Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Sanksi Baru AS terhadap Iran Uji Hubungan Washington dan Beijing

Published

on

Donald Trump dalam pertemuan di Beijing dengan Xi Jinping (Farsnews Agency)
Kebijakan sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran menguji hubungan Washington dan Beijing menjelang rencana kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat.

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Kebijakan baru Amerika Serikat untuk memperketat sanksi terhadap Iran mulai menguji hubungan Washington dan Beijing. China memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menargetkan kepentingan ekonomi dan keuangan China di Iran, terutama ketika Beijing tetap menjadi mitra dagang utama Tehran sekaligus pembeli terbesar minyak Iran. Perkembangan tersebut dilaporkan Fars News Agency dengan mengutip analisis Newsweek pada Rabu (26/8/26).

Newsweek menilai keputusan pemerintahan Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, disertai tekanan kepada negara lain agar mengikuti kebijakan tersebut, berpotensi membuka persoalan baru dalam hubungan Amerika Serikat dan China. Titik paling sensitif berada pada kerja sama ekonomi Beijing dengan Tehran, terutama pembelian minyak Iran.

Baca juga: Ancaman Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Menyimpan Pesan Lain

Washington dalam kebijakan terbarunya kembali berupaya memperbesar tekanan ekonomi terhadap Iran dan meminta negara lain ikut mendorong negara tersebut menuju isolasi ekonomi. Langkah itu berlangsung ketika China masih menjadi mitra dagang terpenting Iran dan salah satu pembeli utama minyak negara tersebut.

China Pasang Garis Merah

Sikap Beijing terhadap kebijakan baru Washington pun mulai terlihat tegas. China memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menjadikan kepentingan ekonomi dan keuangan China di Iran sebagai sasaran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan pada Selasa bahwa tekanan maksimum dan perang ekonomi tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada. Menurutnya, pendekatan tersebut justru berisiko memperbesar ketegangan, meningkatkan ancaman meluasnya krisis, mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan dunia, serta merugikan hak dan kepentingan sah negara lain.

Lin juga menegaskan bahwa hubungan dan kerja sama China dengan Iran selama ini berlangsung dalam kerangka hukum internasional. Karena itu, menurutnya, kerja sama tersebut tidak boleh diganggu ataupun dilemahkan.

Minyak Iran Jadi Persoalan

Salah satu titik paling sensitif dalam kebijakan baru Washington adalah perdagangan minyak Iran. Sebelum perang dimulai, China disebut membeli lebih dari 95 persen minyak mentah yang diekspor Iran.

Kilang-kilang China juga menerima sebagian besar minyak tersebut dengan potongan harga melalui jaringan kapal dan perantara yang dikenal sebagai “armada bayangan”. Jaringan tersebut digunakan untuk menghindari sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

Baca juga: Iran Putus Jalur Pasokan USS Abraham Lincoln dari Bahrain

Posisi China di pasar energi global turut menjadi faktor yang dapat memperumit perhitungan Washington dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran. Besarnya cadangan minyak mentah China memungkinkan Beijing mengurangi impor minyak selama beberapa pekan setelah konflik di Timur Tengah meningkat. Langkah tersebut membantu mencegah lonjakan harga minyak global berlangsung lebih lama.

Bagi Amerika Serikat, kenaikan harga minyak yang tajam dan berkepanjangan dapat membawa dampak langsung terhadap perekonomian, termasuk mendorong naiknya harga bahan bakar seperti bensin dan solar.

Pemerintahan Trump sebelumnya juga dua kali memberikan pengecualian terhadap ekspor minyak Iran melalui jalur laut dari sejumlah pembatasan yang diberlakukan dalam kebijakan blokade Amerika Serikat. Pengecualian tersebut kini telah berakhir dan sebelumnya diposisikan Washington sebagai instrumen untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran.

Xi Jinping Datang di Tengah Tekanan

Persoalan ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat pada bulan depan. Kunjungan tersebut akan menjadi lawatan resmi pertama Xi ke Amerika Serikat dalam lebih dari satu dekade. Hubungan perdagangan dan ekonomi diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut.

Pemerintahan Trump tengah berupaya memperoleh kesepakatan perdagangan yang lebih menguntungkan dengan China sekaligus memperluas akses perusahaan-perusahaan Amerika Serikat ke pasar China. Dalam situasi seperti itu, penggunaan kunjungan Xi untuk menunjukkan keberhasilan Washington dalam menjalankan tekanan terhadap Iran berpotensi mempersulit perundingan dan hubungan kedua negara.

Beijing dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan kesediaan menggunakan instrumen politik dan ekonomi untuk memperjuangkan kepentingannya dalam perselisihan dengan Washington. Salah satu contohnya berkaitan dengan rencana penjualan senjata Amerika Serikat senilai 14 miliar dolar kepada Taiwan, wilayah yang dianggap Beijing sebagai bagian dari China.

Baca juga: Kapal Pengangkut Senjata Arab Saudi Berbendera Indonesia Meledak di Bab al-Mandab

Kesepakatan tersebut masih berada dalam ketidakpastian setelah pejabat China memperingatkan kemungkinan dampaknya terhadap pertemuan mendatang antara Xi Jinping dan Donald Trump.

Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, Beijing kembali menegaskan posisinya. Lin mengatakan pemerintah China terus memantau perkembangan terkait sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran dan akan mengambil “seluruh langkah yang diperlukan” untuk melindungi hak serta kepentingannya.

Kebijakan baru Washington terhadap Iran dengan demikian tidak hanya menambah tekanan terhadap Tehran, tetapi juga berpotensi menyeret hubungan Amerika Serikat dan China ke persoalan baru. Beijing kini menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan kerja sama ekonomi dan strategis dengan Iran sembari mengelola hubungan yang tetap tegang dengan Washington.

Persoalan tersebut berpotensi menjadi salah satu isu penting dalam pembicaraan Amerika Serikat dan China menjelang kunjungan Xi Jinping ke Washington bulan depan. []

Baca juga: Megawati Minta Indonesia Belajar dari Iran: Bangsa Bersatu Tak Mudah Ditaklukkan Amerika