Opini
Belati Washington di Belakang Kairo

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Washington dan Addis Ababa mempererat kerja sama pertahanan ketika Mesir masih berhadapan dengan Ethiopia dalam sengketa Bendungan Renaissance. Bagi Kairo, perkembangan ini membuka persoalan baru yang tidak berhenti pada hubungan bilateral Amerika Serikat dan Ethiopia, tetapi merambah keamanan Laut Merah dan persaingan pengaruh di Tanduk Afrika.
Kerja Sama Militer Washington dan Addis Ababa
Fars News Agency melaporkan pada Rabu (26/8/26), pembicaraan pertahanan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Ethiopia berlangsung selama dua hari di Washington. Dalam pertemuan tersebut, delegasi Ethiopia bertemu dengan pejabat Departemen Pertahanan AS untuk membahas perluasan koordinasi militer dan pertukaran pengalaman.
Menurut Kementerian Luar Negeri Ethiopia, pembicaraan tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan, memenuhi kepentingan bersama, serta mendukung perdamaian dan stabilitas di Tanduk Afrika.
Baca juga: Yaman Peringatkan Saudi dan Sekutu, Perimbangan Perang Telah Berubah
Pertemuan itu melanjutkan kesepakatan yang telah ditandatangani Washington dan Addis Ababa pada Mei lalu. Kesepakatan tersebut mencakup pertahanan, keamanan, perdagangan, dan investasi. Kedua pihak juga menyatakan komitmen untuk mempercepat pelaksanaan kerja sama sebagai bagian dari pengembangan hubungan strategis mereka.
Namun, kerja sama tersebut belum dapat disebut sebagai pakta pertahanan bersama. Menurut Faras Hassan, jurnalis i24NEWS di Tepi Barat, pembicaraan yang berlangsung pada 19 dan 20 Agustus lebih berfokus pada kerja sama militer dan keamanan, pertukaran pengalaman, koordinasi persoalan keamanan regional, serta dukungan terhadap institusi militer.
Informasi yang tersedia belum menunjukkan adanya komitmen pertahanan bersama antara Washington dan Addis Ababa. Kesepakatan tersebut juga belum disertai indikasi langsung bahwa Amerika Serikat mengubah sikapnya dalam sengketa Bendungan Renaissance atau mendukung upaya Ethiopia memperoleh akses pelabuhan.
Bagi Washington, pendekatan terhadap Ethiopia memiliki kepentingan yang lebih luas. Meski tidak memiliki garis pantai, Ethiopia berada di kawasan strategis Tanduk Afrika dan dekat dengan jalur serta pelabuhan penting di Laut Merah. Posisi tersebut semakin bernilai di tengah persaingan pengaruh Amerika Serikat, China, dan Rusia di Afrika.
Hubungan Washington dan Addis Ababa juga memasuki fase pemulihan setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan, terutama akibat perang Tigray dan kritik Amerika Serikat terhadap catatan hak asasi manusia Ethiopia.
Kairo Menghitung Risiko di Laut Merah
Bagi Mesir, kedekatan Washington dan Addis Ababa muncul ketika sengketa mengenai Bendungan Renaissance belum menemukan penyelesaian. Amerika Serikat sebelumnya menyatakan kesediaannya menjadi mediator, sementara perbedaan Kairo dan Addis Ababa mengenai pengelolaan serta pengoperasian bendungan masih berlangsung.
Kairo khawatir meningkatnya dukungan Amerika Serikat terhadap Ethiopia dapat memperkuat posisi tawar Addis Ababa bukan hanya dalam persoalan air, tetapi juga dalam upayanya memperoleh akses pelabuhan dan memperbesar kehadiran di Laut Merah.
Baca juga: AS Panik Krisis Energi Global Makin Memburuk
Ethiopia selama bertahun-tahun berupaya mendapatkan akses ke pelabuhan di Laut Merah, antara lain melalui pembicaraan dengan Somaliland atau kemungkinan kesepakatan dengan Eritrea. Mesir menilai perluasan kehadiran Ethiopia di kawasan tersebut dapat meningkatkan pengaruh Addis Ababa dan mengubah keseimbangan kekuatan di Tanduk Afrika.
Sejumlah pengamat di Mesir menilai penguatan kerja sama keamanan Amerika Serikat dan Ethiopia berpotensi memberikan keuntungan politik dan militer bagi Addis Ababa. Ada pula kekhawatiran bahwa kerja sama tersebut dapat mendukung pemulihan kemampuan militer Ethiopia setelah perang Tigray dan pada akhirnya memengaruhi posisi negara tersebut dalam perundingan Bendungan Renaissance serta langkahnya di Laut Merah.
Namun, kekhawatiran tersebut belum menjadi fakta yang terkonfirmasi. i24NEWS melaporkan belum terdapat indikasi langsung bahwa kesepakatan pertahanan Amerika Serikat dan Ethiopia telah mengubah kebijakan Washington mengenai Bendungan Renaissance atau memberikan dukungan terhadap upaya Ethiopia memperoleh pelabuhan.
