Opini
Perang Melawan Iran Mencekik Leher Trump

Media ABI, 15 Agustus 2026 — Pemerintahan Donald Trump menghadapi sedikitnya 11 persoalan setelah berbulan-bulan terlibat perang langsung dengan Iran. Dalam laporan pada Jumat, 14 Agustus 2026, Kantor Berita Tasnim memetakan tekanan yang merambah politik domestik, kekuatan militer, persenjataan, anggaran, energi, hingga posisi Amerika Serikat di kawasan.
Konflik yang semula digambarkan sebagai operasi singkat kini berkembang menjadi perang berkepanjangan. Dampaknya mulai terasa jauh dari medan tempur.
Baca juga: Dari Air Force One ke Truk Makanan, Gambaran Pahit Perang Trump dengan Iran
1. Perpecahan di Partai Republik
Durasi perang memicu perlawanan dari sebagian anggota Partai Republik. Di DPR, Thomas Massie, Tom Barrett, dan Warren Davidson mendukung resolusi yang membatasi kewenangan presiden dalam penggunaan kekuatan militer.
Di Senat, Susan Collins dan Rand Paul beberapa kali bergabung dengan senator Demokrat atau meninggalkan sidang untuk menyatakan penolakan terhadap perang yang dinilai tidak memiliki strategi keluar yang jelas. Tasnim juga mengutip jajak pendapat yang menunjukkan penurunan dukungan terhadap Trump di sejumlah negara bagian penentu.
2. Kerugian pada aset militer
The Washington Post, sebagaimana dikutip Tasnim, melaporkan Amerika Serikat telah kehilangan sedikitnya 45 drone MQ-9 Reaper selama konflik. Jumlah itu disebut lebih dari seperempat armada drone yang dioperasikan Angkatan Darat dan Korps Marinir AS.
Dengan harga sekitar 30 juta hingga 50 juta dolar per unit, nilai kerugian armada Reaper disebut melampaui 1,3 miliar dolar. Kerusakan juga dilaporkan menimpa sejumlah aset strategis bernilai tinggi, termasuk pesawat komando dan radar udara serta drone Triton yang nilainya lebih dari 220 juta dolar.
Sebuah pesawat peringatan dini dan kendali udara yang disebut bernilai sekitar 700 juta dolar juga dilaporkan rusak dalam serangan terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.
3. Persediaan rudal menipis
Tekanan berikutnya muncul pada persediaan rudal. CNN, Reuters, The Wall Street Journal, dan Asia Times disebut melaporkan penurunan tajam stok persenjataan Amerika.
Persediaan rudal pencegat Patriot, termasuk PAC-3 MSE, disebut turun dari sekitar 2.330 unit sebelum perang menjadi 759 hingga 827 unit. Stok THAAD juga menyusut dari 452 menjadi sekitar 234 hingga 278 unit.
Reuters juga melaporkan penggunaan hampir seluruh persediaan rudal taktis darat seperti ATACMS dan PrSM. Hampir separuh stok Tomahawk disebut telah digunakan.
Persoalannya tidak berhenti pada jumlah. Rudal pencegat Amerika bernilai sekitar 3 juta hingga 12 juta dolar digunakan untuk menghadapi drone dan rudal Iran yang menurut laporan bernilai sekitar 20 ribu dolar hingga beberapa ratus ribu dolar. Pada saat yang sama, kapasitas produksi terbatas. CNN menyebut industri pertahanan Amerika hanya mampu menghasilkan sekitar 15 Tomahawk dan 20 rudal Patriot per bulan.
CSIS memperkirakan pengisian kembali persediaan THAAD dan Patriot ke tingkat sebelum perang membutuhkan tiga hingga lima tahun.
Baca juga: Hegseth: Opsi Militer AS terhadap Kuba Masih di Atas Meja
4. Kebocoran informasi militer
Tekanan terhadap Pentagon bertambah setelah sejumlah data mengenai kondisi persenjataan Amerika muncul ke publik. Trump menyebut kebocoran tersebut sebagai pengkhianatan dan meminta para pembocor diproses secara hukum.
5. Krisis di USS Abraham Lincoln
USS Abraham Lincoln menghadapi salah satu penugasan laut terpanjang dalam beberapa tahun terakhir. The New York Times dan Stars and Stripes, menurut Tasnim, melaporkan kapal induk tersebut telah berada di laut selama lebih dari 240 hari tanpa berlabuh atau berhenti di pelabuhan aman.
Keluarga awak kemudian mengungkap kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di kapal, termasuk persoalan makanan dan sejumlah kebutuhan dasar. Kerusakan pada sistem pembuangan dan saluran air turut memperburuk kondisi.
Senator Richard Blumenthal mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mempertanyakan kondisi kehidupan dan kesehatan psikologis personel. Senator Ruben Gallego juga mengecam kondisi di kapal tersebut. Hegseth membantah sebagian laporan, sementara Pentagon mengakui adanya gangguan pada jalur dukungan regional akibat ancaman rudal.
6. Tekanan harga energi
Dampak perang mulai terasa langsung bagi masyarakat Amerika melalui harga energi. Harga bensin reguler disebut mendekati 4 dolar per galon. Tasnim juga mengutip Badan Energi Internasional yang menyebut gangguan keamanan di Teluk Persia telah menciptakan guncangan besar terhadap pasokan minyak dunia.
Kenaikan biaya energi kemudian merembet ke transportasi dan pangan. Harga penerbangan domestik di Amerika disebut meningkat 25 persen.
