Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Dari Isfahan, Dialog Indonesia-Iran Bergerak ke Tehran

Published

on

Rangkaian program akademik Indonesia-Iran berlangsung di Isfahan sebelum delegasi melanjutkan agenda ke Tehran, dengan pembahasan mencakup AI, tata kelola data, pendidikan, dan diplomasi budaya.
Rangkaian program akademik Indonesia-Iran berlangsung di Isfahan sebelum delegasi melanjutkan agenda ke Tehran, dengan pembahasan mencakup AI, tata kelola data, pendidikan, dan diplomasi budaya.

Isfahan, 26 Agustus 2026 — Pembicaraan mengenai hubungan Indonesia dan Iran dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berlangsung di ruang-ruang diplomasi. Di lingkungan kampus, pembahasannya merambah ke persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat: kecerdasan buatan, pengelolaan data, pendidikan, teknologi, dan bagaimana negara mempertahankan ruang kemandiriannya di tengah perubahan digital.

Rangkaian itu berlangsung dalam program International Short Course yang diselenggarakan Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Republik Islam Iran. Mengusung tema “International Cultural Dialogue: The Legacy of Imam Ali Khamenei in International Relations and New Islamic Civilization”, program berlangsung sejak 19 Agustus hingga 1 September 2026 dan mempertemukan akademisi serta pimpinan perguruan tinggi dalam berbagai forum di Iran.

Baca juga: Dokumen Rahasia Netanyahu Diburu MI6, Kini Berada di Tangan Iran

Forum akademik di Isfahan menyoroti tata kelola data dan kedaulatan teknologi sebagai bagian penting dari perkembangan kecerdasan buatan.

Forum akademik di Isfahan menyoroti tata kelola data dan kedaulatan teknologi sebagai bagian penting dari perkembangan kecerdasan buatan.

Salah satu agenda berlangsung di Islamic Azad University of Isfahan, Khorasgan. Di kampus tersebut, pembicaraan mengenai perkembangan artificial intelligence (AI) berkembang menjadi diskusi yang lebih mendasar: soal data dan siapa yang memiliki kemampuan untuk menguasainya.

Perkembangan AI selama ini kerap dilihat dari kecanggihan perangkat dan algoritma. Padahal, di belakang teknologi itu ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar, mulai dari mengumpulkan data, mengolahnya, membaca pola, hingga mengubahnya menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Persoalan tersebut mendapat perhatian dalam forum akademik di Isfahan. Abdullah Assegaf, S.Sos., M.Hub.Int., dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus Koordinator Iran Corner FISIP UB, menjadi salah satu peserta yang menyampaikan pandangan mengenai tata kelola data dan kedaulatan teknologi. Pembahasan itu kemudian turut mendapat perhatian media Iran.

Baca juga: Sanksi Baru AS terhadap Iran Uji Hubungan Washington dan Beijing

Dalam forum tersebut, persoalan penguasaan data ditempatkan sebagai bagian dari kemampuan sebuah negara menghadapi perubahan teknologi. Teknologi global tetap membuka ruang kerja sama, tetapi kerja sama tersebut perlu berjalan bersama kemampuan untuk menjaga kepentingan strategis dan membangun kapasitas di dalam negeri.

Dari sana, pembicaraan mengarah pada kemungkinan kerja sama Indonesia dan Iran. Kedua negara tidak berada pada posisi yang sama dalam pengembangan teknologi. Namun justru karena memiliki pengalaman dan kemampuan yang berbeda, terdapat ruang untuk saling mengisi.

AI dan tata kelola data menjadi salah satu bidang yang dapat dikembangkan melalui pertukaran pengetahuan, penelitian, maupun penguatan sumber daya manusia. Hubungan akademik kedua negara pun tidak harus berhenti pada kunjungan dan pertemuan, tetapi dapat diteruskan dalam bentuk seminar bersama, kuliah tamu, penelitian kolaboratif, pertukaran akademik, hingga publikasi ilmiah.

Di titik ini, keberadaan Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya mendapat konteks yang lebih luas. Ruang tersebut dapat menjadi penghubung antara perguruan tinggi, mahasiswa, peneliti, dan lembaga di Indonesia dengan mitra-mitra akademik di Iran.

Pertemuan langsung selama program ICRO juga memberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejumlah institusi akademik, kebudayaan, dan penelitian di Iran. Jejaring yang terbentuk dari pertemuan semacam itu menjadi salah satu modal awal untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.

Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, Total Capai 776 Orang

Setelah rangkaian kegiatan di Isfahan selesai, delegasi bergerak menuju Tehran pada Rabu malam, 26 Agustus. Ibu kota Iran itu menjadi lokasi sejumlah agenda berikutnya yang berkaitan dengan kerja sama ilmiah, pendidikan, kebudayaan, dan hubungan antarumat Islam.

Pada 28 Agustus, delegasi dijadwalkan mengikuti Proximity Conference atau konferensi Taqrib Mazahib Islami. Sehari berikutnya, agenda berlanjut dengan kunjungan dan pertemuan di lingkungan universitas.

Kegiatan akademik kembali berlangsung pada 31 Agustus melalui kunjungan ke Amirkabir University dan pertemuan ilmiah. Seluruh rangkaian program dijadwalkan berakhir pada 1 September melalui closing ceremony dan penganugerahan edisi pertama Cultural and Public Diplomacy Award of the Islamic Republic of Iran. Setelah itu, delegasi dijadwalkan kembali melalui Istanbul.

Dari kampus di Isfahan hingga berbagai pertemuan di Tehran, rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: hubungan Indonesia-Iran memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada hubungan antarlembaga pemerintahan.

Ruang itu ada di kampus, di meja penelitian, dalam pertukaran gagasan, dan dalam pembicaraan tentang teknologi yang kini ikut menentukan arah hubungan antarnegara.

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pertemuan semacam ini memberi tempat bagi Indonesia dan Iran untuk saling mengenal bukan hanya melalui kebudayaan, tetapi juga melalui pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki. Dari sanalah kerja sama dapat menemukan bentuknya sendiri, perlahan, melalui hubungan antarmanusia dan antar-institusi yang terus dipelihara. []

Baca juga: Trump Klaim Semua Ranjau di Selat Hormuz Telah Dibersihkan