Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kanada Tak Pernah Teriak “Mampus Amerika”, Tetap Ditekan Washington

Published

on

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menghadapi tekanan tarif dan ancaman aneksasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menghadapi tekanan tarif dan ancaman aneksasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Kanada selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat. Namun hubungan itu tidak membuat Ottawa terbebas dari tekanan Washington. Ancaman tarif, wacana menjadikan Kanada negara bagian ke-51, hingga ejekan dari pejabat Amerika Serikat kini mewarnai hubungan kedua negara.

Kantor Berita Fars News menyoroti perkembangan tersebut dalam analisis yang diterbitkan pada Rabu (26/8/26). Analisis itu mengulas posisi Kanada setelah Perdana Menteri Mark Carney menyebut tarif Amerika Serikat sebagai bentuk “perang” terhadap negaranya.

Baca juga: Qatar: Dampak Perang terhadap Iran Jadi Bencana bagi Dunia

Respons Washington justru bernada merendahkan. Menteri Transportasi Amerika Serikat Sean Duffy menyebut anggapan Kanada dapat menghadapi Donald Trump sebagai sesuatu yang “bodoh”.

Tekanan tersebut datang kepada negara yang selama bertahun-tahun berdiri dekat dengan Washington, termasuk dalam sejumlah kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran. Namun sejak Trump kembali ke Gedung Putih, Kanada justru menghadapi ancaman tarif sekaligus wacana berulang mengenai kemungkinan penggabungan negara itu ke dalam Amerika Serikat.

“Amerika Telah Menyerang Kami”

Ketegangan terbaru berawal dari ancaman Washington mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap barang-barang Kanada. Perundingan antara kedua negara kemudian digelar, tetapi tidak menghasilkan kesepakatan.

Carney mengatakan tuntutan Amerika Serikat terlalu besar dibandingkan konsesi yang ditawarkan. Menurutnya, permintaan yang diajukan Washington pada tahap akhir perundingan turut membuat pembicaraan menemui jalan buntu.

“Amerika telah menyerang Kanada dengan tarifnya. Ini adalah bentuk perang,” kata Carney.

Pernyataan tersebut cukup mencolok mengingat Kanada selama puluhan tahun menjalankan kebijakan luar negeri yang sangat dekat dengan Washington. Namun kedekatan itu tidak menghalangi pemerintahan Trump menggunakan tekanan ekonomi terhadap Ottawa ketika kepentingan Amerika Serikat dipandang terancam.

Baca juga: IRGC: Israel Tak Punya Kapasitas untuk Berperang dengan Iran

Doug Ford, Perdana Menteri Ontario, menggambarkan pendekatan Trump dengan perumpamaan yang tidak kalah tajam.

“Trump adalah tipe orang yang pada hari pertama mencuri uang makan siang Anda, hari kedua mengambil topi dari kepala Anda, dan hari ketiga mencuri sepatu olahraga Anda,” ujar Ford.

Kanada dan Bayang-Bayang Negara Bagian ke-51

Tekanan ekonomi bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi Ottawa. Trump berulang kali melontarkan gagasan agar Kanada menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Dalam salah satu pernyataan terbarunya, Trump bahkan mengklaim rakyat Kanada menginginkan bergabung dengan Amerika Serikat.

Analis Inggris Tom Walker menilai sikap tersebut mencerminkan hubungan yang timpang antara Washington dan sejumlah sekutunya. Menurutnya, Trump cenderung melabeli negara yang menolak tuntutannya sebagai pihak yang lemah atau pengecut.

“Seolah-olah kita harus bersyukur bahwa Kanada belum dijadikan negara bagian ke-51,” ujar Walker.

Bagi Fars News, persoalan Kanada memperlihatkan konsekuensi dari ketergantungan yang terlalu besar kepada Washington. Negara yang selama puluhan tahun menjadi sekutu Amerika Serikat tetap dapat menghadapi ancaman ekonomi dan politik ketika kepentingannya tidak lagi sejalan dengan kebijakan Gedung Putih.

Baca juga: Baqaei: Kanada Tim Cadangan AS dalam Perang Melawan Iran

Dari Venezuela hingga Kanada

Fars News kemudian membandingkan Kanada dengan Venezuela. Kedua negara berada di sisi berbeda dari Amerika Serikat, tetapi sama-sama menghadapi tekanan Washington.

Venezuela tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat meskipun pemerintahan Hugo Chavez dan Nicolas Maduro menjalankan kebijakan yang berseberangan dengan kepentingan Washington. Kanada memiliki sejarah yang berbeda. Negara tersebut bahkan terlibat bersama Amerika Serikat dalam berbagai konflik, termasuk Perang Dunia II, Irak dan Afghanistan, serta mendukung kebijakan sanksi terhadap Iran.

Namun kedekatan tersebut tidak membuat Kanada kebal terhadap tekanan. Menurut analisis Fars News, Ottawa kini menghadapi konsekuensi dari ketergantungannya kepada Washington meskipun tidak pernah menjadikan permusuhan terhadap Amerika Serikat sebagai slogan politik.

Venezuela disebut sebagai salah satu sasaran awal pendekatan Amerika Serikat yang kembali mengandalkan kekuatan militer. Menurut Fars News, tekanan terhadap Caracas juga dimaksudkan sebagai pesan bagi negara lain seperti Iran, Kuba dan Greenland.

Situasi di sekitar Selat Hormuz kemudian menjadi bagian lain dari analisis tersebut. Fars News mengaitkan keteguhan Iran dan kemampuan militernya menghadapi tekanan Amerika Serikat dengan tertahannya kapal-kapal induk Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Baca juga: Keterlibatan Kanada dalam Perang terhadap Iran Mulai Terindikasi

Kanada berada dalam posisi berbeda. Negara itu mengandalkan hubungan pertahanan yang erat dengan Amerika Serikat tanpa membangun kekuatan militer yang sebanding. Ketika hubungan politik memburuk, ketergantungan tersebut justru menjadi titik lemah.

Kini Ottawa tidak hanya menghadapi ancaman tarif, tetapi juga pernyataan berulang mengenai kemungkinan aneksasi. Bahkan ketika perdana menterinya menyebut kebijakan tarif Amerika Serikat sebagai “perang”, respons dari Washington datang dalam bentuk ejekan.

Sean Duffy menyebut pernyataan Carney tersebut dengan satu kata.

“Ini bodoh,” kata Duffy. []

Baca juga: Ambisi Trump yang Tak Mampu Dicaplok, dari Greenland hingga Hormuz