Internasional
Qalibaf kepada AS, Era Respons Proporsional Telah Berakhir

Media ABI, 6 September 2026 – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat balasan yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan.
Dalam pidato sebelum agenda sidang terbuka parlemen pada Minggu (6/9/2026), Qalibaf mengatakan serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan yang disebutnya sebagai pangkalan agresor dalam operasi terbaru hanyalah permulaan. Seperti dilaporkan Mehr News, Ketua Parlemen Iran itu menegaskan Amerika Serikat harus memahami bahwa aturan permainan telah berubah dan masa respons proporsional telah berakhir.
Baca juga: Satu Seragam, Banyak Komando dalam Tentara Rezim Al-Jolani
“Amerika pasti telah memahami bahwa era respons proporsional telah berakhir. Serangan kami dalam operasi-operasi terbaru terhadap pangkalan-pangkalan agresor hanyalah permulaan. Jika mereka belum memahaminya, mereka harus segera memahami bahwa aturan permainan telah berubah dan mulai sekarang setiap bentuk serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan mendapat balasan yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan,” kata Qalibaf.
Dalam pidatonya, Qalibaf juga mengenang peristiwa 17 Shahrivar atau Jumat Hitam pada 1978 di Teheran. Hari itu, warga yang berkumpul di Lapangan Shohada menjadi sasaran tembakan pasukan rezim Pahlavi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen penting yang menguatkan gerakan Revolusi Iran.
Qalibaf mengatakan peristiwa itu menunjukkan kesediaan rakyat Iran untuk berkorban dalam menghadapi kekuasaan yang dianggap zalim. Semangat tersebut, katanya, masih menjadi bagian dari perjuangan Iran ketika negara itu menghadapi tekanan dari luar.
Musuh, menurut Qalibaf, telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menekan rakyat Iran. Dalam menghadapi situasi itu, seluruh unsur negara dan masyarakat harus bekerja bersama serta mempertahankan keteguhan di berbagai bidang. Konfrontasi yang dihadapi Iran, katanya, tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga meluas ke bidang ekonomi dan diplomasi.
Iran, menurut Qalibaf, tengah menghadapi perang besar melawan apa yang disebutnya sebagai seluruh front kekufuran.
Respons Cepat dan Berat terhadap Serangan
Qalibaf mengatakan serangan pasukan militer Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat telah membuat para pemimpin negara tersebut berada dalam keadaan terdesak. Dalam situasi itu, katanya, pihak Amerika menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat foto dan video dari medan perang.
Baca juga: Jet Tempur Saudi Bombardir Pasukan Pro-Riyadh di Taiz, Puluhan Tewas dan Terluka
Ia kembali menegaskan bahwa serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan menghadapi respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan. Serangan Iran dalam operasi terbaru, menurutnya, bukan merupakan akhir dari respons negaranya.
Ekonomi dan Kehidupan Rakyat Menjadi Medan Utama
Di luar konfrontasi militer, Qalibaf mengatakan tantangan utama Iran saat ini juga berada pada sektor produksi dan kehidupan masyarakat. Fluktuasi tajam nilai tukar, inflasi, pengangguran, dan persoalan pengelolaan pasar telah memberikan tekanan serius terhadap kehidupan rakyat.
Persoalan tersebut, katanya, harus dijawab melalui langkah yang mampu menangani kebutuhan mendesak sekaligus memberikan penyelesaian jangka panjang. Penguatan produksi dalam negeri dan pemanfaatan kemampuan teknologi kalangan muda terdidik perlu menjadi bagian dari kebijakan tersebut.
Qalibaf juga menyinggung peningkatan sanksi yang disebutnya sebagai upaya untuk mengganggu rantai pasokan barang dan pengelolaan energi. Dalam kondisi itu, Iran perlu membangun kapasitas baru melalui pengelolaan impor yang lebih cerdas, dukungan terhadap produksi, serta pemanfaatan kemampuan para ahli dan kalangan terdidik.
Rakyat Iran, menurut Qalibaf, mampu menghadapi kesulitan, tetapi tidak akan menerima buruknya pengelolaan dan kelalaian dari pihak yang bertanggung jawab.
“Rakyat yang berdiri hingga mempertaruhkan nyawa melawan musuh Amerika yang haus darah dapat menanggung kesulitan, tetapi mereka tidak akan menanggung buruknya pengelolaan dan kelalaian. Mereka mengharapkan kami segera mengelola situasi ini dan itu merupakan hak mereka yang sah,” ujarnya.
Persatuan dan Daya Tangkal
Qalibaf menekankan pentingnya menjaga persatuan di dalam negeri dan memperkuat daya tangkal terhadap ancaman dari luar. Kedua hal tersebut, katanya, menjadi kekuatan penting bagi Iran dalam menghadapi tekanan terhadap negaranya.
Setiap ucapan atau tindakan yang melemahkan persatuan internal dan daya tangkal nasional, menurutnya, bertentangan dengan kepentingan negara. Namun, menjaga kekuatan Iran tidak berarti menutup mata terhadap persoalan atau menghentikan kritik terhadap kinerja pemerintah.
Baca juga: IRGC Serang Kapal Induk dan Kapal Perusak AS
Masalah yang ada tetap harus ditempatkan sebagai agenda utama untuk dibahas dan diselesaikan melalui perencanaan yang jelas. Dalam konteks itu, Qalibaf juga menyinggung arahan Pemimpin Tertinggi Iran agar tidak menampilkan negara dan sistem pemerintahan sebagai pihak yang lemah. Menurutnya, arahan tersebut merupakan pedoman strategis yang perlu diperhatikan dalam berbagai bidang.
Mengenang Mahmoud Kaveh
Pada bagian akhir pidatonya, Qalibaf mengenang Mahmoud Kaveh, tokoh militer Iran yang gugur dalam perang dan diperingati hari wafatnya dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Qalibaf, Kaveh telah berada di berbagai medan sulit sejak awal Revolusi Iran untuk menghadapi kelompok-kelompok kontra revolusi. Ketika berada di suatu wilayah, kehadirannya, kata Qalibaf, menjadi simbol keamanan bagi masyarakat setempat.
Qalibaf membandingkan peran Kaveh dengan Malik al-Asytar, sahabat dan panglima Imam Ali, dalam menjaga keamanan masyarakat.
Menutup pidatonya, Ketua Parlemen Iran itu mengenang seluruh korban yang gugur dalam Revolusi Islam dan berbagai perang yang pernah dihadapi Iran. Ia berharap pertolongan dan kemenangan segera dirasakan oleh rakyat Iran.
Qalibaf kemudian mengutip ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Dan ada pula karunia lain yang kamu sukai, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman.” []
Baca juga: Israel Mungkin Tak Bertahan hingga 2048, Kata Penulis Zionis







