Arab Saudi dapat kembali terlibat dalam perang yang mahal atau menerima kenyataan bahwa Ansarullah merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan dan mencari kesepakatan politik yang selama ini sulit diwujudkan.

Baca juga: Yaman Hantam Delapan Tanker Saudi sejak Sanksi Maritim Diberlakukan

Pada akhirnya, persoalan Yaman tidak lagi berhenti sebagai konflik domestik atau persaingan bilateral antara Arab Saudi dan Ansarullah. Perkembangannya telah menjadi bagian dari persaingan yang lebih luas untuk menentukan tatanan keamanan baru di Asia Barat.

Jika perang kembali pecah, Kesepakatan Mekah akan menghadapi ujian pertamanya. Saat itu akan terlihat apakah pakta tersebut benar-benar mampu mengubah kalkulasi para aktor kawasan atau hanya menjadi pernyataan politik untuk menunjukkan solidaritas.

Satu perubahan kini terlihat jelas. Kekuatan “Kaum Sarungan” telah menjadi bagian penting dalam kalkulasi keamanan Arab Saudi. Respons Riyadh melalui kesepakatan dengan Turki dan Pakistan menunjukkan bahwa kemungkinan kembalinya perang di Yaman mendorong Saudi memperluas jaringan pertahanannya, daripada kembali menghadapi ancaman tersebut seorang diri. []

Baca juga: Serangan Drone Yaman Sasar Kilang Aramco di Jizan, Arab Saudi

Continue Reading