Internasional
Mayjen Rezaei: Iran Uji Rudal Anti Perusak di Atas Kapal Perang AS

Media ABI, 7 September 2026 – Iran untuk pertama kalinya menguji rudal khusus anti perusak di atas sebuah kapal perang Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayjen Mohsen Rezaei, dalam program berita khusus televisi nasional pada Minggu malam, 6 September 2026.
Fars News Agency melaporkan, Rezaei mengatakan pengujian tersebut dilakukan sekitar 48 jam sebelumnya. Rudal itu, menurut keterangannya, menciptakan situasi yang membuat kapal Amerika Serikat meninggalkan lokasi.
Baca juga: Selat Hormuz Kini Sepenuhnya Tertutup
“Empat puluh delapan jam lalu, untuk pertama kalinya kami menguji rudal antiperusak Iran di atas sebuah kapal Amerika. Rudal khusus ini menciptakan neraka bagi Amerika dan mereka melarikan diri,” kata Rezaei.
Selat Hormuz dan Kawasan Terlarang
Dalam wawancara yang sama, Rezaei kembali membantah pernyataan Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz masih terbuka. Sebelum jalur itu ditutup, kata Rezaei, lebih dari 100 kapal mengangkut lebih dari 100 juta ton barang melalui Selat Hormuz. Kini, yang masih melintas hanya sekitar tujuh hingga delapan kapal pengangkut kebutuhan pokok Iran.
Amerika Serikat, katanya, tetap berupaya mengirim lima hingga enam kapal dengan biaya besar. Kapal-kapal itu disebutnya berusaha melintas secara sembunyi-sembunyi dan kerap menjadi sasaran serangan.
Iran, kata Rezaei, belum memutuskan untuk menenggelamkan kapal-kapal tersebut karena membawa minyak. Menenggelamkannya, menurut dia, dapat menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan di kawasan.
Ia juga mengatakan Iran akan mengumumkan kawasan terlarang baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Wilayah itu akan mencakup kawasan yang membentang dari garis blokade Angkatan Laut Amerika Serikat hingga sejumlah perairan di Teluk Persia. Kapal yang memasuki kawasan tersebut, kata Rezaei, akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran.
Bantah Isu Kelaparan dan Perundingan
Dalam kesempatan itu, Rezaei membantah anggapan bahwa blokade ekonomi Amerika Serikat telah menyebabkan kelaparan besar di Iran. Pemerintah Iran, katanya, telah sejak lama menyiapkan persediaan pangan dan kebutuhan pokok.
“Anggapan bahwa blokade ekonomi Amerika menyebabkan kelaparan besar di Iran adalah kebohongan besar. Pemerintah Iran telah memikirkan hal ini sejak lama dan memiliki cadangan pangan serta kebutuhan pokok yang cukup,” katanya.
Mengenai kemungkinan berlanjutnya perundingan, Rezaei mengatakan Amerika Serikat harus lebih dahulu membangun kembali kepercayaan Iran. Persoalan utama dalam Kesepahaman Islamabad, menurutnya, terletak pada tidak adanya jaminan yang dapat dipercaya. Para mediator pun, kata Rezaei, tidak mampu memberikan kepastian bahwa kesepakatan tersebut akan dijalankan.
“Iran menjalankan diplomasi dengan adanya jaminan,” ujarnya.
Baca juga: Bom Amerika Jadikan Pesta Pernikahan di Iran Tragedi Berdarah
Ia menambahkan, Iran akan memberikan komitmen untuk membuka Selat Hormuz apabila Amerika Serikat menghentikan ancaman dan tidak lagi menyerang Iran.
Serangan terhadap Pangkalan AS
Rezaei juga mengatakan Iran telah lama mengetahui sejumlah sasaran militer Amerika Serikat, termasuk Pangkalan Titen di Yordania dan beberapa pangkalan di Erbil. Lokasi-lokasi tersebut, katanya, sebelumnya sengaja tidak menjadi sasaran serangan.
Setelah pangkalan itu diserang, Rezaei mengatakan Donald Trump menarik diri dari rencana perang selama 10 hari yang sebelumnya diumumkan.
“Dengan cara itulah perang 10 hari itu dihentikan sejak awal,” katanya.
Ia menyebut Iran untuk pertama kalinya menyerang dua atau tiga pangkalan Amerika Serikat di Yordania dan Erbil yang, menurutnya, diyakini Washington tidak diketahui oleh Teheran. Salah satu pangkalan di Yordania bahkan disebut tidak memiliki sistem pertahanan udara.
Rezaei kemudian kembali menyinggung pengujian rudal antiperusak yang dilakukan di atas kapal perang Amerika Serikat. Menurutnya, pengujian tersebut membuat pihak Amerika panik dan meninggalkan lokasi.
Ia juga mengatakan kesepakatan mengenai koridor baru di Selat Hormuz, dengan jalur masuk dan keluar yang berada di bawah pengelolaan Iran, akan ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.
Dalam bagian lain wawancara, Rezaei menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang menyiapkan sesuatu yang menyerupai kudeta pada tanggal 18 dan 19, bersamaan dengan kemungkinan dimulainya serangan. Namun ditegaskannya, Iran akan menggagalkan kedua rencana tersebut.
Baca juga: Pasukan Zionis Gerebek Al-Bireh, Tangkap Warga Palestina di Bethlehem
Pemerintah Iran, lanjut Rezaei, juga perlu mengendalikan tekanan ekonomi agar tidak memberikan alasan yang dapat dimanfaatkan pihak yang disebutnya sebagai musuh.
Mengenai Lebanon, Rezaei mengatakan Israel telah menguasai sejumlah wilayah, tetapi ia yakin Lebanon akan kembali bangkit. Iran juga, katanya, tetap mempertahankan hak untuk merespons serangan Amerika Serikat terhadap sebuah acara pernikahan di Kuhestak.
Rezaei kemudian menyerukan persatuan di bawah kepemimpinan Iran. Menurutnya, perselisihan yang berada di luar kerangka kepemimpinan dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Selat Hormuz sebagai Kekuatan Iran
Menutup keterangannya, Rezaei menegaskan Selat Hormuz tidak seharusnya dipandang sebagai kawasan perang.
“Selat Hormuz bukan selat perang, melainkan selat kekuatan Iran,” katanya.
Menurut Rezaei, jalur perairan tersebut merupakan sarana bagi Iran untuk memperoleh hak rakyatnya dari Amerika Serikat. Ia juga menuduh pihak yang disebutnya sebagai musuh telah melakukan infiltrasi ke berbagai kelompok politik di Iran. []
Baca juga: Tentara Al-Jolani, Seragam Boleh Sama tapi Otaknya Berbeda







