Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha

Published

on

Ustadz Zahir Yahya dalam sambutan di Kantor DPP ABI pada 28 April 2026. (Dok.ABI)

Jakarta, 30 April 2026 — Berikut transkrip sambutan Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, Ustadz Zahir Yahya, dalam rapat rutin di Kantor Pusat DPP ABI yang dihadiri seluruh Dewan Pengurus Pusat pada Selasa (28/4/2026).

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita bisa menghadiri acara rapat kedua setelahnya. InsyaAllah, akan banyak yang bisa kita ketengahkan dan bahas bersama.

Mungkin sedikit kita singgung event keagamaan yang akan segera kita lewati, tepatnya nanti malam dan esok hari, yaitu hari kelahiran Imam Ridha a.s.

Kita tahu, Imam Ridha a.s. adalah cahaya ke-8 dari rangkaian para Imam Ahlul Bait a.s. Beliau menjalani kehidupan yang agak unik, penuh pelajaran, serta punya pengaruh nyata pada proses kehidupan masyarakat Ahlul Bait, masyarakat yang mengikuti Ahlul Bait di kawasan Timur, yaitu bumi atau negeri Khorasan.

Kita semua sudah mendengar bahwa beliau mengalami pemaksaan dari penguasa pada masanya untuk bergabung ke istana dan menjadi putra mahkota. Itu adalah peristiwa yang sangat spektakuler dari kehidupan Imam Ali Ridha a.s.

Sebelum menyinggung peristiwa ini dan apa pelajaran serta efek yang kita saksikan bersama dari sejarah Imam Ali Ridha a.s. dalam kehidupan kontemporer umat Syiah pada masa sekarang, perlu kita ketahui bersama, teman-teman sekalian, bahwa para Imam Ahlul Bait secara keseluruhan, selain mereka disebut, dikenal, dan memiliki posisi sebagai penjaga-penjaga rahasia Allah, sebagaimana ditegaskan dalam doa Ziyarah Jami’ah al-Kabirah bahwa mereka adalah “wa hafadzhoti sirrillahi” (para penjaga rahasia Allah), selain posisi itu, para Imam Ahlul Bait sendiri dalam apa yang mereka lakukan berupa langkah-langkah besar dan penting dalam kehidupannya, mereka juga menyimpan banyak rahasia.

Jadi ada dua sisi permasalahan:
1. Di satu sisi, mereka adalah penjaga rahasia Allah.
2. Di sisi lain, mereka sendiri menghadirkan banyak rahasia dalam kehidupan mereka, dalam tindakan-tindakan besar yang mereka ambil.

Artinya apa? Artinya, banyak hal dari langkah dan tindakan mereka pada hakikatnya adalah rahasia-rahasia yang seringkali tidak tersingkap, apa maksud dan tujuan dari apa yang mereka lakukan, setidaknya di era mereka, bahkan di beberapa kurun setelah masa mereka. Jadi banyak tindakan dan langkah Ahlul Bait yang menyisakan berbagai pertanyaan dan rahasia yang belum terungkap. Butuh waktu sekian lama untuk bisa memahami apa sebenarnya di balik langkah-langkah besar yang dilakukan oleh para Imam Ahlul Bait.

Ketidakpastian dan ketidakjelasan latar belakang tujuan dari apa yang mereka lakukan itu menjadi sumber ujian tersendiri bagi para pengikut, setidaknya pada zamannya, utamanya mereka yang dalam beragama tidak mengandalkan unsur “taslim” dan berserah diri kepada para Imam Ahlul Bait.

Kita tahu bahwa Islam secara substansi adalah sikap berserah diri. Dalam mengikuti para Imam Ahlul Bait, unsur terpenting selain ma’rifat (pengenalan) terhadap Ahlul Bait adalah unsur “taslim”, keberserahan. Artinya, menyerahkan segala sesuatu kepada para Imam Ahlul Bait. Selama mereka sudah memahami bahwa sosok-sosok Ahlul Bait adalah para imam yang memiliki hak untuk dipatuhi, diikuti, dan secara intelektual mereka sudah terpuaskan bahwa posisi para Imam adalah pemimpin yang harus diikuti, seharusnya pengetahuan seperti itu mengantarkan mereka kepada sikap “taslim”.

