Internasional
Media Israel Laporkan Dubai di Ambang Kebangkrutan

Media ABI, 7 September 2026 – Tahun 2026 menjadi tahun yang suram bagi Dubai. Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh disebut terus mengguncang perekonomian negara-negara di pesisir selatan Teluk Persia. Pariwisata, perhotelan, properti, penerbangan, hingga transportasi terdampak, sementara di Dubai penjualan properti mewah dilaporkan merosot hingga 59 persen.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Senin, 7 September 2026, surat kabar Israel Maariv melaporkan belum terlihat tanda-tanda pemulihan berarti di negara-negara pesisir selatan Teluk Persia. Perang disebut telah mengganggu berbagai agenda besar, membuat banyak hotel mewah kehilangan tamu dan memaksa sejumlah pengelola usaha mengurangi jumlah pekerja. Sementara itu, kekhawatiran terhadap situasi keamanan turut membuat banyak calon penumpang menunda perjalanan udara.
Baca juga: Selat Hormuz Kini Sepenuhnya Tertutup
Dampaknya bahkan menjalar ke sejumlah agenda internasional. Balapan Formula 1 yang semula dijadwalkan berlangsung di Bahrain pada Oktober dipindahkan ke Malaysia. Kejuaraan Dunia Esports yang sebelumnya direncanakan digelar di Riyadh juga dipindahkan ke Paris, sementara balapan Formula 1 yang dijadwalkan berlangsung di Arab Saudi pada April dibatalkan.
Grand Prix Abu Dhabi masih tercantum dalam kalender Formula 1 pada Desember. Namun, pihak Formula 1 menyatakan jadwal tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi.
Penerbangan dan Pariwisata Tertekan
Tekanan terhadap perekonomian kawasan tidak berhenti pada menurunnya jumlah wisatawan. Sektor penerbangan, properti, transportasi, dan perhotelan disebut masih menghadapi dampak perang, sementara gangguan pada jalur distribusi turut memperlambat pengiriman berbagai kebutuhan, dari mesin berat hingga barang impor.
Menurut sumber yang mengetahui penilaian para pemimpin negara-negara pesisir selatan Teluk Persia, mereka memasuki musim panas dengan harapan fase paling intens dari perang segera berakhir dan perundingan jangka panjang mengenai program nuklir Iran dapat dimulai. Harapannya, keadaan tersebut memungkinkan kegiatan ekonomi kembali berjalan seperti sebelum perang.
Harapan itu kini memudar. Para pemimpin negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk disebut memperkirakan sisa tahun ini masih akan dilalui dalam tekanan dan mulai mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan dengan intensitas rendah. Dalam laporan tersebut juga disebut belum tampak arah yang jelas dari Washington untuk mengakhiri konflik.
Baca juga: Hegseth Ancam Hancurkan Tanker Iran
Di Dubai, pelaku usaha di sektor-sektor yang paling terdampak menilai pemulihan masih jauh. Kondisi itu berlangsung di tengah langkah pemerintah yang, menurut laporan tersebut, membatasi informasi mengenai dampak perang, menghentikan publikasi sebagian data, dan menjalankan kampanye pemasaran untuk menggambarkan kehidupan di emirat itu telah kembali seperti sebelum perang.
Sejumlah maskapai dari Eropa dan Amerika Utara, termasuk Air Canada, KLM, dan Lufthansa, juga memperpanjang penghentian penerbangan ke Dubai. Dalam beberapa kasus, penangguhan itu berlaku hingga tahun depan.
Bandar Udara Internasional Dubai mencatat jumlah penumpang pada paruh pertama 2026 turun 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angkutan kargo udara juga merosot 29 persen.
Tekanan serupa terlihat di sektor perhotelan. Data Cavendish Maxwell menunjukkan tingkat hunian hotel pada paruh pertama tahun ini turun menjadi 56 persen, dari sekitar 80 persen pada 2025. Hotel-hotel kelas mewah dan premium mengalami penurunan paling besar.
Baca juga: Trump Bilang Militer Iran Sudah Hancur, Hegseth Rupanya Tidak Yakin
Penjualan Properti Mewah Merosot 59 Persen
Pasar properti Dubai juga mengalami tekanan. Indeks properti Dubai yang mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan sektor tersebut di bursa saham telah turun sekitar sepertiga dibandingkan level sebelum perang hingga Kamis.
Penjualan apartemen residensial selama musim semi merosot 31 persen. Penurunan paling tajam terjadi pada properti mewah. Betterhomes, agen properti yang berbasis di Dubai, mencatat penjualan properti dengan harga di atas 4 juta dolar AS turun hingga 59 persen.
Laporan Maariv menggambarkan perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan masih membayangi perekonomian negara-negara di pesisir selatan Teluk Persia. Bagi Dubai, dampaknya kini terlihat pada sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi emirat tersebut, mulai dari arus penumpang dan wisatawan hingga tingkat hunian hotel serta pasar properti. []
Baca juga: Pengamat: Serangan AS dan Israel Justru Satukan Rakyat Iran







