Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Hamas Kecam Serangan Israel di Gaza yang Tewaskan 7 Warga Sipil

Published

on

Perempuan dan anak-anak Palestina duduk di reruntuhan rumah di Gaza tengah setelah serangan udara Israel. (AFP)
Perempuan dan anak-anak Palestina duduk di reruntuhan rumah di Gaza tengah setelah serangan udara Israel. (AFP)

Ahlulbait Indonesia, 6 Juni 2026 — Hamas mengecam keras serangan udara Israel di Gaza City yang menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk dua perempuan, di tengah berlangsungnya gencatan senjata dan perundingan baru antara faksi-faksi Palestina di Kairo, Mesir.

Menurut laporan Press TV, serangan yang terjadi pada Sabtu (6/6/2026) itu juga menyebabkan sedikitnya 15 orang terluka, termasuk anak-anak. Serangan menghantam kawasan tenda pengungsian di pusat Gaza City yang menjadi tempat berlindung warga sipil yang kehilangan rumah akibat perang.

Baca juga: Uni Eropa Pertimbangkan Sanksi terhadap Ben-Gvir dan Sejumlah Menteri Israel

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyebut serangan tersebut sebagai pembantaian terhadap perempuan dan anak-anak Palestina serta bagian dari eskalasi berkelanjutan yang menargetkan warga sipil di Jalur Gaza.

Dalam pernyataannya, Qassem menuduh Israel berupaya menggagalkan kesepakatan gencatan senjata dengan terus melanjutkan operasi militer di wilayah tersebut.

Serangan itu terjadi saat perundingan baru antara Hamas dan sejumlah faksi Palestina kembali digelar di Kairo. Menurut Hamas, pembahasan difokuskan pada implementasi tahap pertama gencatan senjata, penghentian serangan Israel, dan persiapan menuju fase berikutnya dari kesepakatan tersebut.

Meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober tahun lalu, kekerasan masih terus berlangsung. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan sedikitnya 950 warga Palestina tewas dan 2.935 lainnya terluka sejak kesepakatan mulai diberlakukan.

Baca juga: Paus Leo XIV: Agresi Militer AS dan Israel terhadap Iran Bukan Perang yang Adil

Perundingan menuju fase kedua juga masih mengalami kebuntuan. Tahap ini sebelumnya dirancang untuk mencakup penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza serta pembahasan pengaturan keamanan pascaperang.

Anggota Biro Politik Hamas, Husam Badran, menegaskan kelompoknya tidak akan menyerahkan senjata dalam waktu dekat. Namun, ia menyatakan pembahasan mengenai pengaturan keamanan dan status persenjataan akan dilakukan dalam kerangka nasional Palestina.

Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, otoritas kesehatan setempat melaporkan puluhan ribu warga Palestina tewas, sementara krisis kemanusiaan terus memburuk di berbagai wilayah Jalur Gaza. []

Baca juga: Belajar dari Iran, Eks Pilot F16 Ingatkan Indonesia Siapkan Pertahanan Asimetris