Sayangnya, seringkali muncul sikap-sikap egois, di mana orang kemudian mengedepankan apa yang menjadi kesimpulan dan pemahaman pribadinya, sehingga tidak bersikap taslim kepada para Imam Ahlul Bait. Itulah yang kemudian kita saksikan dalam berbagai peristiwa besar dan langkah-langkah besar yang diambil para Imam. Dalam prakteknya, hal itu menyebabkan sebagian pengikut mereka gagal untuk membersamai Ahlul Bait.

Mereka kemudian menolak, mengkritik, menentang, bahkan benar-benar menjauhkan diri dari para Imam. Itulah yang terjadi pada era Imam Husain, era Imam Hasan, dan era para Imam berikutnya. Betapa banyak orang yang tidak bisa membersamai Imam Husain ketika beliau mengumumkan kebangkitan dengan jumlah yang amat sedikit, membawa para wanita dan anak-anak yang menurut pemahaman banyak orang dianggap kurang rasional, kurang tepat, dan lain sebagainya. Akibatnya, mayoritas umat Islam bahkan gagal mengikuti beliau.

Hal serupa terjadi pada Imam Hasan, justru kondisinya berbalik. Saat itu, Imam Hasan menyuarakan perdamaian. Sebagian umat Islam bahkan pengikut beliau mempertanyakan, “Kenapa harus damai?” Di masa Imam Husain, ketika beliau bangkit, mereka mempertanyakan, “Kenapa harus bangkit?” Intinya, banyak yang gagal membersamai beliau karena hal-hal yang tidak tersingkap bagi para pengikut. Mereka yang berpikir dengan sikap egois, mendahulukan pemahamannya sendiri dan tidak berserah diri pada imamnya, akhirnya gagal membersamai.

Dalam konteks kehidupan Imam Ali Ridha a.s., juga terjadi hal seperti ini. Sangat-sangat nyata pengaruhnya. Sebagian pengikut gagal membersamai beliau, tepatnya ketika Ma’mun meminta Imam Ali Ridha untuk bergabung ke istana menjadi putra mahkota, putra mahkota dari Ma’mun, anak dari Harun al-Rashid, yang notabene adalah pembunuh ayah beliau, Imam Musa al-Kadzim a.s.

Keputusan Imam Ridha a.s. untuk menerima itu, karena keterpaksaan, tidak dipahami sebagian pengikutnya. Banyak yang mempertanyakan, bahkan menentang. “Kenapa mau gabung dengan penguasa?” Banyak yang na’udzubillah kemudian berbicara bahwa beliau mencari aman, mencari kehidupan nyaman. Ada yang mempertanyakan, “Kenapa memperlakukan baik penguasa yang merupakan pembunuh ayahnya sendiri?” Berbagai kritikan dan kesalahpahaman timbul. Sebagian betul-betul meninggalkan Imam Ali Ridha a.s.

Situasinya cukup sulit. Padahal, Imam Ridha a.s. mengiyakan dan menerima ajakan Ma’mun karena sebuah keterpaksaan murni. Beliau awalnya menolak. Kurir Ma’mun yang akan menyampaikan ajakan, tidak diterima. Kemudian Ma’mun mengancam akan membunuhnya. Maka Imam Ali Ridha a.s. menerima dalam situasi betul-betul terpaksa dan terancam kehidupannya.

Ma’mun punya rencana dan tendensinya sendiri. Ada maksud-maksud jahat di balik ajakan itu. Tapi Imam Ridha a.s. merencanakan upaya menetralisir rencana-rencana jahat Ma’mun dengan cara yang beliau lakukan secara luar biasa, sehingga efek yang dimaukan Ma’mun tidak terwujud. Salah satunya, dalam rangka menjustifikasi kekuasaan Abbasiyah bahwa mereka sejalan dengan Ahlul Bait, terbukti tokoh Ahlul Bait ikut bergabung dengan mereka. Namun sepanjang sejarahnya, Imam Ridha mencoba menetralisir dampak-dampak itu.

