Perspektif ABI
Pidato Ketua Umum ABI: Makna Kemerdekaan dan Jalan Menuju Kedaulatan Sejati

Jakarta, 17 Agustus 2026 — Dalam rangka memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, menyampaikan pidato kebangsaan yang mengajak masyarakat merenungkan kembali makna kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Pidato tersebut disampaikan dan ditayangkan melalui kanal Media ABI TV pada Senin, 17 Agustus 2026, dari Jakarta. Dalam pidatonya, Ustadz Zahir Yahya menguraikan makna kemerdekaan secara lebih mendasar, sekaligus menyoroti keterkaitannya dengan kedaulatan, kesejahteraan, keamanan, serta pemenuhan hak-hak seluruh rakyat.
Naskah berikut merupakan hasil transkripsi dan penyuntingan editorial atas pidato tersebut. Penyuntingan dilakukan untuk memperbaiki kesalahan transkripsi otomatis, ejaan, tanda baca, dan struktur kalimat lisan agar lebih jernih dan mudah dibaca, dengan tetap mempertahankan substansi, alur argumentasi, serta pemikiran yang disampaikan pembicara.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Oleh-oleh dari Iran, Kesadaran Kolektif di Balik Lautan Manusia
Berikut naskah hasil transkripsi pidato Ketua Umum ABI, Ustadz Zahir Yahya:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Para pemirsa, saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Di antara sekian banyak nikmat dan anugerah Tuhan, kenikmatan berupa kemerdekaan dari penindasan dan penjajahan adalah yang paling utama. Sebab, kemerdekaan berperan penting dalam menentukan nasib, atau bahkan takdir, suatu bangsa. Selama sebuah bangsa belum terbebas dari tirani dan penjajahan, tentu mereka akan sulit berkembang.
Potensi dan bakat mereka akan sulit berkembang. Mereka juga tidak akan mampu memanfaatkan berbagai program pembangunan, baik yang ditujukan untuk membangun jiwa maupun raga mereka.
Dalam hal ini, salah seorang pemimpin insan-insan merdeka, yaitu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., menyebut kematian sebagai kehidupan tanpa kemerdekaan dan menyebut kehidupan sebagai kematian dalam rangka memperoleh kemerdekaan:
فَالْمَوْتُ فِي حَيَاتِكُمْ مَقْهُورِينَ، وَالْحَيَاةُ فِي مَوْتِكُمْ قَاهِرِينَ
Fa al-mawtu fī ḥayātikum maqhūrīn, wa al-ḥayātu fī mawtikum qāhirīn.
Para pemirsa sekalian,
Di hari seperti hari ini, tentu bangsa Indonesia bersama-sama merayakan hari kemerdekaan mereka. Tentu hal ini patut dilakukan dan dilaksanakan oleh seluruh bangsa Indonesia.
Namun, para pemirsa sekalian, di saat mereka merayakan hari yang penuh berkah ini, pada saat yang sama sebenarnya mereka juga berhak mendapatkan penjelasan tentang sebuah pertanyaan yang amat sangat krusial.
Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI: Idul Adha, Tauhid, dan Jalan Persatuan Umat
Pertanyaannya adalah seputar arti kemerdekaan itu sendiri. Apakah kemerdekaan merupakan sesuatu yang baik dengan sendirinya? Ataukah kemerdekaan menjadi baik karena melalui kemerdekaan suatu bangsa akan menjadi sejahtera, dapat merasakan keamanan, dan dapat meraih seluruh haknya sebagai sebuah bangsa?
Apabila sebuah bangsa dan sebuah negara mengaku sudah merdeka, tidak ada pasukan militer asing yang menduduki negara mereka, dan pada saat yang sama telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, namun rakyatnya belum sejahtera, rakyatnya belum dapat merasakan keamanan, dan rakyatnya belum mendapatkan hak-haknya, maka pertanyaannya menjadi sangat penting.
Jika kemerdekaan dikatakan baik karena ia dapat mendatangkan hal-hal tersebut, maka pada hari kemerdekaan seperti hari ini kita tidak bisa menghibur diri hanya dengan mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang sudah merdeka dan kini tengah memperingati hari kemerdekaan yang ke-81.
Benar bahwa memperingati hari kemerdekaan adalah sesuatu yang perlu, bahkan sangat perlu. Namun, para pemimpin negeri ini khususnya dan seluruh rakyat pada umumnya harus dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan panjang selama delapan dasawarsa, agar mereka tetap mampu mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan sebagai nikmat dan anugerah harus menjadi milik seluruh warga, seluruh rakyat, dan bukan hanya sebagian rakyat.
Para pemirsa,
Kementerian Sekretariat Negara merilis tema resmi untuk peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun 2026. Temanya adalah “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Apabila kedaulatan berarti hak eksklusif dan penuh untuk berkuasa, yang apabila disandingkan dengan keberadaan wilayah teritorial tertentu, keberadaan pemerintahan, dan keberadaan rakyat, maka muncullah fenomena yang disebut negara.
Apabila kedaulatan berarti hak eksklusif dan penuh untuk berkuasa, maka kebebasan dan kemerdekaan adalah variabel turunan dari kedaulatan tersebut.
Baca juga: Pidato Sekretaris Dewan Syura ABI tentang Peristiwa Ghadir Khum
Sebuah negara hanya bisa disebut berdaulat ketika ia merdeka dalam kaitannya dengan menentukan kebijakan-kebijakan dan politik luar negerinya. Ketika mereka merdeka dalam menetapkan berbagai program pembangunan nasionalnya. Ketika mereka juga merdeka dalam merancang dan memutuskan undang-undangnya.
