Internasional
CIA Pun Ragukan Intelijen Israel soal Ancaman Iran terhadap Trump

Ahlulbait Indonesia, 14 Agustus 2026 — Sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat meragukan informasi Israel mengenai kemungkinan Iran merencanakan pembunuhan terhadap Donald Trump di Turki. Washington Post melaporkan pada Kamis (13/8/2026), berdasarkan keterangan pejabat intelijen AS saat ini dan mantan pejabat, bahwa analis CIA menilai informasi tersebut tidak cukup meyakinkan.
Fars News Agency melaporkan pada Jumat (14/8/2026) bahwa informasi mengenai ancaman tersebut disampaikan intelijen Israel kepada CIA. Namun, para analis badan intelijen AS itu mempertanyakan kredibilitasnya dan menyampaikan keraguan kepada pejabat pemerintahan Trump.
Meski demikian, informasi tersebut mendorong Secret Service menjalankan operasi pengamanan khusus saat Trump menghadiri KTT NATO di Turki pada 7 hingga 8 Juli. Dalam operasi itu, Trump diam-diam dipindahkan dari Ankara menggunakan pesawat militer lain.
Baca juga: AS Klaim Ancaman Iran Paksa Trump Ganti Pesawat di Ankara
Sejumlah media Barat sebelumnya melaporkan kemungkinan Trump menjadi sasaran ancaman Iran selama berada di Turki. Washington Post kemudian mengungkap bahwa Secret Service menilai Boeing baru yang diberikan Qatar belum memiliki tingkat keamanan memadai untuk mengangkut Trump. Karena itu, Trump menggunakan Air Force One lama saat berada di Ankara.
Trump kemudian dipindahkan secara diam-diam dari pesawat tersebut menuju pesawat ketiga, Boeing C-32A milik Angkatan Udara AS. Dia selanjutnya terbang ke Inggris bersama sejumlah pembantu utamanya.
Sejak 2024, Trump telah menjadi sasaran tiga percobaan pembunuhan. Namun, badan-badan intelijen AS menyatakan tidak menemukan bukti yang menghubungkan para tersangka dalam ketiga kasus tersebut dengan Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan operasi pengamanan di Ankara tetap dijalankan meskipun terdapat keraguan terhadap informasi dari Israel. Menurut sumber tersebut, Secret Service memilih mengambil langkah pencegahan setelah sebelumnya menghadapi beberapa situasi yang membahayakan keselamatan presiden.
Dokumen dan keterangan pejabat AS yang dikutip Washington Post menyebut pesawat yang membawa Trump dari Ankara menuju Pangkalan Udara Mildenhall di Inggris mendapat pengawalan jet tempur F-16.
Baca juga: Keterlibatan Kanada dalam Perang terhadap Iran Mulai Terindikasi
Trump kemudian mengatakan keputusan untuk mengganti pesawat sepenuhnya berada di tangan Secret Service. Dia menyebut hanya mengikuti instruksi petugas untuk menggunakan pesawat lain dengan tingkat keamanan yang setara.
Di balik operasi tersebut, sejumlah pejabat intelijen AS menilai peringatan Israel mungkin tidak hanya bertujuan menyampaikan informasi keamanan. Mereka menduga peringatan itu juga dapat dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan Trump serta arah kebijakan Amerika Serikat di kawasan.
Seorang mantan pejabat yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Washington Post bahwa langkah itu sejalan dengan pola kerja intelijen Israel yang menurutnya dapat menggunakan laporan tertentu bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mengarahkan keputusan presiden.
Sementara itu, anggota Partai Demokrat mendesak pemerintahan AS memberikan penjelasan mengenai operasi pengamanan tersebut. Senator Chris Van Hollen mempertanyakan tingkat kredibilitas informasi yang diberikan Israel serta sejauh mana informasi tersebut dapat diverifikasi secara independen.
Van Hollen mengatakan Iran tentu akan menyambut baik kematian Trump. Namun, menurutnya, keseluruhan rangkaian peristiwa tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan dan tampak tidak lazim. []
Baca juga: The Guardian Ungkap Krisis Kesehatan Mental Awak USS Abraham Lincoln