Hal yang sebetulnya menjadi pelajaran luar biasa, dan para ulama kita mengatakan sebagai rahasia tersembunyi setidaknya di era beliau dan beberapa kurun setelahnya, adalah bahwa sesungguhnya Imam Ridha a.s. tengah mempersiapkan sesuatu yang jauh ke depan. Dampak positifnya sebetulnya tengah kita rasakan sampai sekarang ini. Bahwa Imam Ridha a.s., dengan bergeser dan merapat ke negeri Khorasan, dengan penuh yakin kita katakan, beliau tengah mempersiapkan Khorasan, negeri timur Iran sekarang, sebagai pusat Syiah dan pusat Islam yang akan memainkan peran inti bagi kelestarian Islam di masa-masa yang akan datang.

Mengapa beliau melakukan itu? Tentu ada alasannya. Imam Ridha a.s. ingin menjadikan Khorasan sebagai markas penyebaran Islam, markas tasyayyu’ yang akan lestari sepanjang zaman.

Kita agak heran ketika ada para imam Ahlul Bait sebelum beliau berbicara tentang pentingnya menziarahi Imam Ridha a.s. di kemudian hari. Kalau para Imam yang datang setelah Imam Ridha kemudian bercerita tentang keutamaan menziarahi beliau, itu hal biasa. Tapi yang unik: para imam seperti Imam Ja’far Shadiq a.s. berbicara tentang keutamaan menziarahi cucunya yang akan lahir kemudian dan akan syahid kemudian. Itu terjadi hanya untuk Imam Ridha a.s. Ini bagian dari upaya mempersiapkan negeri ini menjadi pusat bagi umat Syiah. Tidak sedikit kita temukan hadis-hadis dari Imam Ja’far Shadiq yang berbicara tentang pentingnya menziarahi Imam Ridha a.s., padahal beliau belum lahir saat itu. Ini semua dipersiapkan sebagai upaya mempersiapkan Khorasan menjadi pusat bagi umat Syiah.

Inilah mengapa Imam Ridha a.s. melakukan gerakan secara keseluruhan. Bukan hanya beliau yang bermigrasi ke Khorasan. Sejarah menyebutkan bahwa keluarga Ahlul Bait juga digerakkan untuk bermigrasi ke Khorasan. Dari berbagai arah, datanglah kafilah dan rombongan Ahlul Bait yang bergabung untuk berada di sekitar Imam Ridha a.s. Banyak di antaranya yang mengalami pertempuran di jalan dan gugur karena jalan yang mereka lewati banyak dikuasai pengikut penguasa Bani Abbas, sehingga menyebabkan gugurnya para syuhada yang tidak sedikit.

Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi pada rombongan Sayyidah Maksumah, putri Imam Musa al-Kadzim a.s. Beliau akhirnya sakit dan gugur, dan sekarang dimakamkan di Qom. Hal serupa terjadi dari arah yang berbeda. Secara keseluruhan, sampai beberapa tahun terakhir ini tercatat data yang menyebutkan bahwa di Iran tidak kurang dari 6.000 makam Imamzadeh (makam anak-anak Imam) di seluruh negeri Iran. Terjadinya kebanyakan di era Imam Ridha a.s., tahun 200-203 H, di mana banyak migrasi terjadi ke Iran. Mereka berada di bentangan negeri Iran dan masing-masing menjadi simpul yang didatangi masyarakat muslim, menjadi situs-situs yang dihormati, dan menjadi titik-titik yang menyinari masyarakat di sekitarnya.

Bayangkan, 6.000 makam Imamzadeh. Tentu di masa hidupnya, mereka aktif di daerah masing-masing. Kemudian ketika meninggal, makamnya menjadi makam Imamzadeh. Terbesar di antaranya makam Sayyidah Maksumah di Qom, kemudian Sayyid Muhammad putra Imam Musa al-Kadzim di kota Shiraz yang dikenal dengan Syech Cherak. Itu semua bagian dari rencana besar bagaimana Iran dipenuhi dengan simpul-simpul Ahlul Bait, sehingga mereka yang tadinya merupakan entitas yang berserak hanya di 2-3 titik di Iran (awalnya di Qom, Sabzawar, dan 1-2 titik lainnya), dengan kehadiran mereka terjadi penyebaran. Ini masuk dalam tujuan besar Imam Ali Ridha a.s.

