Internasional
Jenderal IRGC: Pembunuh Pemimpin Revolusi Tak Akan Pernah Tenang

Ahlulbait Indonesia, 22 Juli 2026 — Wakil Politik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigjen Yadollah Javani, menegaskan bahwa pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas syahidnya Pemimpin Revolusi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Menurutnya, para pelaku tidak akan lagi menikmati ketenangan hidup, sementara tuntutan hukuman akan terus diperjuangkan oleh Poros Perlawanan, bangsa-bangsa merdeka, dan para pejuang kemerdekaan di berbagai belahan dunia.
Dalam wawancara yang diterbitkan Sepah News pada Selasa (21/7), Javani menilai pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam yang disampaikan pada prosesi pemakaman “Syahid Iran” merupakan dokumen strategis yang menegaskan keterkaitan Revolusi Islam dengan semangat Asyura, konsep khun-khahi (penuntutan darah), kesinambungan jalan para syuhada, serta tanggung jawab umat Islam dan para pejuang kemerdekaan untuk meneruskan perjuangan tersebut.
Baca juga: Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei: Kami Berikrar Menuntut Pembalasan terhadap Para Penjahat
Menurutnya, pembukaan pesan dengan salam kepada Imam Husain a.s. menempatkan kesyahidan “Syahid Iran” sebagai bagian dari kesinambungan sejarah perjuangan Karbala. Pesan itu juga memuat apresiasi atas besarnya partisipasi masyarakat Iran dan Irak dalam prosesi pemakaman, peneguhan komitmen melanjutkan jalan sang pemimpin, serta keyakinan bahwa para pelaku kejahatan pada akhirnya akan menerima balasan.
“Amerika dan Zionis Melakukan Kejahatan Besar”
Berbicara mengenai penuntutan darah, pembalasan, dan qisas, Javani menuduh Amerika Serikat, rezim Zionis, dan terutama Presiden AS Donald Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas “kejahatan besar” tersebut.
Menurutnya, tindakan itu bertentangan dengan hukum internasional karena menyasar seorang pemimpin yang memiliki kedudukan hukum, politik, dan keagamaan yang tinggi.
“Mereka telah mensyahidkan imam bagi suatu umat dan pemimpin sebuah negara. Ini adalah tindakan terorisme yang bertentangan dengan seluruh aturan dan hukum internasional,” ujarnya.
Javani menegaskan bahwa penuntutan darah, qisas, dan pembalasan merupakan hak yang berlandaskan prinsip keadilan. Karena itu, tuntutan tersebut tidak hanya menjadi hak bangsa Iran, tetapi juga umat Islam dan seluruh pejuang kemerdekaan yang selama ini memandang Pemimpin Revolusi sebagai simbol perlawanan terhadap arogansi global.
Penuntutan Darah Berdimensi Global
Javani mengatakan pesan Pemimpin Tertinggi, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, menegaskan bahwa penuntutan darah kini telah melampaui batas-batas nasional. Seluruh pihak yang terlibat dalam syahidnya Pemimpin Revolusi, termasuk mereka yang menurut Iran bertanggung jawab atas gugurnya para komandan, ilmuwan, dan warga sipil, harus dimintai pertanggungjawaban.
Ia menunjuk berbagai reaksi di dunia Islam sebagai bukti meluasnya tuntutan tersebut, mulai dari slogan-slogan dalam prosesi pemakaman di Irak hingga aksi sekelompok warga Pakistan yang bergerak menuju Konsulat Amerika Serikat setelah peristiwa itu.
“Musibah ini bukan hanya milik bangsa Iran, tetapi juga musibah bagi umat Islam dan seluruh pejuang kemerdekaan di dunia,” katanya.
Baca juga: IRGC Jawab Seruan Pemimpin Revolusi: Amerika Akan Menerima “Pelajaran yang Tak Terlupakan”
Mengutip kembali pesan Pemimpin Tertinggi, Javani menegaskan bahwa para pelaku “harus mengucapkan selamat tinggal kepada tidur yang nyenyak dan ketenangan hidup, serta membawa ketenangan itu hingga ke liang kubur.” Menurutnya, berbagai bentuk penuntutan akan terus dilakukan oleh Poros Perlawanan dan bangsa-bangsa merdeka.
Selain itu, ia mendorong pemerintah Iran menempuh jalur hukum dengan membawa kasus tersebut ke lembaga peradilan nasional maupun forum internasional guna menindaklanjuti tuntutan tersebut.
Respons terhadap Agresi Amerika Serikat
Mengenai operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran, Javani menyebutnya sebagai bentuk agresi yang melanggar berbagai kesepahaman internasional. Ia menegaskan seluruh unsur pemerintahan dan militer Iran memiliki sikap yang sama, yakni memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk serangan.
Ia mengklaim Republik Islam Iran telah membalas setiap serangan yang menyasar sasaran militer maupun sipil, baik dalam apa yang disebutnya sebagai “Perang Pertahanan Suci 12 Hari”, “Perang 40 Hari”, maupun operasi-operasi terbaru. Menurutnya, Angkatan Bersenjata Iran dan IRGC telah menyerang fasilitas-fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan, termasuk Yordania, Kuwait, dan Oman, dan operasi semacam itu akan terus berlanjut.
Baca juga: Pemimpin Revolusi: “Tanda Tangan Presiden Amerika Tidak Bernilai dan Tidak Dapat Dipercaya”
“Amerika Serikat Menanggung Kerugian Terbesar”
Javani menilai Amerika Serikat gagal mencapai tujuan strategisnya dalam apa yang ia sebut sebagai “Perang Paksa Ketiga”. Upaya Washington mengubah keadaan melalui operasi militer, termasuk mengembalikan situasi Selat Hormuz seperti sebelum perang, disebutnya tidak akan berhasil.
Sebaliknya, ia mengklaim perang tersebut justru memicu perubahan geopolitik besar di kawasan dengan semakin kuatnya posisi Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz.
“Amerika Serikat akan menjadi pihak yang paling kalah dan paling menanggung biaya perang ini, sedangkan pemenang utamanya adalah Republik Islam Iran yang memperoleh posisi strategis lebih unggul,” ujar Javani. []
Baca juga: Trump Tutup Rapat Citra Pangkalan AS yang Remuk di Tengah Klaim Kemenangan







