Internasional
Setahun Usai Perang 12 Hari, Produksi Senjata Iran Naik Dua Kali Lipat

Media ABI, 22 Agustus 2026 — Industri pertahanan Iran disebut mengalami lonjakan produksi dalam setahun terakhir. Kementerian Pertahanan Iran menyatakan produksi senjata dan peralatan pertahanan meningkat hingga dua kali lipat sepanjang Juli 2025 hingga Juli 2026, termasuk setelah fasilitas industri pertahanan negara itu menjadi sasaran serangan dalam perang 12 hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, dalam wawancara dengan Chanel Khabar TV Nasional Iran yang dilaporkan Mehr News Agency pada Sabtu (22/8/2026).
Baca juga: Wakil Menteri Perang AS Korban Pertama Perang Ekonomi Trump
Menurut Talaei-Nik, kerusakan pada sejumlah fasilitas pertahanan tidak menghentikan kegiatan produksi. Bahkan, sejak 28 Februari 2026 ketika perang yang disebut Iran sebagai “perang yang dipaksakan ketiga” dimulai, produksi sejumlah kebutuhan strategis dan perlengkapan yang diprioritaskan untuk kebutuhan perang meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal.
Talaei-Nik menilai kemampuan mempertahankan produksi di tengah perang menjadi salah satu faktor penting yang membuat pihak lawan tidak berhasil mencapai seluruh tujuan strategisnya. Ia mengatakan sistem produksi Iran ditopang jaringan industri yang tersebar di berbagai sektor sehingga gangguan pada sebagian fasilitas tidak serta-merta menghentikan keseluruhan proses.
Kemampuan mengganti persenjataan yang digunakan selama perang juga menjadi perhatian utama. Menurut dia, ketika persenjataan dan amunisi digunakan di medan perang, proses pembuatan penggantinya sudah berjalan secara bersamaan.
Produksi berlangsung terus-menerus dengan dukungan cadangan yang telah disiapkan sebelumnya serta persediaan strategis. Talaei-Nik juga menyebut penerapan prinsip pertahanan pasif dalam pengelolaan fasilitas produksi ikut membantu menjaga keberlangsungan industri ketika berada dalam situasi perang.
Ia kemudian mengutip pesan Mayor Jenderal Abdollahi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata sekaligus Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang menggambarkan perkembangan industri pertahanan Iran sebagai sebuah “revolusi industri”.
Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump Berdalih Diplomasi dengan Teheran Tak Mudah
Bagi Talaei-Nik, perubahan itu tidak muncul dalam waktu singkat. Pengalaman perang, kebijakan pemerintah, kemampuan industri nasional, serta keterlibatan berbagai sektor disebut menjadi bagian dari proses yang memungkinkan produksi tetap berjalan ketika kondisi negara berubah drastis akibat perang.
Arah kebijakan itu kini bergerak lebih jauh. Kementerian Pertahanan Iran menargetkan produksi senjata dan peralatan pertahanan dapat meningkat hingga tiga kali lipat. Untuk bidang-bidang tertentu, targetnya bahkan diproyeksikan mencapai empat sampai lima kali lipat.
Dengan demikian, perang 12 hari tidak hanya menjadi ujian bagi kemampuan militer Iran di medan tempur, tetapi juga bagi daya tahan industri yang memasok kebutuhan pertahanan. Klaim peningkatan produksi tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana Teheran berupaya memperkuat kemampuan produksi domestik sekaligus mengurangi dampak kerusakan fasilitas terhadap keberlangsungan dukungan logistik militernya. Pernyataan serupa sebelumnya juga disampaikan pejabat Iran mengenai penguatan cadangan strategis dan peningkatan produksi perlengkapan pertahanan. []
Baca juga: The Economist Pelesetkan “Epic Fury” Trump Menjadi “Operation Blind Fury”