Kemudian, Imam Ridha a.s. memanfaatkan posisinya sebagai putra mahkota. Tentu beliau melakukan penyebaran ajaran Ahlul Bait dengan lebih leluasa. Beliau tidak aktif sama sekali dalam kerja-kerja istana, bahkan itu syarat beliau menerima posisi putera mahkota, beliau tidak ingin dilibatkan dalam aktivitas istana apapun. Tapi beliau menggunakan kesempatan dan posisinya untuk melakukan dakwah dan penyebaran ajaran Islam ke berbagai kawasan. Dan menjadikan komunitas pengikut Ahlul Bait sedemikian tumbuh secara intelektual, sehingga mereka bisa menerima fakta bahwa Imam Ali Ridha a.s. digantikan oleh Imam Jawad a.s. di usia 8 tahun.

Fakta itu sebetulnya menjadi challenge pemikiran yang luar biasa besar bagi masyarakat pengikut Ahlul Bait: bagaimana kemudian mereka dipimpin oleh imam dengan usia 8 tahun? Tapi karena Imam Ridha a.s. mempersiapkan hal itu, fakta ini tidak mengoncang masyarakat Syiah. Fakta bahwa mereka dipimpin oleh Imam Muhammad Jawad a.s. dengan usia 8 tahun tidak menimbulkan keretakan apa-apa. Ini sebetulnya indikator kuat bahwa masyarakat Syiah sedemikian tumbuh secara intelektual sehingga mereka menerima fakta itu. Bahkan menerima fakta yang sangat luar biasa yang dituangkan dalam Ziarah Jami’ah oleh Imam Ali al-Hadi a.s., putra Imam Muhammad al-Jawad a.s.

Hal-hal yang sebetulnya—kalau teman-teman tidak akrab dengan Ziarah Jami’ah, isinya bagi kalangan non-pengikut Ahlul Bait menjadi sulit dimengerti. Posisi-posisi yang luar biasa agung. Syekh Jawadi Amuli dalam salah satu statementnya mengatakan bahwa kalau mengenali Tuhan itu bisa melalui asma dan sifat-Nya dalam doa Jausyan, maka mengenali Ahlul Bait bisa melalui Ziarah Jami’ah. Beliau bahkan mengatakan Ziyarah Jami’ah itu seperti Jausyan-nya Ahlul Bait, karena kandungannya sangat tinggi. Itu butuh kesadaran yang luar biasa. Itu dihadirkan oleh Imam Ali al-Hadi di tengah masyarakat Syiah, dan masyarakat Syiah bisa menerimanya tanpa penolakan, padahal kandungannya sangat-sangat menantang untuk dimengerti secara intelektual. Di saat sekarang pun orang butuh syarah-syarah untuk bisa memahami posisi-posisi besar yang dituangkan dalam Ziarah Jami’ah.

Itu semua adalah bagian dari keberhasilan langkah Imam Ridha a.s. Dari satu sisi, mempersiapkan kawasan Khurasan menjadi pusat markas Syiah. Dari sisi lain, menyebarkan dan menumbuhkan intelektualitas masyarakat Syiah untuk bisa menerima fakta-fakta kebenaran yang jauh lebih menantang, termasuk di antaranya keimaman Imam Muhammad al-Jawad a.s. yang dalam usia 8 tahun.

Pertanyaannya, kenapa Imam Ridha a.s. mempersiapkan kawasan ini menjadi pusat Syiah dengan semua cara? Dengan mengerahkan semua Ahlul Bait untuk migrasi ke sana, dengan anjuran-anjuran tentang besarnya keutamaan menziarahi beliau? Ada berbagai hadis yang mungkin di kesempatan lain bisa kita sampaikan. Salah satu diantaranya menyebutkan bahwa menziarahi beliau setara dengan seribu haji. Perawi yang mendengar terheran-heran mengatakan, “Seribu haji?” Imam al-Hadi a.s. mengatakan, “Seribu-ribu haji,” artinya sejuta haji. Jadi kepada yang heran dengan statement bahwa menziarahi Imam Ridha setara dengan seribu haji, beliau justru melipatgandakan: bukan seribu haji, sejuta haji. Itu bagian dari upaya mengerahkan masyarakat muslim, pengikut Ahlul Bait, untuk berbondong-bondong ke sana. Tentu bukan hanya secara fisik, tetapi bagaimana menjadikan pusat Khurasan sebagai pusat bagi kebersyiahan.