Seluruhnya harus ditentukan berdasarkan kepentingan nasional mereka, bukan karena campur tangan asing, bukan karena tekanan asing, atau bahkan tekanan dari kekuatan dalam negeri sekalipun, dari mereka yang biasa disebut sebagai kekuatan oligarki atau bahkan geng-geng mafia ekonomi dan lainnya.
Kolonialisme dalam arti kekuatan militer yang menduduki negeri ini memang sudah lama hengkang. Memang sudah lama tidak ada lagi di negeri ini.
Dari sisi lain, kita juga sudah mendapatkan pengakuan internasional bahwa kita adalah negara yang merdeka dan berdaulat.
Namun, para pemirsa sekalian, kita perlu bertanya:
Apakah negeri ini sudah benar-benar merdeka dalam menentukan seluruh kebijakan dalam negeri dan luar negerinya?
Apakah negeri ini sudah benar-benar merdeka dalam menetapkan seluruh undang-undangnya dan hanya berlandaskan kepentingan serta tata keyakinan dan tata budaya yang diyakininya sendiri?
Bukan karena pengaruh atau campur tangan asing, bukan karena tekanan dalam bentuk apa pun, bisa jadi dalam bentuk kenaikan tarif dan lainnya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus bisa dijawab, karena jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menentukan seberapa besar sebenarnya kita telah merdeka, atau barangkali kita tengah menuju kepada sebuah kemerdekaan.
Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa
Para pemirsa,
Ada yang menarik dalam tinjauan etimologis berkenaan dengan kata kemerdekaan.
Dalam bahasa Arab, kemerdekaan disebut dengan istiqlal. Istiqlal dan kata qalil, yang berarti sedikit, berasal dari asal kata yang sama. Qalil berarti sedikit, sedangkan istiqlal berarti menyedikitkan atau mengurangi.
Sebuah bangsa yang berusaha untuk hidup merdeka pada hakikatnya tengah berusaha untuk mengurangi dan menyedikitkan ketergantungannya kepada pihak asing.
Karena, sejauh mana sebuah bangsa tidak tergantung kepada yang lain, kepada bangsa lain, maka sekadar itu pula ruang gerak dan manuvernya. Semakin ia tidak bergantung, semakin luas dan besar ruang untuk bergerak dan bermanuver.
Sebaliknya juga demikian. Semakin besar ketergantungan suatu bangsa, semakin sempit gerak dan manuvernya.
Oleh sebab itu, suatu bangsa yang dalam upaya membangun dirinya bergantung kepada bangsa lain dalam bentuk utang dan lainnya, berutang kepada Bank Dunia, berutang kepada IMF, berutang kepada negara adidaya, maka sudah bisa dipastikan bahwa bangsa dan negara yang bergantung kepada bangsa lain, kepada negara lain untuk membangun dirinya, tidak mungkin mampu berdiri tegak di hadapan negara tersebut.
Tidak akan mampu untuk suatu saat melawan negara tersebut.
Baca juga: Ustadz Husain Syahab: Di Tengah Heningnya 1,4 Miliar Umat, Karbala Tetap Bergema
Para pemirsa,
Saya ingin mengajak para pemirsa seluruhnya untuk memperhatikan perkembangan yang akhir-akhir ini terjadi di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa suatu bangsa bisa menjadi kuat dan bahkan menjadi pemenang dalam kancah internasional, bahkan dalam menghadapi kekuatan adidaya, ketika mereka memiliki, mencintai, dan berpegang teguh kepada tata keyakinan dan tata budaya mereka.
Ketika seluruh rakyatnya berpegang teguh pada keyakinannya, maka perkembangan terakhir menunjukkan bahwa bangsa seperti itu mampu bukan hanya bertahan, tetapi justru mengalahkan musuh-musuhnya.
Dalam dunia kontemporer, tentu kita akan sulit mendapatkan entitas politik sebagai bangsa atau sebagai negara yang seluruh anggota rakyatnya memiliki keyakinan yang sama dan memiliki budaya yang sama.
Namun, hal itu tidak diperlukan, para pemirsa.
Kita tidak perlu sama dalam semua aspek keyakinan.
Namun, pemahaman bahwa kita memiliki musuh bersama akan mampu membuat kita kuat dengan bersandar kepada keyakinan dan budaya yang kita miliki.
Contoh dalam kemerdekaan bangsa Indonesia amat sangat jelas.
Satu budaya bernama budaya kebangsaan yang lahir dari budaya perlawanan, yang pada gilirannya lahir dari pemahaman keagamaan berupa kewajiban untuk melawan kezaliman, mampu memerdekakan bangsa ini.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha
Bangsa-bangsa di Nusantara yang berbeda-beda secara keyakinan dan budaya, namun mereka merasa memiliki nasib yang sama sebagai bangsa-bangsa yang dijajah, dengan hanya meyakini dan berpegang teguh pada budaya kebangsaan, mereka berhasil memerdekakan diri dari para penjajah.
Itulah kenapa kita sebagai sebuah bangsa, kita sebagai rakyat Indonesia, tidak penting apakah kita sama atau berbeda dalam keyakinan.
Kita bisa tidak sewarna dalam keyakinan-keyakinan kita masing-masing.
Namun, cukup bagi kita menyadari kebenaran yang sama dan bersifat universal tentang keharusan untuk bertahan, untuk melawan kezaliman.
Maka hal tersebut akan mampu membuat kita tetap mempertahankan kemerdekaan ini, persis seperti para leluhur kita berhasil meraih kemerdekaan karena mereka meyakini nilai-nilai yang sama.
Ketahuilah bahwa kemerdekaan adalah warisan dan buah hasil dari pengorbanan para leluhur yang harus kita jaga bersama.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka!
Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Pemakaman Imam Syahid Menjadi Klimaks 47 Tahun Revolusi Islam