Bagi Kairo, persoalan utamanya terletak pada konsekuensi strategis yang mungkin muncul apabila kerja sama tersebut berkembang lebih jauh. Tanduk Afrika dan Laut Merah semakin menjadi arena persaingan internasional, sementara kawasan tersebut memiliki hubungan langsung dengan kepentingan keamanan dan ekonomi Mesir.
Mesir Tak Ingin Bergantung pada Washington
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Mesir Hossam Issa menilai kerja sama pertahanan Amerika Serikat dan Ethiopia menunjukkan keinginan Addis Ababa memperluas pengaruh regional melalui hubungan dengan kekuatan besar. Namun, menurutnya, kedekatan militer tidak otomatis berarti Washington menerima seluruh posisi Ethiopia dalam persoalan yang disengketakan dengan Mesir.
Issa menekankan bahwa persoalan air memiliki karakter berbeda dari kerja sama militer. Dalam sengketa Bendungan Renaissance, Amerika Serikat tetap harus memperhitungkan hukum internasional serta kepentingan negara-negara yang terdampak.
Baca juga: Tuan Bessent, Ini Kemenangan atau Pengakuan Kekalahan AS?
Menurut Issa, perhatian utama Kairo bukan semata-mata kesepakatan tersebut, melainkan konsekuensi yang mungkin muncul pada masa mendatang. Jika kerja sama militer meluas ke bidang yang memberi Ethiopia kemampuan baru untuk bergerak di Laut Merah, dampaknya terhadap kepentingan Mesir dapat menjadi lebih besar.
Karena itu, Issa mendorong Kairo memantau pelaksanaan konkret kesepakatan Washington dan Addis Ababa serta tidak menggantungkan keamanan regional pada satu kekuatan asing. Mesir, menurutnya, perlu memanfaatkan jaringan hubungan diplomatik yang luas untuk menjaga kepentingannya di Laut Merah dan Tanduk Afrika.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Mesir Muhammad Hegazy juga menempatkan hubungan Amerika Serikat dan Ethiopia dalam konteks persaingan yang lebih luas di Tanduk Afrika. Dalam wawancara dengan Al Araby Al Jadeed, Hegazy mengatakan Washington sedang berupaya mempertahankan pengaruhnya di kawasan yang memiliki kepentingan strategis bagi keamanan, energi, dan pelayaran.
Hegazy menilai kerja sama militer tersebut belum otomatis mengubah keseimbangan regional untuk keuntungan Ethiopia. Menurutnya, arti sebuah kesepakatan pertahanan harus dilihat dari komitmen dan kemampuan nyata yang menyertainya, bukan hanya bahasa politik dalam pernyataan resmi.
Hegazy juga memperingatkan agar hubungan keamanan tidak digunakan untuk mendukung tindakan sepihak yang dapat mengganggu stabilitas kawasan. Mesir, menurutnya, masih memiliki instrumen politik, diplomatik, dan hubungan internasional untuk menghadapi perkembangan baru.
Baca juga: Iran: Sanksi Barat Dorong Produksi Senjata dan Industri Pertahanan
Somalia Menjadi Bagian dari Perhitungan
Somalia ikut masuk dalam perhitungan Kairo karena posisinya di Teluk Aden dan pintu masuk Laut Merah. Ethiopia berusaha memperluas pengaruhnya melalui persoalan Somaliland, sementara Mesir memperkuat kerja sama militer dengan Mogadishu dan mendukung keutuhan wilayah Somalia.
Langkah Kairo tidak hanya berkaitan dengan persaingan dengan Ethiopia. Mesir juga berkepentingan menjaga keamanan pelayaran internasional dan Terusan Suez serta mencegah munculnya kekosongan keamanan yang dapat dimanfaatkan kelompok bersenjata.
Mesir menempatkan pemberantasan terorisme dan dukungan terhadap misi AUSSOM milik Uni Afrika sebagai bagian dari upaya mengisi celah keamanan yang ditimbulkan ancaman Al-Shabaab.
Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dalam kontak terbaru dengan mitranya dari Somalia menegaskan penolakan Kairo terhadap “setiap tindakan sepihak” yang dapat mengganggu keutuhan wilayah Somalia.
Pernyataan tersebut muncul ketika persoalan keutuhan Somalia semakin terkait dengan persaingan mengenai pelabuhan, jalur pelayaran, dan pengaruh militer di kawasan.
Menurut sejumlah pengamat, sikap Mesir tersebut mencerminkan tiga kepentingan yang berjalan bersamaan, yaitu mempertahankan keutuhan Somalia, mencegah kekosongan keamanan, serta memastikan kehadiran Mesir dalam pengaturan keamanan yang berkaitan dengan Laut Merah dan Terusan Suez.
Dalam situasi tersebut, kedekatan Washington dan Addis Ababa menambahkan satu variabel baru bagi Kairo. Mesir tidak hanya harus memperhitungkan sengketa bendungan dan hubungan langsung dengan Ethiopia, tetapi juga perubahan hubungan kekuatan besar di kawasan yang bersinggungan langsung dengan kepentingan strategisnya. []
Baca juga: Setahun Usai Perang 12 Hari, Produksi Senjata Iran Naik Dua Kali Lipat







