Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran: Sanksi Barat Dorong Produksi Senjata dan Industri Pertahanan

Published

on

Rudal balistik Khaibar Shekan menjadi sorotan dalam analisis Mehr News Agency mengenai perubahan keseimbangan konflik Iran–Amerika Serikat. (Foto: Arsip)
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik menyebut sanksi Barat turut mendorong produksi persenjataan dalam negeri.

Media ABI, 23 Agustus 2026 — Sanksi Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat selama puluhan tahun disebut telah mendorong Iran memperkuat produksi senjata dalam negeri dan mempercepat perkembangan industri pertahanannya.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan sejumlah atase militer asing di Teheran pada Sabtu, 22 Agustus 2026, menurut laporan IRNA. Pertemuan tersebut berlangsung bersama Penjabat Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Sayyid Majid Ibn al-Reza.

Talaei-Nik menyebut perkembangan teknologi dan industri pertahanan Iran tidak lahir dari satu faktor. Menurut dia, arahan Imam Khomeini dan Imam Khamenei serta tumbuhnya keyakinan bahwa Iran mampu membangun kemampuan sendiri menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Baca juga: Iran Siap Uji Sistem Senjata Baru di Medan Tempur

Budaya “kami bisa” yang berkembang setelah Revolusi Islam, lanjut Talaei-Nik, kemudian mengakar dalam bidang pertahanan dan industri militer.

Sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat terhadap angkatan bersenjata serta industri pertahanan Iran selama 47 tahun juga disebut ikut membentuk kemampuan tersebut.

“Sanksi dan pembatasan menjadi peluang bagi kemandirian dan produksi dalam negeri persenjataan serta peralatan, sekaligus mendorong lompatan dalam industri pertahanan,” kata Talaei-Nik.

Perkembangan itu juga ditopang keterlibatan perusahaan swasta dan perusahaan berbasis pengetahuan. Menurut Talaei-Nik, sektor pertahanan Iran kini berkembang dalam sebuah ekosistem nasional yang tidak lagi hanya bertumpu pada institusi negara.

Sekitar dua pertiga subsistem, komponen, dan bahan baku yang digunakan dalam persenjataan serta peralatan pertahanan Iran saat ini disebut diproduksi perusahaan berbasis pengetahuan dan sektor swasta.

Selain kemampuan produksi, Iran juga mengembangkan beragam jenis persenjataan dan peralatan untuk berbagai kebutuhan tempur. Talaei-Nik menyebut pengalaman langsung di medan perang sebagai salah satu perkembangan penting dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: “Kaum Sarungan” Mengubah Perhitungan Keamanan Arab Saudi

Angkatan bersenjata dan industri pertahanan Iran, menurut dia, memperoleh keterampilan dan pengalaman baru melalui dua perang yang disebutnya sebagai perang 12 hari dan perang 40 hari.

Pengalaman tersebut menambah bekal yang sebelumnya diperoleh Iran selama delapan tahun perang Iran-Irak. Serangkaian konflik dan perkembangan setelahnya disebut memberikan pembelajaran langsung mengenai penggunaan serta pengujian persenjataan dan peralatan di medan.

Pembelajaran tersebut kemudian berpengaruh pada organisasi, kemampuan militer, proses industri, hingga produksi persenjataan.

Talaei-Nik mengatakan laju dan cakupan perkembangan industri pertahanan Iran kini meningkat dibandingkan sebelumnya, terutama setelah perang 12 hari dan perang 40 hari. []

Baca juga: Isu Antisemitisme Jadi Senjata Trump Tekan Kampus AS