Opini
Iran dan Yaman Guncang Keunggulan Udara dan Laut Amerika

Media ABI, 7 September 2026 – Keunggulan militer Amerika Serikat di laut dan udara, menurut Brigadir Jenderal Mujib Shamsan, kini menghadapi tekanan dari dua arah yang saling berkaitan. Di Laut Merah, Yaman menguji kemampuan Washington mempertahankan kebebasan operasi armada lautnya. Sementara itu, strategi pertahanan Iran menunjukkan keterbatasan keunggulan udara Amerika ketika menghadapi kekuatan yang tersebar dan sulit dilumpuhkan dari udara.
Dalam analisis yang dilaporkan Kayhan pada Senin, 7 September 2026, pakar militer dan strategi asal Yaman tersebut menilai pengalaman perang di kedua medan itu memperlihatkan persoalan yang sama. Kekuatan militer Amerika Serikat tetap besar, tetapi kemampuan mengubah keunggulan persenjataan menjadi daya tangkal yang efektif semakin menghadapi tantangan.
Baca juga: Iran Membongkar Titik Lemah Militer Amerika
Menurut Shamsan, kekuatan global Amerika selama ini bertumpu pada pandangan geopolitik yang menempatkan penguasaan laut sebagai salah satu dasar dominasi dunia. Amerika Serikat membangun angkatan laut yang, menurutnya, mencakup hampir 40 persen kekuatan laut dunia dan didukung 11 kapal induk.
Namun, keunggulan tersebut kini menghadapi tekanan yang tidak hanya bersifat militer. Shamsan menilai melemahnya daya tangkal Amerika di jalur laut strategis dapat memengaruhi pengaruh ekonomi, teknologi, dan geopolitik Washington.
Yaman Menguji Daya Tangkal Amerika di Laut Merah
Di Laut Merah, menurut Shamsan, persoalan Amerika Serikat terlihat dari kegagalan lima kelompok kapal induk mematahkan blokade yang diberlakukan Yaman terhadap Israel.
Bagi Shamsan, perkembangan itu memperlihatkan perubahan dalam cara kekuatan militer diuji. Kapal induk dan persenjataan berteknologi tinggi tidak lagi selalu mampu memberikan hasil yang sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.
Ia mencontohkan ketimpangan biaya antara rudal pertahanan yang nilainya dapat mencapai sekitar 2 juta dolar dan pesawat nirawak yang harganya hanya beberapa ribu dolar. Dalam perang berkepanjangan, menurutnya, ketimpangan tersebut dapat menguras kemampuan pertahanan pihak yang harus terus melakukan intersepsi.
Persoalan itu diperbesar oleh penggunaan serangan jenuh. Serangan yang dilakukan secara berulang dan dari berbagai arah dapat memaksa sistem pertahanan merespons terus-menerus hingga kemampuannya terkuras.
Di sinilah, menurut Shamsan, Laut Merah menjadi ujian terhadap pola lama daya tangkal Amerika. Kehadiran kapal induk yang selama puluhan tahun dipandang cukup untuk menunjukkan kekuatan tidak lagi otomatis menghasilkan penguasaan penuh terhadap kawasan konflik.
Tekanan terhadap armada Amerika, menurutnya, terlihat dari sejumlah perkembangan yang melibatkan kapal induk di kawasan. Shamsan menyebut komandan USS Eisenhower pernah berselisih dengan Pentagon mengenai perlunya kapal tersebut meninggalkan Laut Merah karena risiko yang dihadapi.
Baca juga: Media Israel Laporkan Dubai di Ambang Kebangkrutan
Ia juga menilai Washington menghadapi keterbatasan dalam menyiapkan kapal pengganti. Menurut Shamsan, tiga kapal induk sedang menjalani latihan, empat berada dalam perbaikan dan pemeliharaan, satu ditempatkan di Samudra Pasifik, sementara satu lainnya berada di dekat wilayah Amerika Serikat.
Kondisi itu membuat persoalan di Laut Merah tidak hanya menyangkut kemampuan tempur, tetapi juga ketersediaan dan rotasi armada.
Iran Menantang Keunggulan Amerika dari Udara
Jika Yaman menguji daya tangkal Amerika di laut melalui tekanan terhadap armada dan jalur pelayaran, Iran, menurut Shamsan, menghadirkan persoalan berbeda di darat dan udara.
Ia menilai strategi pertahanan pasif Iran telah mengurangi efektivitas keunggulan udara Amerika. Pembangunan fasilitas rudal dan pesawat nirawak serta penyebaran kemampuan militer di berbagai lokasi membuat kekuatan Iran tidak terkonsentrasi pada sasaran yang mudah dilumpuhkan melalui serangan udara.
