Ikuti Kami Di Medsos

Opini

BBC Bongkar Batas Kekuatan Washington dalam Perang Iran

Published

on

BBC menyoroti menipisnya persenjataan AS dalam perang Iran dan meningkatnya tekanan terhadap kemampuan Washington mempertahankan konflik.
BBC menyoroti menipisnya persenjataan AS dalam perang Iran dan meningkatnya tekanan terhadap kemampuan Washington mempertahankan konflik. (Foto: Tangkapan layar BBC)

Ahlulbait Indonesia, 8 Agustus 2026 – Perang dengan Iran mulai memperlihatkan batas kemampuan militer Amerika Serikat. Persediaan rudal pencegat dan amunisi presisi yang terkuras menjadi perhatian sejumlah media Barat, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Washington mempertahankan konflik berkepanjangan.

Dalam laporan berjudul “Mengapa media Amerika mengatakan Washington ‘terjebak’ dalam perang dengan Iran?”, BBC Persian menyoroti kekhawatiran mengenai semakin terbatasnya persediaan persenjataan AS setelah berbulan-bulan perang.

Baca juga: Jenderal Senior AS Dicopot Mendadak dari Komando Militer di Eropa

Mengutip perkiraan Center for Strategic and International Studies (CSIS), BBC menyebut Amerika Serikat sebelum perang memiliki sekitar 360 pencegat THAAD, 2.330 Patriot, 410 SM-3, dan 1.160 SM-6. Dalam 39 hari kampanye udara dan rudal sebelum gencatan senjata, Washington diperkirakan menggunakan 190–290 THAAD, 1.060–1.430 Patriot, 130–250 SM-3, dan 190–370 SM-6.

CSIS memperingatkan bahwa penurunan stok pencegat dapat meningkatkan risiko bagi AS dan sekutunya ketika menghadapi serangan rudal. Dalam analisis yang diterbitkan 27 Juli 2026, lembaga tersebut memperkirakan persediaan Patriot AS telah turun di bawah 1.000 unit, sementara THAAD berada di kisaran 250 unit.

Persoalan itu diperkuat laporan Reuters berjudul “What is the Patriot missile system and why are supplies depleted worldwide?” yang diterbitkan 7 Agustus 2026. Reuters melaporkan persediaan pencegat Patriot AS telah berkurang sekitar 65 persen. Arab Saudi bahkan diperkirakan telah menggunakan sekitar 86 persen stok PAC-3 dalam lebih dari satu bulan konflik.

Washington telah menyetujui penjualan lebih dari 5.000 pencegat kepada Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk membantu mengisi kembali persediaan yang terkuras. Amerika Serikat juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi sistem Patriot dan THAAD.

Tekanan tidak hanya terjadi pada sistem pertahanan udara. Reuters pada 4 Agustus melaporkan militer AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan sejumlah rudal presisi jarak jauh selama perang dengan Iran, termasuk ATACMS dan PrSM. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan Washington menghadapi konflik lain dalam waktu dekat.

Baca juga: Iran Rilis Puing Drone Amerika dan Israel yang Ditembak Jatuh IRGC

Jurnalis BBC Persian, Siavash Ardalan, turut menyoroti perubahan persepsi terhadap kekuatan militer Amerika di tengah laporan mengenai kekacauan perencanaan dan menipisnya persediaan senjata.

BBC Persian juga mengutip mantan Direktur CIA dan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta yang menilai sejumlah keputusan pemerintahan Trump telah membawa Washington ke posisi sulit. Panetta mengatakan harapan yang sebelumnya diletakkan pada jalur diplomasi telah gagal dan AS kini menghadapi persoalan bagaimana mengakhiri perang.

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa keunggulan militer tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyerang, tetapi juga kemampuan mempertahankan operasi dalam jangka panjang. Rudal pencegat dan amunisi presisi membutuhkan waktu untuk diproduksi kembali, sementara konflik berkepanjangan terus menggerus persediaan.

CSIS memperingatkan bahwa penurunan stok amunisi AS dapat menciptakan kerentanan terhadap kemungkinan konflik lain, terutama di kawasan Indo-Pasifik. Sejumlah jenis rudal membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi kembali dalam jumlah besar.

Baca juga: Trump Buntu, Gedung Putih Terjerat Kekacauan Politik

Dengan demikian, persoalan yang muncul dari perang Iran bukan hanya seberapa besar kemampuan Amerika Serikat melancarkan serangan, tetapi juga berapa lama Washington mampu mempertahankan intensitas perang tanpa mengorbankan kesiapan militernya menghadapi ancaman lain.

Perubahan narasi media Barat, dari penekanan pada keunggulan militer menuju pembahasan mengenai penipisan persediaan, kesiapan tempur, dan sulitnya mengakhiri perang, memperlihatkan satu persoalan strategis yang semakin sulit diabaikan: kekuatan militer sebesar apa pun tetap memiliki batas ketika berhadapan dengan perang yang menguras persediaan dan berlangsung dalam waktu panjang. []

Baca juga: Sekitar 700 Tentara AS Alami Cedera Otak Akibat Serangan Iran