Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Maulid Nabi di Jepara Hangatkan Kebersamaan Warga Beragam Mazhab

Published

on

Ustadz Ahmad Baraqbah mengulas kemuliaan dan akhlak Rasulullah dalam peringatan Maulid Nabi yang mempertemukan warga lintas mazhab di Jepara.
Ustadz Ahmad Baraqbah mengulas kemuliaan dan akhlak Rasulullah dalam peringatan Maulid Nabi yang mempertemukan warga lintas mazhab di Jepara.

Bangsri, 8 September 2026 – Menjelang malam, warga mulai berdatangan ke Masjid Ar-Rasul di Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Jepara, Ahad (6/9). Mereka datang untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang juga digelar dalam rangka Pekan Persatuan. Di dalam dan luar masjid, ratusan jamaah dari latar organisasi dan mazhab yang berbeda kemudian berkumpul dalam satu majelis, di antaranya warga Sunni, Syiah, dan Muhammadiyah.

Peringatan yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB itu diselenggarakan melalui kerja bersama unsur PHBI Guyangan, warga dari berbagai kelompok, serta para pemuda setempat. Aparat desa dan Petinggi Desa Guyangan, H. Ridlwan, turut hadir dan menyampaikan sambutan sebelum acara dilanjutkan dengan ceramah Maulid oleh Ustadz Ahmad Baraqbah dari Pekalongan.

Jamaah dari berbagai latar organisasi dan mazhab mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangka Pekan Persatuan di Masjid Ar-Rasul, Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Jepara, Ahad malam (6/9).

Jamaah dari berbagai latar organisasi dan mazhab mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam rangka Pekan Persatuan di Masjid Ar-Rasul, Desa Guyangan, Kecamatan Bangsri, Jepara, Ahad malam (6/9).

Baca juga: Muslimah ABI Cimahi Satukan Jamaah Jawa Barat dalam Peringatan Maulid Nabi

Dalam ceramahnya, Ustadz Ahmad mengajak jamaah menengok kembali pribadi Rasulullah melalui riwayat Imam Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, Imam Ali adalah orang yang paling mengenal sifat Rasulullah karena sejak kecil tumbuh dalam kedekatan dengan Nabi.

Beliau kemudian menuturkan sebuah kisah tentang seorang ulama Yahudi yang meminta Imam Ali menggambarkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Imam Ali, dalam kisah yang disampaikan Ustadz Ahmad, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Imam Ali justru meminta orang itu terlebih dahulu menggambarkan kenikmatan dunia.

Permintaan itu tidak dapat dipenuhi. Orang tersebut mengaku tidak sanggup menjelaskan seluruh kenikmatan dunia. Dari sana, Imam Ali kemudian mengajukan perbandingan: jika kenikmatan dunia yang terbatas saja tidak mampu digambarkan seluruhnya oleh manusia, bagaimana mungkin seluruh kemuliaan Rasulullah dapat diuraikan dengan sempurna.

Ustadz Ahmad menghubungkan kisah itu dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim,” yang memuji Nabi Muhammad SAW sebagai pemilik akhlak yang agung. Kemuliaan Rasulullah, menurut beliau, memiliki banyak sisi. Namun, dalam riwayat Imam Ali yang disampaikan malam itu, terdapat empat sifat yang menonjol: Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, paling berani, paling jujur, dan memiliki perangai yang sangat lembut.

Keempat sifat tersebut kemudian menjadi pintu bagi Ustadz Ahmad untuk melihat keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Kedermawanan, menurut beliau, tidak harus menunggu seseorang memiliki kelimpahan harta. Kesediaan membantu sesama juga menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian dan menjauhkan diri dari sifat bakhil.

Baca juga: Maulid Nabi DPW ABI NTB Pertemukan Ormas, Mazhab, dan Tokoh Lintas Agama

Keberanian, lanjut Ustadz Ahmad, bukan keberanian untuk menguasai atau menindas orang lain, melainkan keberanian membela kebenaran dan menolong mereka yang lemah. Sementara kejujuran berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap perkataannya, sedangkan kelembutan perangai tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.

Dari pembicaraan mengenai akhlak Rasulullah, ceramah kemudian beralih kepada salawat. Ustadz Ahmad menyebut salawat sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan amalan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Menurut beliau, salawat juga menjadi bagian dari penghormatan kepada Rasulullah, keluarga beliau atau Ahlul Bait, serta para sahabat pilihan.

Ustadz Ahmad kemudian menyinggung salah satu misi Rasulullah, yakni menyucikan manusia. Pesan itu dikaitkan dengan pentingnya menjaga kesucian diri dan terus memperbaiki kehidupan. Dalam pandangan Ustadz Ahmad, ajaran Islam tidak berhenti pada ritual, tetapi juga mengajak manusia untuk saling mendorong kepada kebaikan dan menjauhi hal-hal yang dibenci Allah SWT.

Menjelang akhir ceramah, Ustadz Ahmad bergerak dari upaya memperbaiki diri menuju persoalan kehidupan bangsa, dan mengajak jamaah mendoakan Indonesia agar terbebas dari kemiskinan dan ketimpangan. Beliau juga menyampaikan pesan kepada para pemegang jabatan di negeri ini agar menjaga amanah yang berada di pundak mereka.

Baca juga: Maulid Nabi Muslimah ABI Lumajang, Merawat Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Kekuasaan, menurut Ustadz Ahmad, tidak ada yang abadi. Karena itu, jabatan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab atas cara kekuasaan tersebut dijalankan.

Malam itu, pembicaraan tentang Rasulullah berlangsung di tengah jamaah yang datang dari latar organisasi dan mazhab berbeda. Warga Sunni, Syiah, dan Muhammadiyah berada dalam satu masjid dan mengikuti rangkaian peringatan yang diselenggarakan bersama.

Di Masjid Ar-Rasul, Guyangan, Maulid tidak hanya menjadi peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga ruang perjumpaan bagi warga yang datang dari latar berbeda dan memilih berada dalam satu majelis untuk mendengarkan kembali kisah tentang perjuangan, visi dan misi Rasulullah dan akhlaknya. []

Baca juga: Di Semarang, Maulid Nabi Menyatukan Tokoh Antarmazhab dan Lintas Iman