Lalu, kenapa Imam Ridha mempersiapkan hal itu? Karena kakek-kakek beliau, Rasulullah dan Imam Ali, memiliki perhatian khusus kepada negeri ini. Perhatian yang luar biasa, di mana mereka menggambarkan bahwa mereka yang berada di negeri inilah yang akan mempersiapkan kehadiran Shahibuz Zaman, yang akan membawa Islam, yang akan memperjuangkan Islam.

Itulah kenapa kita mendapatkan banyak hadis dari Rasulullah yang menjelaskan tentang posisi kaum Salman. Dan kebetulan hari-hari ini kita sering mendengar dari banyak tokoh, ulama yang tadinya mungkin berpandangan negatif tentang Syiah, sekarang sering menyampaikan makna dari surat Muhammad. Dan itu bukan satu-satunya. Di surat Jumu’ah juga ditafsirkan sebagai orang-orang dari negeri Timur, kemudian di beberapa surat lainnya ayat-ayat Al-Qur’an yang semuanya dikaitkan dengan tafsir Ahlul Bait dengan peran orang-orang di negeri Timur, di Khorasan.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s. memiliki treatment dan perlakuan yang istimewa terhadap orang-orang Persia. Di era beliau, orang-orang Persia disebut sebagai mawali (budak) oleh kalangan Arab pada saat itu. Di era khalifah pertama sampai ketiga, mereka mengalami diskriminasi yang luar biasa, bahkan disebut budak, tidak mendapatkan hak mereka. Imam Ali memperlakukan mereka berbeda, sama sekali. Bukan hanya berlaku adil, tetapi mendekatkan mereka kepada beliau.

Suatu saat di Masjid Kufah, ada As’ad bin Qais, bapak dari Ja’dah (istri Imam Hasan yang membunuh Imam Hasan), bapak dari Muhammad bin As’ad (salah satu yang membunuh Imam Husain di Karbala). Dia protes kepada Imam Ali, “Kenapa Anda terlalu mengistimewakan para mawali ini? Kenapa orang-orang yang selama ini kita anggap budak, Anda perlakukan sedemikian rupa istimewa?”

Imam Ali terdiam sejenak, kemudian memberikan jawaban. Saya bacakan teksnya, dan ini menggambarkan situasi yang terjadi sekarang. Imam Ali menjawab kepada As’ad bin Qais:

“Layaḍribunnakum ‘alad-dīni ‘audan, kamā ḍarabtumūhum bad’a.”

Orang-orang inilah yang akan memukul kalian berdasarkan agama, sebagaimana kalian memukul mereka selama ini.”

Itu adalah hadist dari Imam Ali bahwa mereka lah yang akan memukul kalian berdasarkan agama, sebagaimana selama ini kalian memukul dan memuasyakan mereka. Mereka akan memukul kalian berdasarkan agama. Dan tentu itulah yang mungkin kita saksikan di hari-hari ini. Mata dunia mulai melihat betapa Khurasan yang sekarang adalah Iran memainkan peran utama dalam menjaga Islam, menjaga martabat umat Islam di seluruh dunia dengan langkah-langkah yang mereka ambil.

Dan ini semua tidak akan pernah terjadi tanpa peran Imam Ali Ridha a.s. yang mempersiapkan Khurasan untuk menjadi pusat kebangkitan, dan mempersiapkan orang-orang Syiah di sana untuk bisa menerima berbagai kebenaran dan ajaran Ahlul Bait. Karena para Imam yakin, merekalah yang akan memainkan peran di akhir zaman, sebagaimana diwartakan oleh Rasulullah dan lainnya, termasuk di antaranya Imam Baqir a.s. yang berbicara tentang kaum dari Timur yang akan meminta hak mereka, ditolak; meminta lagi, ditolak; meminta lagi, ditolak; sampai mereka menghunus pedang. Dan pada saat itu mereka tidak lagi mau menerima hak dari orang-orang itu. Mereka akan terus berperang sampai menyerahkan panji kebangkitan mereka kepada Shahibuz Zaman.

Itulah mungkin pelajaran penting dari peristiwa kelahiran Imam Ali Ridha a.s. yang tepatnya jatuh pada hari esok.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.