Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Media Ibrani Benarkan Praktik Rasisme Sistematis terhadap Tenaga Medis Arab

Published

on

Tenaga medis di Rumah Sakit Rambam, Haifa, yang menjadi sorotan dalam laporan media Ibrani mengenai diskriminasi terhadap tenaga kesehatan Arab.
Tenaga medis di Rumah Sakit Rambam, Haifa, yang menjadi sorotan dalam laporan media Ibrani mengenai diskriminasi terhadap tenaga kesehatan Arab.

Ahlulbait Indonesia, 14 Agustus 2026 — Media Ibrani Zman Yisrael mengungkap praktik rasisme sistematis terhadap warga Arab di wilayah pendudukan Palestina, termasuk terhadap tenaga medis. Dalam laporan investigatif yang diterbitkan Kamis (13/8/2026) dan dikutip Kantor Berita Tasnim, media tersebut menyoroti bagaimana sebuah tuduhan yang belum terbukti berkembang menjadi kontroversi politik dan pemberitaan bernuansa rasial.

Kasus yang menjadi sorotan terjadi di Rumah Sakit Rambam, Haifa. Saudara seorang tentara Israel yang terluka parah di Lebanon dan kemudian dirawat di rumah sakit tersebut mengunggah tuduhan mengenai perlakuan terhadap saudaranya. Dalam unggahan itu, dia mempersoalkan penggunaan bahasa Arab oleh sebagian besar staf rumah sakit.

Baca juga: Iran Bantah Klaim AS soal Selat Hormuz, Kapal Wajib Berizin untuk Melintas

Menurut Zman Yisrael, persoalan bahasa tersebut tidak berkaitan dengan substansi tuduhan. Rumah Sakit Rambam menyatakan telah memeriksa kasus tersebut dan membantah klaim yang beredar. Namun, unggahan itu terlanjur menyebar luas di media sosial dan memicu kontroversi.

Tuduhan kemudian berkembang menjadi serangan terhadap tenaga medis Arab. Muncul klaim bahwa seluruh petugas dalam satu giliran kerja merupakan orang Arab. Dokumentasi yang dikutip Zman Yisrael menunjukkan setidaknya terdapat seorang dokter Yahudi yang mengenakan kipa di antara tenaga medis yang bertugas.

Meski demikian, sejumlah media Ibrani dan politisi dari koalisi pemerintahan maupun kelompok politik lainnya menggunakan kasus tersebut untuk menyerang warga Arab Palestina 1948. Zman Yisrael menilai pemberitaan berlangsung tanpa verifikasi memadai, sementara kontroversi tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Persoalan itu juga memperlihatkan besarnya peran warga Arab dalam sistem kesehatan Israel. Penelitian yang diterbitkan pada Februari 2025 mencatat bahwa sekitar 27 persen dokter yang bekerja di Israel merupakan warga Arab Palestina 1948. Proporsinya meningkat dari 9 persen pada 2010 dan 7 persen pada 1990.

Warga Arab juga mencakup sekitar 27 persen perawat dan 49 persen apoteker. Pada 2023, sebanyak 45 persen izin praktik kedokteran diberikan kepada warga Arab dan Druze. Menurut laporan tersebut, hampir separuh dokter baru berasal dari kedua kelompok itu, di tengah keluarnya tenaga profesional berpendidikan dari wilayah pendudukan Palestina.

Kondisi tersebut terlihat jelas di wilayah utara yang memiliki populasi Arab lebih besar. Rumah Sakit Rambam, sebagai rumah sakit terbesar di kawasan itu, melayani masyarakat dengan proporsi warga Arab yang tinggi sehingga komposisi tenaga kesehatannya turut mencerminkan demografi setempat.

Baca juga: Trump Pecat Juru Bicara Gedung Putih Caroline Leavitt

Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memberikan tanggapan sebelum pemeriksaan rumah sakit selesai. Katz mengatakan telah memerintahkan militer Israel untuk melakukan “penyelidikan atas tuduhan tersebut”.

Zman Yisrael mempertanyakan dasar hukum dan mekanisme penyelidikan tersebut. Katz tidak menjelaskan apakah perintah itu mencakup pemeriksaan terhadap dokter di rumah sakit.

Ben-Gvir juga menyerukan penyelidikan untuk menentukan apakah kasus tersebut dapat dikategorikan sebagai “pelecehan bermotif rasial”. Menurut laporan Zman Yisrael, langkah itu diambil sebelum hasil pemeriksaan awal atas kasus tersebut tersedia.

Media Ibrani itu juga menyoroti peran televisi dalam memperluas kontroversi. Channel 13 kembali mewawancarai saudara tentara tersebut tanpa memberikan penjelasan memadai mengenai status pemeriksaan rumah sakit. Menurut Zman Yisrael, klaim dalam wawancara tersebut disampaikan kepada pemirsa seolah-olah telah terbukti.

Channel 12 disebut mengambil pendekatan serupa dengan menyoroti apa yang digambarkan sebagai perlakuan brutal oleh tenaga medis keturunan Arab. Persoalan yang bermula dari unggahan Instagram tersebut akhirnya masuk ke media nasional tanpa verifikasi dan tanpa konteks yang memadai.

Baca juga: Hegseth: Opsi Militer AS terhadap Kuba Masih di Atas Meja

Zman Yisrael kemudian mengaitkan kasus Rambam dengan persoalan yang lebih luas. Menurut media tersebut, diskriminasi terhadap tenaga medis Arab telah terdokumentasi dan meningkat sejak peristiwa 7 Oktober.

Artikel Ynet pada Oktober 2023 juga mencatat bahwa sejak perang di Gaza dimulai, tenaga medis Arab menghadapi penghinaan, pasien yang menolak dirawat oleh mereka, serta tuduhan yang mengaitkan mereka dengan Hamas.

Laporan Zman Yisrael menempatkan rangkaian peristiwa tersebut sebagai gambaran mengenai diskriminasi yang dihadapi tenaga medis Arab dalam sistem kesehatan Israel. Kasus Rambam, menurut laporan itu, menunjukkan bagaimana tuduhan yang belum terverifikasi dapat berkembang melalui media dan kemudian dimanfaatkan dalam pertarungan politik. []

Baca juga: The Guardian Ungkap Krisis Kesehatan Mental Awak USS Abraham Lincoln