Shamsan menyebut pola tersebut terlihat dalam perang yang berlangsung selama 39 hari. Menurutnya, Angkatan Udara Amerika menghadapi kesulitan ketika harus menjangkau banyak titik secara bersamaan sambil mempertahankan kemampuan menghadapi serangan berkelanjutan terhadap pangkalan dan aset militernya.
Di sinilah keterkaitan strategi Iran dan pengalaman Yaman menjadi penting dalam pembacaan Shamsan.
Keduanya, menurut kerangka analisis tersebut, menunjukkan bahwa kekuatan yang lebih kecil dapat menciptakan tekanan besar terhadap militer yang jauh lebih kuat melalui cara yang berbeda. Yaman memanfaatkan tekanan berulang terhadap armada dan sistem pertahanan di Laut Merah, sementara Iran mengandalkan penyebaran kemampuan dan pertahanan pasif untuk mempersulit serangan udara.
Baca juga: IRGC Serang Kapal Induk dan Kapal Perusak AS
Perbedaannya terletak pada medan, tetapi persoalan yang dihadapi Amerika Serikat tetap sama, yaitu semakin sulitnya menghadapi banyak ancaman sekaligus tanpa menguras persediaan, kemampuan operasional, dan kesiapan pasukan.
Kapal Induk Tidak Lagi Menjawab Semua Persoalan
Menurut Shamsan, selama puluhan tahun Amerika Serikat membangun perhitungan bahwa kehadiran kapal induk dapat menciptakan daya tangkal yang memadai.
Namun, keputusan angkatan bersenjata Yaman untuk mendukung Gaza dan menerapkan blokade laut terhadap Israel, menurutnya, memperlihatkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu berlaku dalam konflik yang menggunakan pola tekanan berkelanjutan.
Ia menyebut USS Abraham Lincoln sebagai salah satu kapal yang menghadapi tekanan dalam perkembangan konflik. Menurut Shamsan, kapal tersebut menjadi sasaran serangan pada Desember 2024 sebelum mundur menuju perairan dekat India. Situasi serupa, katanya, kemudian berlanjut terhadap USS Harry Truman yang menjadi sasaran sejumlah serangan di Laut Merah.
Shamsan juga menolak klaim bahwa serangan Yaman tidak menimbulkan dampak terhadap kapal-kapal Amerika. Menurutnya, gambar yang muncul setelah kapal-kapal tersebut kembali ke Amerika Serikat menunjukkan adanya kerusakan akibat serangan langsung.
Ia mengklaim sejumlah serangan mengenai pintu hanggar dan menyebabkan kerusakan pada pesawat yang berada di dalam kapal.
Baca juga: Dunia Menyaksikan Amerika di Tepi Jurang, Kata Ketua Parlemen Iran
Dua Medan, Satu Masalah bagi Washington
Bagi Shamsan, pengalaman Iran dan Yaman memperlihatkan persoalan yang tidak dapat dijawab hanya dengan menambah jumlah kapal induk atau mengandalkan keunggulan teknologi.
Di Laut Merah, Amerika Serikat menghadapi tekanan dari serangan berbiaya relatif rendah yang memaksa penggunaan sistem pertahanan mahal secara berulang. Dalam perang dengan Iran, menurutnya, penyebaran kekuatan dan pertahanan pasif membuat serangan udara menghadapi lebih banyak sasaran dan tuntutan operasional.
Dua medan tersebut menunjukkan bentuk tekanan yang berbeda terhadap kemampuan militer Amerika Serikat. Yaman menantang kebebasan operasi Washington di laut, sedangkan Iran mempertanyakan kemampuan Amerika mempertahankan dominasi udara ketika menghadapi kekuatan yang tersebar.
Menurut Shamsan, persoalan bagi Washington bukan berarti keunggulan militernya telah hilang. Namun, perang di Laut Merah dan pengalaman menghadapi Iran menunjukkan bahwa keunggulan tersebut kini semakin mahal untuk dipertahankan dan semakin sulit diterjemahkan menjadi daya tangkal yang otomatis bekerja.
Bagi Amerika Serikat, inilah perubahan yang paling mendasar. Memiliki kapal induk dan pesawat tempur dalam jumlah besar belum tentu cukup ketika lawan mampu memaksa kekuatan itu bertempur di banyak titik, dalam waktu lama, dan dengan biaya yang terus meningkat. []
Baca juga: Iran Publikasikan Rekaman Serangan ke Markas Armada Kelima AS di Bahrain