7. Keraguan terhadap perlindungan AS di Teluk
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz ikut mengguncang kepercayaan terhadap kemampuan Washington melindungi sekutunya di kawasan.
Sejumlah perusahaan asuransi internasional dilaporkan menghentikan perlindungan bagi kapal tanker dan kapal komersial atau menaikkan tarif secara tajam. Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk juga disebut mulai menghindari keterlibatan dalam koalisi militer Amerika dan memperkuat jalur diplomatik dengan Teheran.
Baca juga: Iran Bantah Klaim AS soal Selat Hormuz, Kapal Wajib Berizin untuk Melintas
8. Biaya perang mencapai puluhan miliar dolar
Operasi militer turut membebani anggaran Amerika. Menurut laporan yang mengutip CSIS dan sejumlah analisis ekonomi, pengoperasian pesawat tempur, pemeliharaan peralatan, serta pengerahan kelompok tempur kapal induk di Teluk Persia menelan sekitar 25 juta hingga 40 juta dolar per hari.
Satu kelompok tempur kapal induk seperti USS Abraham Lincoln disebut membutuhkan tambahan biaya 100 juta hingga 200 juta dolar per bulan. Total biaya langsung konflik, termasuk persenjataan, operasi udara, kerusakan peralatan dan pangkalan, diperkirakan mencapai lebih dari 30 miliar hingga 40 miliar dolar.
Gedung Putih juga disebut mengajukan permintaan anggaran tambahan darurat senilai 87,6 miliar dolar kepada Kongres. Lebih dari 32 miliar dolar di antaranya ditujukan untuk biaya perang dengan Iran dan pengisian kembali persediaan amunisi.
9. Cadangan minyak strategis menyusut
Cadangan minyak strategis Amerika atau Strategic Petroleum Reserve turun menjadi 298,7 juta barel, menurut data Departemen Energi AS yang dikutip Tasnim. Angka itu disebut sebagai yang terendah sejak Januari 1983 dan untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat dekade berada di bawah 300 juta barel.
Pemerintahan Trump sebelumnya memerintahkan penarikan 172 juta barel dari cadangan pada Maret untuk meredam dampak gangguan di Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak. Sebelum konflik, cadangan berada di sekitar 415 juta barel.
Laporan tersebut juga menyebut lebih dari seperempat kapasitas penyimpanan tidak dapat digunakan karena kerusakan teknis dan kebutuhan perbaikan. S&P Global memperkirakan kemampuan pengisian kembali hanya sekitar 4 juta barel per bulan, sehingga pemulihan ke tingkat sebelumnya dapat berlangsung hingga 2031.
10. Posisi Iran di kawasan menguat
Menurut Tasnim, salah satu persoalan strategis Washington adalah tidak tercapainya harapan bahwa serangan militer akan melemahkan pemerintahan Iran atau memicu keruntuhan dari dalam.
Analisis yang dikaitkan dengan Brookings dan Atlantic justru menunjukkan dampak sebaliknya. Serangan tersebut dinilai memperkuat sentimen anti-Amerika dan konsolidasi internal Iran.
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz juga meningkatkan bobot strategis Teheran karena jalur tersebut berpengaruh langsung terhadap pasokan dan harga minyak dunia.
Reuters, sebagaimana dikutip Tasnim, melaporkan sejumlah negara tetangga Iran memilih memperkuat komunikasi langsung, mendorong penurunan ketegangan, serta membatasi penggunaan wilayah mereka untuk operasi militer Amerika.
Baca juga: Lalu Lintas Kapal Bantah Klaim Trump soal Kendali AS atas Selat Hormuz
11. Sentimen negatif terhadap Israel meningkat
Tasnim juga menyoroti perubahan sikap publik Amerika terhadap Israel. Jajak pendapat yang disebut berasal dari Pew menunjukkan pandangan negatif terhadap Israel telah melampaui 60 persen.
Laporan tersebut mengutip sejumlah media Barat, termasuk The New York Times, mengenai peran penilaian intelijen Israel dan Mossad dalam mendorong pemerintahan Trump memasuki perang.
Menurut Tasnim, pejabat Israel dan Mossad sebelumnya memperkirakan serangan awal akan membuat pemerintahan Iran runtuh dengan cepat. Perkiraan itu tidak terwujud dan konflik justru berlanjut.
Tasnim kemudian menyoroti pengunduran diri Joe Kent, yang disebut sebagai direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS. Dalam surat pengunduran diri dan wawancara berikutnya, Kent disebut menyatakan Iran tidak menghadirkan ancaman langsung bagi Amerika dan menilai tekanan Israel berperan dalam keputusan Washington memasuki perang.
Pengaruh kelompok lobi pro-Israel di Washington seperti AIPAC juga disebut menghadapi tekanan. Sejumlah anggota Kongres dari kedua partai mulai mengambil jarak dari Israel dan menyerukan penghentian bantuan finansial serta militer.
Tekanan yang semakin sulit dihindari
Perang dengan Iran kini membawa konsekuensi yang jauh melampaui medan tempur. Pemerintahan Trump harus menghadapi perdebatan di Kongres, penurunan persediaan persenjataan, biaya operasi yang besar, tekanan energi, serta perubahan kalkulasi negara-negara di kawasan.
Menurut analisis yang dirangkum Tasnim, mengakhiri perang tanpa mencapai tujuan yang dicanangkan berisiko merusak kredibilitas Washington. Sebaliknya, mempertahankan konflik berarti menerima beban militer, ekonomi, dan politik yang terus bertambah. []
Baca juga: Iran Tunjuk Enam Komandan Baru di Struktur Militer, Garda Revolusi, dan Basij







