Internasional
Diplomasi Al-Jolani Tak Hentikan Israel, Nafsu Ekspansi Israel Makin Besar

Media ABI, 13 September 2026 – Hampir dua tahun diplomasi pemerintahan Abu Muhammad al-Jolani dengan Israel belum menghentikan operasi militer Tel Aviv di Suriah. Saat Damaskus terus mengandalkan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan keamanan, Israel justru memperluas penguasaan wilayah di selatan Suriah dan menegaskan tidak akan menarik pasukannya.
Surat kabar Lebanon Al-Akhbar, sebagaimana dilaporkan Fars Agency pada Sabtu (12/9/26), menyoroti kembali kegagalan jalur diplomasi tersebut ketika Jolani bersiap melakukan perjalanan ke Amerika Serikat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan Israel kini menguasai wilayah yang luas dari Gunung Hermon hingga Sungai Yarmouk dan dari kawasan itu menuju Laut Mediterania.
Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut ketika mengunjungi puncak Gunung Hermon, wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak akhir 2024. Dia menyebut penguasaan Israel di kawasan itu sebagai “kendali mutlak dan belum pernah terjadi sebelumnya”.
Israel juga telah memberlakukan kawasan demiliterisasi hingga mendekati Damaskus dan mendukung gagasan “pemerintahan otonom” di Suwayda, provinsi di ujung selatan Suriah.
Al-Akhbar menilai pernyataan Netanyahu tidak hanya mencerminkan kebijakan Israel terhadap Suriah, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan politik Netanyahu menjelang pemilihan Knesset pada 27 Oktober.
Baca juga: Penangkapan Kapal Selam Nirawak di Hormuz, Pesan Penting Buat Amerika
Damaskus Sudah Memenuhi Tuntutan
Sikap Netanyahu tersebut bukan pernyataan tunggal. Menteri Pertahanan Israel Katz, ketika mengunjungi Gunung Hermon pada 25 Agustus lalu, juga menyampaikan pesan kepada Jolani bahwa keberadaan pasukan Israel di kawasan itu akan dipertahankan untuk melindungi permukiman dan perbatasan Israel.
Katz menegaskan pasukan Israel tidak akan mundur.
Di sisi lain, pemerintahan Jolani memilih jalur diplomasi. Setelah pemerintahan sebelumnya jatuh, Suriah kehilangan sebagian besar kemampuan militernya. Sistem pertahanan udara termasuk yang paling terdampak setelah serangkaian serangan Israel menghantam infrastruktur militer Suriah.
Damaskus kemudian menyatakan kesiapan menerima sebagian besar tuntutan Israel, termasuk pembentukan kawasan demiliterisasi di selatan Suriah. Pemerintahan Jolani juga menaruh harapan pada Amerika Serikat dan sekutunya untuk mendorong tercapainya kesepakatan.
Selama sekitar satu tahun, pejabat Suriah bertemu dengan Israel melalui mediasi Prancis dan dengan dukungan Washington. Pembicaraan itu diarahkan untuk menghasilkan kesepakatan keamanan yang dapat menjadi jalan menuju normalisasi hubungan.
Rancangan yang didukung Amerika Serikat memuat sejumlah insentif ekonomi, termasuk pembentukan kawasan ekonomi di selatan Suriah. Pada saat yang sama, Suriah diminta memenuhi tuntutan Israel, antara lain memutus jalur pasokan kelompok Perlawanan di Lebanon dan memberikan jaminan tidak adanya ancaman terhadap Israel.
Kedua pihak bahkan telah menyusun rancangan nota kesepahaman yang rencananya ditandatangani saat Jolani berada di Amerika Serikat untuk menghadiri sidang Majelis Umum PBB.
Namun, kesepakatan itu tidak pernah ditandatangani. Israel menolak menandatanganinya dan pembicaraan pun terhenti.
Al-Akhbar menyebut Damaskus telah lebih dulu menjalankan seluruh tuntutan yang tercantum dalam rancangan tersebut dengan harapan Washington akan menggunakan pengaruhnya untuk menekan Israel. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Baca juga: Rudal Balistik IRGC Hantam Fasilitas F-35, F-16, dan F-15 di Pangkalan AS
Israel Tetap Bergerak hingga Dekat Damaskus
Pemerintahan Donald Trump juga belum mengambil langkah nyata untuk menghentikan operasi Israel. Al-Akhbar mengingatkan bahwa Trump pada 2019 mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari Israel.
Sejak itu, Israel terus melakukan operasi militer di wilayah Suriah, termasuk hingga kawasan dekat Damaskus. Pasukan Israel juga menguasai sumber air tawar dan melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran.
Salah satu serangan yang disoroti Al-Akhbar adalah serangan terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur di wilayah Idlib. Serangan itu disebut dilakukan dengan alasan mencegah Turki menggunakan pangkalan tersebut.
Pejabat Israel juga terus menyuarakan tuntutan agar wilayah Suriah tetap terbuka bagi pergerakan militer Israel. Pada saat yang sama, Tel Aviv menolak perluasan kehadiran militer Turki di Suriah.
Faktor Turki kemudian ikut membebani pembicaraan keamanan antara Damaskus dan Tel Aviv. Ankara kini memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam persoalan Suriah, sehingga kesepakatan antara Suriah dan Israel juga berkaitan dengan hubungan kedua pihak dengan Turki.
Hampir dua tahun setelah diplomasi dimulai, hasil yang diharapkan Damaskus belum tercapai. Operasi Israel terus berlangsung dan persoalan Suwayda tetap terbuka.
Israel turun tangan di Suwayda dengan alasan melindungi komunitas Druze. Al-Akhbar menyebut Tel Aviv bahkan memandang perkembangan di provinsi itu sebagai salah satu hasil dari perubahan politik di Suriah.
Baca juga: Yaman Serang Fasilitas Aramco dan Pangkalan Udara di Arab Saudi
Pertemuan Berlanjut, Israel Tak Bergeser
Pembicaraan Suriah dan Israel kembali berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Bulan lalu, Menteri Luar Negeri pemerintahan Suriah Asaad al-Shaibani bertemu dengan Kepala Mossad Ronen Bar di Amman dalam pertemuan yang dimediasi Amerika Serikat.
Hasil pertemuan itu tidak diumumkan secara terperinci. Pihak Israel hanya menyebut pembicaraan tersebut “berguna” dan mengatakan sebagian besar pembahasan berkaitan dengan perluasan kehadiran Turki di Suriah.
Sementara itu, persoalan yang lebih mendasar masih belum terselesaikan, termasuk tuntutan agar Suriah tidak memiliki kemampuan pertahanan dan pendudukan Israel atas wilayah selatan.
Menjelang kunjungan Jolani ke Amerika Serikat, Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah dan Irak Thomas Barrack menulis di akun X setelah bertemu Al-Shaibani di Ankara. Dia mengatakan diplomasi bukanlah pertunjukan, melainkan upaya menyelaraskan kepentingan sebelum perbedaan berubah menjadi krisis.
Beberapa jam kemudian, Netanyahu berada di puncak Gunung Hermon dan kembali menyampaikan ancaman kepada pemerintahan transisi Suriah.
Dua peristiwa itu berlangsung hampir bersamaan. Washington berbicara tentang diplomasi, sementara Israel tetap berada di wilayah Suriah yang didudukinya dan menegaskan tidak akan mundur. []
Baca juga: Mampukah Iran Meningkatkan Eskalasi Perang dengan AS?







