Nasional
Megawati Minta Indonesia Belajar dari Iran: Bangsa Bersatu Tak Mudah Ditaklukkan Amerika

Media ABI, 18 Agustus 2026 — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta Indonesia belajar dari Iran dalam menghadapi tekanan kekuatan besar, terutama Amerika Serikat. Menurut Megawati, ketahanan Iran tidak hanya ditopang kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh persatuan rakyat yang membuat negara tersebut mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal.
Megawati menyampaikan pandangan tersebut dalam pidato peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bersama kader PDI Perjuangan di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin, 17 Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan Liputan6.
Baca juga: IRGC Bantah Klaim Trump soal Dialog Rahasia dengan Garda Revolusi
Dalam pidatonya, Megawati mengajak kader memahami geopolitik dan mempelajari pengalaman sejumlah negara yang mampu berdiri dengan kekuatan sendiri. Ia menyebut Tiongkok, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Iran, Kuba, dan Korea Utara sebagai negara yang memiliki pengalaman dalam membangun kemandirian nasional.
Ketika berbicara mengenai Amerika Serikat sebagai negara adidaya, perhatian Megawati secara khusus tertuju kepada Iran.
“Coba kalau kalian mau tahu politik, yang namanya geopolitik. Pertanyaannya, Amerika yang katanya negara superpower menurut saya kok sampai hari ini tidak bisa mengalahkan Iran?” kata Megawati.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan penghormatannya terhadap kemampuan Iran mempertahankan diri di tengah tekanan panjang dari Amerika Serikat dan sekutunya. Bagi Megawati, ketahanan sebuah negara tidak dapat diukur hanya dari besarnya uang, persenjataan, atau kekuatan material.
“Coba pikir dengan pikiran politik. Ayo kenapa? Ayo! Itu bukan hanya karena uang, tapi apa? Persatuan bangsa Iran tuh luar biasa! Coba bayangkan tidak terpecah belah,” ujarnya.
Iran dan Kekuatan Persatuan
Megawati mengaku membaca sejarah Iran dan melihat persatuan rakyat sebagai salah satu sumber utama ketahanan bangsa tersebut. Ia menilai masyarakat Iran memiliki kemampuan untuk bergotong royong dan menjaga kohesi nasional ketika menghadapi tekanan dari luar.
“Iran itu saya baca sejarah Iran, Iran itu sebuah negara hampir ribuan tahun dia tidak pernah terkalahkan. Kenapa? Karena rakyatnya bergotong-royong bersatu padu menjadi satu,” katanya.
“Bayangkan sebuah negara seperti Iran tidak bisa dikalahkan oleh namanya Amerika sampai hari ini,” lanjut Megawati.
Baca juga: Peringatan IRGC: Setiap Ancaman dan Agresi Akan Dihancurkan dengan Tegas
Bagi Megawati, pengalaman Iran memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Negara yang memiliki rakyat bersatu tidak mudah dipecah, ditekan, apalagi diarahkan oleh kekuatan asing.
Karena itu, ia mengajak bangsa Indonesia melihat Iran bukan semata dari sudut pandang konflik dan konfrontasi geopolitik, melainkan dari kemampuan rakyatnya mempertahankan persatuan dan identitas nasional.
“Saya kalau melihat luar biasa! Kita mestinya seperti itu!” tegasnya.
Megawati kemudian menghubungkan persoalan persatuan dengan keutuhan wilayah Indonesia. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang tidak memiliki kesadaran mempertahankan tanah air akan mudah kehilangan kedaulatan.
“Kalau akan mulai ada orang yang mengambil namanya daerah kita, apakah kita akan biarkan saja?” tanyanya.
“Kita ini harusnya bersatu padu, tetap, tetap, tetap menjadi yang namanya Indonesia bisa abadi saudara-saudara,” lanjutnya.
Kekuatan Iran Bukan Hanya Militer
Pernyataan Megawati juga menempatkan ketahanan Iran dalam konteks yang lebih luas. Ia tidak menggambarkan kekuatan Iran semata sebagai persoalan militer, tetapi sebagai hasil dari daya tahan masyarakat dan kemampuan sebuah negara membangun fondasi kemandiriannya.
Menurutnya, Indonesia juga harus berani mempertanyakan apakah bangsa ini memiliki hak untuk berdaulat atas kekayaan alamnya, mandiri secara ekonomi, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Apakah salah kalau kita ingin berdaulat atas kekayaan alam dan berdikari dalam bidang ekonomi? Apakah salah kalau kita ingin menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi?” kata Megawati.
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika pengalaman Iran ditempatkan sebagai pelajaran bagi Indonesia. Ketahanan menghadapi tekanan eksternal tidak mungkin hanya mengandalkan slogan nasionalisme. Sebuah bangsa membutuhkan ekonomi yang kuat, sumber daya manusia yang berkualitas, pendidikan dan kesehatan yang memadai, serta kemampuan teknologi untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dalam konteks itu, Iran menunjukkan bahwa tekanan dari kekuatan yang jauh lebih besar tidak otomatis membuat sebuah bangsa menyerah. Daya tahan nasional tumbuh ketika masyarakat memiliki keyakinan bahwa kepentingan bangsanya layak dipertahankan.
