Ikuti Kami Di Medsos

Berita

USS Abraham Lincoln akan Bersandar di Thailand

Published

on

USS Abraham Lincoln menghadapi persoalan logistik dan tekanan panjang setelah serangan Iran menghancurkan pangkalan AS di Bahrain, menurut laporan New York Times.
Kapal induk USS Abraham Lincoln dijadwalkan bersandar di Thailand setelah menjalani penugasan panjang di Asia Barat dan lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan.

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Setelah menjalani penugasan panjang di Asia Barat, kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln akan bersandar di Thailand pekan depan. Seorang pejabat Thailand mengatakan kapal tersebut akan singgah di wilayah timur negara itu untuk memberi kesempatan kepada awak kapal beristirahat sekaligus mengisi kembali kebutuhan logistik. Reuters melaporkan rencana tersebut pada Selasa (25/8/26).

Angkatan Laut Thailand memastikan persinggahan itu tidak berkaitan dengan latihan militer. Kunjungan tersebut disebut sebagai agenda rutin untuk memberi waktu kepada personel memulihkan kondisi setelah berbulan-bulan berada di laut.

Baca juga: Al-Houthi: Yaman Berdiri di Sisi Iran dan Poros Perlawanan

Juru bicara Angkatan Laut Thailand mengatakan kunjungan singkat tersebut juga dimaksudkan untuk menyediakan dukungan logistik bagi kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat itu.

Rencana tersebut muncul setelah Abraham Lincoln meninggalkan kawasan Asia Barat pada Sabtu. Kapal induk itu sebelumnya beroperasi di kawasan tersebut setelah berangkat dari pangkalannya di San Diego pada November 2025 dalam rangka mendukung operasi militer Amerika Serikat selama perang dengan Iran.

Lamanya penugasan Abraham Lincoln menjadi perhatian di Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen Demokrat mengatakan kapal tersebut telah berada di laut selama lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan. Mereka menyebut durasi itu sebagai rekor baru untuk masa operasi tanpa jeda di laut.

Persoalan bukan hanya soal lamanya kapal berada di laut. Kondisi awak juga mulai mendapat sorotan.

Navy Times dan Stars and Stripes sebelumnya melaporkan persoalan terkait kondisi psikologis dan moral awak kapal, termasuk laporan mengenai upaya bunuh diri. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membantah laporan tersebut dan menilai pemberitaan yang muncul tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di atas kapal.

The Independent kemudian mengungkap persoalan lain dalam laporan yang diterbitkan pada Minggu. Media Inggris itu menyoroti masalah pasokan dan kondisi kehidupan sehari-hari awak Abraham Lincoln selama menjalankan penugasan panjang di kawasan Asia Barat.

Baca juga: Jenderal Hatami: Iran Siap Berperang hingga 20 Generasi

Menurut laporan tersebut, kerusakan pada fasilitas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain ikut mengganggu jalur pasokan kapal. Naval Support Activity Bahrain merupakan pangkalan penting Armada Kelima Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pusat dukungan operasi angkatan laut Washington di kawasan tersebut.

The Independent melaporkan fasilitas itu mengalami kerusakan berat akibat serangan rudal dan drone pada 28 Februari, yang disebut sebagai hari pertama perang pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Iran. Setelah serangan tersebut, Angkatan Laut Amerika Serikat mulai memanfaatkan pangkalan di Diego Garcia sebagai pusat logistik baru.

Diego Garcia berada di tengah Samudra Hindia dan berada di bawah administrasi Inggris. Perubahan jalur pasokan menuju kawasan operasi membuat jarak logistik menjadi jauh lebih panjang dan disebut berdampak pada ketersediaan kebutuhan di atas Abraham Lincoln.

Kapal induk tersebut membawa sekitar 5.000 pelaut dan marinir. Sejak meninggalkan San Diego pada 21 November 2025, Abraham Lincoln disebut telah menghabiskan lebih dari 270 hari secara terus-menerus di laut. The Independent menyebut durasi tersebut belum pernah terjadi sejak era Perang Vietnam.

Baca juga: Militer Iran Peringatkan Kelompok Takfiri dan Unsur Anti-Iran

Selama masa itu, awak kapal juga tidak mendapat kesempatan menggunakan fasilitas Liberty Port yang biasanya memungkinkan personel turun ke darat untuk beristirahat.

Keluhan mengenai kondisi di kapal kemudian muncul dari sejumlah kerabat awak. Mereka mengungkap cerita mengenai makanan yang tidak memadai dan sulit dikonsumsi, kamar mandi berjamur, toilet rusak, hingga layanan pencucian pakaian yang tidak berjalan teratur.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Thailand kini menjadi tempat persinggahan bagi Abraham Lincoln dan kelompok tempurnya. Angkatan Laut Thailand menegaskan kunjungan itu tidak akan disertai latihan militer dan hanya ditujukan untuk memberi waktu istirahat kepada personel serta memenuhi kebutuhan logistik setelah penugasan panjang di laut. []

Baca juga: Hizbullah: Pilihan Kami Tetap Melawan, Bukan Menyerah