Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Trump Diminta Kubur Mimpi Menaklukkan Teheran

Published

on

Presiden AS Donald Trump dalam sorotan terkait kebuntuan perang Iran dan dorongan untuk kembali ke jalur diplomasi.
Presiden AS Donald Trump dalam sorotan terkait kebuntuan perang Iran dan dorongan untuk kembali ke jalur diplomasi.

Ahlulbait Indonesia, 8 Agustus 2026 – Washington dinilai perlu mengubah cara pandangnya terhadap perang Iran. Alih-alih menjadikan kesepakatan terbatas sebagai jalan menuju penyerahan penuh Teheran, Amerika Serikat perlu menerima bahwa kesepakatan yang realistis dan dapat diverifikasi, khususnya mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz, justru bisa menjadi jalan keluar yang paling mungkin dicapai.

Pandangan tersebut disampaikan Leon Hadar, analis isu internasional di Asia Times, dalam analisis yang dimuat Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA) pada Sabtu (8/8/26). Menurut Hadar, Iran tidak akan menerima penyerahan di bawah ancaman pemboman.

Baca juga: Araghchi Ajak Negara Tetangga Bertumpu pada Kekuatan Sendiri

Lima bulan setelah dimulainya apa yang kelak mungkin disebut para sejarawan sebagai “Perang Iran 2026”, Washington kembali menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman Amerika Serikat di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Mundur tidak mudah, tetapi mengklaim kemenangan juga semakin sulit.

Pernyataan Donald Trump yang berubah-ubah, mulai dari ancaman melancarkan “serangan terbesar sejak Perang Dunia II”, kemudian klaim bahwa kesepakatan sudah dekat, hingga bantahan Teheran mengenai adanya perundingan, menurut Hadar, lebih mencerminkan kebuntuan daripada strategi diplomasi yang jelas.

Persoalannya terletak pada jarak antara apa yang bisa dicapai kekuatan militer dan apa yang ingin dicapai secara politik. Amerika Serikat dan Israel telah merusak sejumlah infrastruktur militer Iran, menyerang fasilitas terkait program nuklir, dan menewaskan sejumlah komandan. Namun, semua itu belum menghasilkan pemerintahan di Teheran yang bersedia menerima syarat-syarat Washington.

Amerika Serikat juga belum menciptakan tatanan regional baru yang memungkinkan Angkatan Lautnya menjaga Selat Hormuz tanpa terus bergantung pada kekuatan militer. Dampaknya sudah terasa. Sejumlah kapal tanker memilih memutar melalui Afrika, sebuah tanda bahwa perang yang disebut terkendali telah menghasilkan konsekuensi yang melampaui medan tempur.

Keraguan Trump untuk memperluas perang, menurut Hadar, bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai kelemahan. Presiden AS itu berulang kali mengurungkan ancaman serangan besar, antara lain setelah mendapat dorongan dari negara-negara Teluk.

Baca juga: Yaman kepada Saudi: Pakta Makkah Tak Akan Mengubah Apa Pun

Negara-negara tersebut memiliki kepentingan langsung untuk mencegah konflik meluas. Mereka hidup di sekitar Selat Hormuz dan akan merasakan dampaknya jauh lebih cepat daripada Amerika Serikat. Jika jalur energi itu terganggu, mereka tidak memiliki kemewahan untuk menjauh dari kawasan dan menunggu krisis berlalu.

Masalahnya, ancaman yang terus digunakan sebagai alat tekan akan kehilangan daya jika terlalu sering diulang tanpa hasil. Ketika Gedung Putih menyatakan perundingan akan dimulai, sementara Teheran membantah adanya pembicaraan, kemampuan ancaman itu sebagai alat tawar-menawar pun dipertanyakan.

Hadar menilai Washington perlu meninggalkan setidaknya tiga asumsi yang selama bertahun-tahun membentuk kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pertama, menghancurkan kemampuan sebuah pemerintahan tidak sama dengan mencapai tujuan politik. Pengalaman Irak dan Libya menunjukkan bahwa merusak sebuah negara jauh lebih mudah daripada membangun tatanan baru setelahnya. Hal serupa, menurut Hadar, mulai terlihat dalam perang Iran. Semakin lama serangan berlangsung, semakin sulit pula membuka jalan menuju meja perundingan karena kelompok garis keras di kedua pihak memiliki kepentingan untuk mempertahankan konflik.

Kedua, sekutu-sekutu Amerika di kawasan tidak selalu bersedia menanggung biaya dari kebijakan Washington. Ketika Putra Mahkota Arab Saudi secara terbuka mendorong Trump memilih jalur diplomasi, pesannya cukup jelas. Negara-negara Teluk yang sebelumnya mungkin menyambut tekanan terhadap Teheran kini jauh lebih berhati-hati karena mereka berada tepat di sekitar Selat Hormuz.

Ketiga, Washington perlu memahami bahwa tidak adanya kesepakatan bukanlah kondisi yang netral. Setiap pekan tanpa kesepakatan membuat perang berisiko berubah dari krisis sementara menjadi kenyataan baru di kawasan.

Konflik tanpa titik akhir yang jelas pada akhirnya dapat membentuk kebijakan itu sendiri. Semakin lama perang berlangsung, semakin banyak kepentingan politik, militer, dan ekonomi yang ikut bergantung pada keberlangsungannya.

Baca juga: Trump Buntu, Gedung Putih Terjerat Kekacauan Politik

Menurut Hadar, peluang untuk keluar dari situasi tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak Mei dan Juni. Saat itu, negara-negara kawasan mendorong Trump menjauh dari pilihan serangan yang lebih besar, sementara kerangka awal kesepakatan mulai terbentuk.

Peluang tersebut, menurutnya, masih terbuka melalui pembicaraan awal yang dimediasi Oman mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Yang dibutuhkan Washington bukan semata-mata waktu, melainkan kemauan politik dan disiplin untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Intinya, Amerika Serikat perlu menerima bahwa kesepakatan terbatas dan dapat diverifikasi mengenai Selat Hormuz sudah merupakan tujuan yang nyata dan dapat dicapai. Kesepakatan tersebut tidak harus dijadikan batu loncatan menuju penyerahan penuh Iran. Teheran, menurut Hadar, tidak akan menerima penyerahan di bawah ancaman pemboman.

Ironisnya, Trump sendiri membangun sebagian reputasi politiknya dengan mengkritik perang tanpa akhir yang diwariskan para pendahulunya. Karena itu, keluar dari krisis Iran dengan hasil yang lebih baik daripada sekadar kebuntuan membutuhkan keputusan yang tidak mudah: menerima kesepakatan yang nyata dan terbatas hari ini, alih-alih terus mengejar kemungkinan penyerahan total Iran yang belum tentu pernah terjadi.

Pada akhirnya, kekuatan besar yang terus menunggu “pukulan terakhir” untuk membuat lawannya menyerah bisa saja justru terjebak dalam penantian tanpa akhir. Perang terus berjalan, sementara kemenangan yang dijanjikan tidak kunjung datang. []

Baca juga: Kuwait Tutup Satu-satunya Sekolah Iran