Megawati kemudian mengingatkan kembali gagasan Bung Karno tentang keberanian menentukan nasib sendiri.
Baca juga: Pejabat Iran kepada Reuters: Kami Tak Akan Menunggu AS Perpanjang Blokade
“Bung Karno berulang kali menegaskan bahwa hanya bangsa yang berani meletakkan nasib di tangan kita sendiri akan berdiri dengan kuatnya,” tuturnya.
Jangan Menjadi Bangsa yang Suka Ngekor
Megawati juga menyerukan agar kader PDI Perjuangan tidak memiliki mental mengikuti arus tanpa berpikir.
“Jangan asal ngekor lho, pikir!” serunya.
Pesan itu sejalan dengan pelajaran yang ia tarik dari Iran. Menurutnya, bangsa yang ingin berdiri kokoh harus memiliki keberanian berpikir dan menentukan kepentingannya sendiri.
Ia bahkan menekankan pentingnya mental tahan banting kepada kadernya.
“Iya karena ini kelihatan ini saya sudah mikir nih sudah mulai capek nih. Nah kamu berarti tidak tahan banting, tahu tidak? Kalau ikut sama PDI Perjuangan tuh harus tahan banting,” ujarnya yang disambut tawa.
Dalam pandangan Megawati, ketahanan seperti itulah yang perlu dibangun dalam kehidupan berbangsa. Persatuan bukan hanya slogan dalam pidato kemerdekaan, tetapi kekuatan politik dan sosial yang membuat sebuah negara tidak mudah diguncang dari luar.
Baca juga: Senator Demokrat Murka: Trump Seret AS ke Perang Iran dengan Kebohongan
Belajar dari Iran, Menegakkan Kemandirian Indonesia
Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, Megawati mengingatkan kembali cita-cita Bung Karno yang menurutnya seharusnya mulai diwujudkan secara lebih nyata.
“Pada usia Republik yang ke-81 ini semua yang diimpikan Bung Karno harusnya sudah bisa dilaksanakan sebenarnya,” ujarnya.
Ia juga mengajak Indonesia belajar dari negara-negara lain, termasuk Eropa, yang menurutnya memiliki disiplin dan semangat juang kuat. Pendidikan dan kesehatan, kata Megawati, menjadi prasyarat penting bagi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Mereka semua menempatkan pendidikan dan kesehatan rakyatnya sebagai prasyarat pokok pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Dalam konteks inilah pengalaman Iran menjadi relevan bagi Indonesia. Iran yang menghadapi tekanan panjang dari Amerika Serikat tetap berusaha mempertahankan kemampuan nasionalnya, membangun kapasitas teknologi, dan menjaga daya tahan masyarakatnya. Bagi Megawati, kekuatan semacam itu patut dipelajari, bukan diabaikan.
Ia juga mengingatkan generasi muda mengenai luasnya wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Pengetahuan mengenai wilayah sendiri, menurutnya, merupakan bagian dari kesadaran mempertahankan kedaulatan.
Baca juga: Korea Selatan Tolak Permintaan Trump untuk Ikut Melucuti Nuklir Iran
“Saudara-saudaraku seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Bayangkan Pulau Rote itu di mana? Di bawah. Miangas tuh di mana? Di atas. Belum tentu anak-anak sekarang itu tahu,” katanya.
Di tengah pidatonya, Megawati sempat berseloroh mengenai kemampuan berpidato. Namun ia kemudian menegaskan bahwa pesan yang disampaikannya lahir dari keyakinan yang mendalam.
“Tapi karena apa? Karena ini dari hati nurani yang paling dalam saudara-saudara, bukan hanya melihat teks ini saja. Camkan itu saudara-saudara!” tegasnya.
Pada akhirnya, pesan Megawati tentang Iran dapat dibaca sebagai seruan agar Indonesia tidak mudah tunduk kepada kekuatan eksternal. Ia melihat Iran sebagai contoh sebuah bangsa yang mampu mempertahankan keteguhan nasionalnya di tengah tekanan negara adidaya.
Pelajaran yang ditawarkan bukan agar Indonesia menyalin seluruh model Iran, melainkan memahami satu prinsip mendasar: bangsa yang bersatu, mandiri secara ekonomi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berani menentukan nasibnya sendiri akan jauh lebih sulit ditaklukkan oleh kekuatan mana pun.
Bagi Indonesia, dukungan Megawati terhadap pelajaran dari Iran pada akhirnya kembali kepada pertanyaan tentang kemerdekaan itu sendiri: apakah bangsa ini benar-benar berani berdiri di atas kaki sendiri, atau masih terlalu mudah mengikuti kehendak mereka yang lebih kuat. []







