Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Haaretz: Waktu Berpihak kepada Iran, Trump seperti Petinju Buta

Published

on

rump menyebut situasi Iran berjalan sangat baik dan menegaskan AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump dinilai Haaretz kehilangan arah dalam menghadapi Iran, sementara Teheran terus memanfaatkan waktu untuk memperkuat posisinya.

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Waktu dinilai semakin menguntungkan Iran dalam perang dengan Amerika Serikat. Surat kabar berbahasa Ibrani Haaretz menilai Presiden AS Donald Trump belum menemukan jalan keluar yang jelas dan menggambarkan posisinya seperti seorang petinju yang kehilangan arah.

Analisis tersebut muncul pada hari ke-173 perang, bersamaan dengan pengakuan lembaga kajian JCFA mengenai kecerdikan Iran dalam mengubah susunan Dewan Keamanan Nasional. Haaretz pada saat yang sama mengakui bahwa perjalanan waktu justru semakin menguntungkan Teheran. Kedua penilaian tersebut menunjukkan perubahan dalam narasi pihak lawan mengenai posisi Iran di tengah konflik.

Baca juga: Analis: Perang Iran Bisa Jadi Kegagalan Terbesar AS

Menurut laporan Kayhan pada Kamis, 20 Agustus 2026, analis senior Haaretz Zvi Bar’el menulis bahwa Trump membutuhkan waktu untuk menentukan langkah berikutnya. Persoalannya, waktu yang dibutuhkan Washington justru terus dimanfaatkan Iran untuk memperkuat posisinya.

Haaretz menyebut periode 60 hari yang disepakati dalam perundingan di Islamabad untuk mencapai gencatan senjata telah berakhir. Namun, selama periode tersebut tidak pernah benar-benar terjadi gencatan senjata. Iran tetap mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dan menyerang pangkalan Amerika Serikat sebagai respons terhadap serangan Washington.

Di Laut Merah, perlawanan Yaman juga disebut terus melakukan blokade dan menyerang kapal-kapal yang diduga membawa muatan dari Arab Saudi. Haaretz bahkan menyebut kelompok tersebut telah mengepung Pelabuhan Mokha, yang berada di dekat Selat Bab al-Mandab.

Dari sudut pandang Iran, Haaretz menulis, kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari tidak lagi dapat diberlakukan setelah Amerika Serikat melanggarnya dan tidak melanjutkan perundingan selama beberapa pekan. Dalam situasi tersebut, Trump dinilai tidak memiliki solusi nyata dan tampak seperti petinju yang kehilangan arah.

Baca juga: Iran dan Prancis Saling Usir Diplomat

Sejumlah pernyataan Trump, menurut Haaretz, semakin memperkuat kesan tersebut. Trump pernah mengancam akan membom Oman jika Muscat ikut campur dalam perundingan Iran dan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan sedang mempersiapkan langkah untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika, sekaligus menyebut tahap berikutnya dalam konflik dengan Iran sebagai perang ekonomi.

Namun, berbagai skenario perang baru yang ramai diberitakan media internasional belum tentu merupakan langkah yang benar-benar akan ditempuh Trump. Presiden AS tersebut mengatakan dirinya tidak terburu-buru. Haaretz mencatat bahwa pernyataan semacam itu bukan pertama kali disampaikan Trump dan kemungkinan bukan pula yang terakhir.

Haaretz juga mengingatkan bahwa warga Amerika sebelumnya telah bersiap menghadapi kenaikan harga bahan bakar. Meski demikian, bentuk dan arah perang ekonomi yang disebut mengerikan tersebut masih belum jelas.

Dalam analisis Haaretz, Trump menjadikan waktu sebagai instrumen strategis yang diyakini dapat menentukan hasil perang. Trump diasumsikan berpandangan bahwa daya tahan ekonomi Iran lebih terbatas dibandingkan Amerika Serikat dan perekonomian global. Pada saat yang sama, Trump tampaknya menganggap kendali atas waktu masih berada di tangannya.

Baca juga: Analis Israel: Trump Kini Tahu Sulitnya Mengakhiri Perang dengan Iran

Ancaman Trump terhadap Oman juga dinilai berkaitan dengan kekhawatiran bahwa Iran dan Oman dapat mencapai kesepakatan maritim yang memberikan keuntungan kepada Teheran di luar rancangan Trump.

Kekhawatiran Washington, menurut Haaretz, akan semakin besar jika kesepakatan tersebut mendapat dukungan negara-negara Teluk lainnya. Kesepakatan itu dapat menjadi alat tekanan terhadap Trump untuk memberikan konsesi yang diminta Iran sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menurut laporan Kayhan yang mengutip artikel tersebut, Iran pada saat yang sama tampak tidak terpengaruh oleh pemerintahan Trump. Teheran terus memanfaatkan waktu untuk memperkuat posisinya sekaligus memperkokoh dukungan terhadap para sekutunya. []

Baca juga: Pangkalan Rusak Diserang Iran, Pentagon Kaji Ulang Kehadiran Militer di Teluk