Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Dari Air Force One ke Truk Makanan, Gambaran Pahit Perang Trump dengan Iran

Published

on

Presiden AS Donald Trump menjadi sasaran sindiran Philadelphia Inquirer setelah keberangkatannya secara diam-diam dari Turki di tengah perang berkepanjangan dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump menjadi sasaran sindiran Philadelphia Inquirer setelah keberangkatannya secara diam-diam dari Turki di tengah perang berkepanjangan dengan Iran.

Media ABI, 15 Agustus 2026 — Presiden Donald Trump menjadi sasaran sindiran tajam The Philadelphia Inquirer setelah surat kabar Amerika Serikat itu menyoroti cara Trump meninggalkan Turki secara diam-diam di tengah perang yang terus berlarut dengan Iran.

Dalam editorial berjudul Trump would escape his endless war with Iran in a food truck if he could yang terbit pada 14 Agustus 2026, Dewan Editorial The Philadelphia Inquirer menggambarkan Trump sebagai presiden yang ingin keluar dari perang yang semakin sulit dikendalikan. Namun, persoalannya bukan hanya bagaimana Trump keluar dari konflik, melainkan juga bagaimana Amerika Serikat menghadapi akibat yang ditinggalkannya.

Surat kabar itu mengungkap bahwa keberangkatan Trump dari Turki pada bulan sebelumnya berlangsung jauh dari gambaran perjalanan seorang presiden Amerika. Ketika publik mengira Trump berpindah dari pesawat mewah pemberian Qatar menuju Air Force One, Trump ternyata menggunakan pesawat ketiga untuk meninggalkan Turki.

Baca juga: Komandan AL IRGC: Realitas Ada di Lapangan, Bukan Pernyataan Trump

Perpindahan itu dilakukan secara rahasia karena pejabat militer dan keamanan AS khawatir terhadap ancaman pembunuhan yang dikaitkan dengan Iran. Trump dipindahkan dari pesawat resmi dan dibawa melalui sebuah kontainer katering menuju pesawat C-32A milik Angkatan Udara AS.

Bahkan para wartawan Amerika yang berada di lokasi, menurut editorial tersebut, tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa disadari, keberadaan mereka justru membantu menjadi semacam perisai bagi presiden.

“Pelarian Trump yang tidak terlalu gagah berani merupakan metafora yang tepat untuk perangnya sendiri yang menghancurkan diri melawan Iran,” tulis Dewan Editorial The Philadelphia Inquirer.

Gambaran itu kemudian digunakan untuk membaca perubahan sikap Trump selama perang. Presiden AS yang sebelumnya mengeluarkan perintah serangan udara, melontarkan ancaman dan membuka jalur diplomasi dengan Iran kini dinilai semakin menunjukkan keengganan terhadap perang yang sebelumnya didorong pemerintahannya sendiri.

Trump dan permainan catur dengan Iran

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan strateginya adalah membeli waktu dan membiarkan tekanan ekonomi bekerja terhadap Iran. Dia menggambarkan pendekatan itu sebagai permainan catur.

Bagi The Philadelphia Inquirer, persoalannya adalah Iran bukan pemain baru dalam menghadapi tekanan ekonomi. Teheran telah menjalani tekanan semacam itu selama puluhan tahun.

Surat kabar tersebut juga mengaitkan sikap Trump dengan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi perang. Pekan sebelumnya, Iran mengajukan sejumlah persyaratan tambahan kepada Washington sebelum membuka Selat Hormuz. Tuntutan itu kemudian ikut mendorong kenaikan harga minyak. Selat Hormuz menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sebuah jalur pelayaran.

Menurut editorial tersebut, upaya merebut selat melalui operasi darat akan membuat perang yang sudah menelan puluhan miliar dolar dan ribuan nyawa menjadi jauh lebih mahal. Pilihan semacam itu juga dinilai sulit dipertahankan secara politik. Untuk sementara, Washington harus menghadapi kenyataan bahwa Iran tetap menguasai jalur strategis tersebut.

Perubahan itu juga mulai diterima negara-negara di kawasan. Kondisi tersebut, menurut The Philadelphia Inquirer, menunjukkan kemunduran dibandingkan situasi sebelum perang kedua Trump dengan Iran, ketika sekitar seperlima pasokan minyak dunia dapat melewati Selat Hormuz secara normal.

Baca juga: IRGC Pamerkan Bangkai Drone dan F-15 AS, Bukti Keberhasilan Pertahanan Udara Iran

Sasaran perang yang belum tercapai

Alasan utama yang dikemukakan Trump untuk memulai perang adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran belum menghapus seluruh persoalan itu. Iran masih memiliki persediaan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar, menurut editorial tersebut.

Begitu pula dengan sasaran lain yang berulang kali dikemukakan Washington, yakni melemahkan kemampuan militer Iran dan memutus dukungannya terhadap kelompok perlawanan di kawasan.

Target itu, menurut The Philadelphia Inquirer, juga belum tercapai.

Sebaliknya, Iran dan kelompok perlawanan di kawasan dalam beberapa waktu terakhir mampu memberikan tekanan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, pangkalan Amerika Serikat dan sekutunya, bahkan terhadap Trump sendiri.

Karena itu, gambaran Trump yang meninggalkan Turki secara diam-diam menjadi bagian penting dari sindiran editorial tersebut. Seorang presiden Amerika Serikat yang harus dipindahkan secara rahasia melalui kontainer katering sebelum diterbangkan dengan pesawat lain, menurut Dewan Editorial The Philadelphia Inquirer, sulit dijadikan gambaran tentang kemenangan atas Iran.

Editorial itu pada akhirnya menyerukan agar pemerintah Amerika Serikat mengakhiri perang secepat mungkin demi menjauhkan pasukan AS dan Trump dari risiko yang semakin besar.

Namun, perang tidak berhenti meninggalkan jejak ketika tembakan terakhir berhenti. Dampak keamanan dan ekonominya, menurut The Philadelphia Inquirer, akan terus dirasakan Amerika Serikat dan dunia dalam waktu yang jauh lebih panjang. []

Baca juga: Krisis USS Abraham Lincoln, Harga Perang Berkepanjangan AS terhadap Iran