Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

The Independent Nilai Kekuatan AS Tak Berdaya di Hadapan Iran

Published

on

Perubahan strategi Washington terhadap Iran bergeser dari operasi militer menuju tekanan ekonomi setelah The Independent menilai tujuan awal perang belum tercapai.
Perubahan strategi Washington terhadap Iran bergeser dari operasi militer menuju tekanan ekonomi setelah The Independent menilai tujuan awal perang belum tercapai.

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Perang terhadap Iran belum membawa Amerika Serikat pada hasil yang diharapkan. The Independent menilai Washington kini beralih mengandalkan tekanan ekonomi setelah pendekatan militer yang ditempuh sebelumnya tidak mencapai tujuan utama. Penilaian itu disampaikan dalam editorial yang dikutip Tasnim News Agency pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Perubahan arah tersebut menjadi sorotan utama editorial The Independent. Surat kabar Inggris itu mempertanyakan alasan Washington melancarkan serangkaian serangan militer, berupaya melemahkan kekuatan konvensional Iran, serta mengeluarkan berbagai ancaman terhadap Teheran jika pada akhirnya tekanan ekonomi kembali menjadi alat untuk memaksakan tuntutan Amerika Serikat.

Baca juga: Indahnya Perbedaan: Saat Lintas Iman Bicara Keadilan hingga Kemakmuran Bangsa

Dalam editorial yang sama, The Independent menyebut keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi Israel terhadap Iran selama enam bulan terakhir sebagai “kesalahan strategis”. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz masih terbuka bagi pelayaran, pasokan minyak dan gas alam berjalan normal, dan perekonomian global diperkirakan terus tumbuh.

Situasinya kini berubah. Menurut surat kabar tersebut, perkembangan perang justru memperlihatkan bahwa operasi militer belum menghasilkan capaian utama yang diharapkan Washington.

Struktur politik Iran tetap bertahan. Kemampuan nuklir Iran, menurut The Independent, juga masih ada, sementara kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran tetap aktif. Iran pun disebut masih memiliki kemampuan menyerang pangkalan dan sasaran Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan. Pada saat yang sama, pengaruh Teheran terhadap Selat Hormuz dinilai semakin besar.

Perubahan itu ikut menggeser pusat pengelolaan kebijakan Iran di Washington. Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, kini memegang peran yang lebih besar. The Independent mencatat para ekonom, bank sentral, dan pakar perdagangan mulai memiliki pengaruh lebih kuat dalam menentukan arah kebijakan dibandingkan pilot dan komandan militer.

Baca juga: AS Akui Sanksi Iran Bisa Guncang Sistem Keuangan Global

Pergeseran pendekatan tersebut berjalan beriringan dengan perubahan kehadiran militer AS di kawasan. The Independent mencatat kapal induk USS Abraham Lincoln meninggalkan kawasan setelah tujuh bulan berada di sana dan digantikan oleh USS George Washington.

Bessent mengatakan tekanan ekonomi baru dapat mengurangi kebutuhan untuk kembali menjalankan konflik militer berskala besar. Sejauh ini, perubahan tersebut belum memicu gejolak berarti di pasar. Menurut The Independent, harga minyak turun, pasar saham menguat, sementara pasar obligasi pemerintah AS relatif stabil.

Persoalan berikutnya adalah apakah Bessent bersama tim ekonomi pemerintahan Trump mampu mencapai sesuatu yang gagal diwujudkan Pete Hegseth dan para komandan militer Amerika Serikat.

Keraguan terutama muncul terkait upaya Washington menekan China, India, dan Jepang agar mengurangi perdagangan serta impor energi dari Iran. The Independent menilai kebijakan tersebut justru dapat menimbulkan kerugian bagi perekonomian negara-negara yang menjadi sasaran tekanan Amerika Serikat.

Baca juga: Trump Terjepit Beban Utang dan Perang

Washington juga harus memperhitungkan hubungan Rusia dengan Teheran ketika berusaha menekan Moskwa sekaligus memengaruhi kebijakan perdagangan China dan India. Menurut The Independent, rangkaian tekanan tersebut dapat menimbulkan biaya besar bagi Amerika Serikat.

Dalam penilaian akhirnya, The Independent menyebut gambaran awal mengenai hasil perang sudah cukup jelas. Konflik telah menelan korban jiwa, menghabiskan miliaran dolar, dan menguras persediaan amunisi dalam jumlah besar tanpa menghasilkan capaian yang diharapkan.

Surat kabar itu bahkan menilai perang dapat membuat Iran memiliki pengaruh yang lebih besar atas sumber energi yang dibutuhkan negara-negara Barat. Dalam penggunaan sehari-hari, pengaruh terhadap sumber energi tersebut dinilai bahkan dapat lebih penting daripada senjata nuklir.

Dampaknya juga mulai terlihat di dalam negeri Amerika Serikat. The Independent mencatat ketidakpuasan terhadap perang meningkat di kalangan pemilih. Pemilu November mendatang dapat menjadi salah satu ukuran untuk melihat seberapa kuat sentimen tersebut.

Editorial itu juga membuka kemungkinan proses pemakzulan terhadap Trump kembali bergulir apabila Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres. Menurut The Independent, kemungkinan tersebut dapat ikut memengaruhi keputusan Trump dalam menentukan kebijakan berikutnya terhadap Iran. []

Baca juga: Perang dengan Iran Membuka Borok Kekuatan Militer Amerika