Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Pidato Wakil Ketua Umum ABI: Idul Adha, Tauhid, dan Jalan Persatuan Umat

Published

on

Ustadz Ahmad Hidayat, Wakil Ketua Umum ABI: Idul Adha, Tauhid, dan Jalan Persatuan Umat.
Ustadz Ahmad Hidayat, Wakil Ketua Umum ABI saat pidato Idul Adha tentang Tauhid, dan Persatuan Umat Islam. (Dok ABI)

Jakarta, 27 Mei 2026 — Naskah ini merupakan adaptasi dari pidato Wakil Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, Ustadz Ahmad Hidayat, yang disampaikan dalam rangka peringatan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1447 H dan disiarkan melalui kanal ABI. Pidato tersebut mengangkat makna Idul Adha sebagai momentum spiritual untuk mengorbankan ego, memperkuat ukhuwah, serta membangun persatuan demi terwujudnya peradaban yang lebih bermartabat.

Ustadz Ahmad Hidayat mengajak umat memahami Idul Adha secara lebih mendalam. Ibadah tidak hanya dimaknai sebagai hubungan spiritual antara manusia dan Allah SWT, tetapi juga sebagai panggilan moral untuk membela kaum tertindas, menolak hegemoni dan penindasan, serta memperkuat persatuan umat manusia di atas nilai-nilai tauhid dan keadilan.

Baca juga: Menyimak Pidato Ayatullah Khamenei: Pelajaran Krusial bagi Indonesia di Tengah Gejolak Global

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Innalhamdalillah, wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad.

Saudara-saudara yang sama dimuliakan Allah SWT.

Labbaik Allahumma laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika laka labbaik.

Baca juga: Manifesto Perlawanan dan Kebangkitan Umat dalam Pesan Haji Ayatullah Mujtaba Khamenei

Hakikat Haji dan Tauhid

Hari-hari sekarang, hari 10 Dhul Hijjah adalah hari dimana langit dihiasi dengan seruan menjawab panggilan Allah SWT. Di berbagai pelosok dunia, bagi mereka yang memiliki keimanan dan keyakinan tauhid kepada Allah SWT. Seruan labbaik menyatu hari ini di Padang Arafah. Menyatu dengan kuat bagi jutaan jemaah haji yang berkumpul di Padang Arafah. Lalu kemudian datang ke Baitullah Ka’bah setelah melontar jumrah.

Tentu saja ini bukan sebatas ritual semata. Bukan sebatas seremoni yang dilakukan oleh umat Islam yang mendapat dan menjawab panggilan Allah SWT untuk melaksanakan ibadah haji.

Bulan haji yang ditandai dengan wukuf di Arafah adalah penanda bagi setiap umat manusia untuk meratifikasi kesadaran teologisnya, kesadaran tauhidnya kepada Allah SWT. Bahwa seorang yang bertauhid bukan saja membangun pandangan-pandangan tentang Allah SWT Yang Maha Esa. Tetapi di saat yang sama mereka yang meyakini tentang keesaan Allah SWT juga tidak bisa melepaskan dalam kehidupan kemanusiaan dan kealamannya.

Karena itulah bersama dengan ikatan-ikatan spiritual, ikatan-ikatan teologi dan tauhid kepada Allah SWT. Pada hari Arafah dan pada hari haji seperti sekarang dibumikan di dalam kesadaran kolektif sebagai sesama manusia.

Saudara-saudara yang dimuliakan Allah SWT.

Hari-hari bulan haji adalah hari-hari untuk memanifestasikan kesadaran kita tentang pandangan dunia tauhid yang tidak memisahkan antara ajaran langit dengan tanggung jawab sosial. Kesadaran yang mengintegrasikan antara langit, antara nilai-nilai ketuhanan yang harus dibumikan ke dalam kehidupan sosial kita. Bahwa ibadah haji yang didalamnya mendeklarasikan keimanan kepada Allah SWT, juga mendeklarasikan penolakan terhadap thagut, terhadap segala sesuatu yang menghegemoni sesama manusia yang melahirkan penindasan dan lain sebagainya.

Baca juga: Pesan Haji Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Mujtaba Khamenei 9 Dzulhijjah 1447 H

Kesatuan Manusia dan Pelepasan Ego

Karena itu, ketika talbiyah dikumandangkan jemaah haji dengan lantunan, “La syarikallah laka labbaik“, bahwa tidak ada tempat bagi siapapun yang mencoba melakukan upaya-upaya untuk menolak keberadaan Allah SWT yang mengajarkan bagaimana tata nilai kehidupan umat manusia. Yang harus membangun kohesi sosial yang kuat dibalik nilai-nilai persatuan yang didudukan di atas prinsip keadilan.

Karena itu haji selain mengukuhkan ikatan emosional, kesadaran ketuhanan, kesadaran tauhid. Orang-orang menjadi muwahid juga disaat yang sama harus melihat bahwa semua manusia pada hakikatnya adalah satu.

Karena itu keberadaan jemaah haji di Arafah. Arafah sampai sebuah riwayat hadis menyebutkan, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Bahwa ada ikatan yang begitu kuat antara kesadaran setiap individu, kesadaran setiap manusia. Bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang satu. Yang diberikan oleh Allah SWT potensi dan kemampuan untuk mengejawanta nilai-nilai ketuhanan di muka bumi ini. Dalam rangka apa? Membangun kemaslahatan umat manusia. Dari kehendak Allah SWT.

Karena itu dia harus menolak hegemoni, dia harus menolak penindasan. Dia harus melakukan perlawanan terhadap siapapun yang menghancurkan nilai-nilai manusiaan dengan penjajahan. Tidak boleh ada kehidupan manusia yang merasa superior dari manusia yang lainnya.

Karena itu memakai pakaian ihram bagi manusia, bagi orang-orang yang beriman. Yang menjawab panggilan Allah SWT sebetulnya sedang melepaskan identitas ego sentris mereka. Melepaskan kesombongan mereka, melepaskan keinginan mereka untuk menindas orang lain. Melepaskan seluruh gharizah yang muncul dari dalam dirinya untuk memperlakukan manusia secara buruk dan melakukan penindasan terhadap sesama manusia. Mereka yang datang kesana melepaskan seluruh status sosialnya. Dan dari sanalah kemudian umat Islam yang muwahid bersatu untuk merekatkan ikatan-ikatan tauhidnya dalam rangka membela sesama manusia. Dan melepaskan belunggu-belunggu kemanusiaan disebabkan karena kesombongan, disebabkan karena ego sentris, disebabkan karena penindasan antara satu dengan yang lain.

Saudara-saudara yang sama dimuliakan Allah SWT.

Baca juga: Organisasi sebagai Suluk Sosial, Jalan Penghambaan Kolektif, dan Disiplin Ideologis

Tingkatan Persatuan dalam Pandangan Islam

Karena itu haji, ibadah haji, Idul Adha adalah hari-hari dimana kita mencoba merumuskan ulang kesadaran kita sebagai orang-orang yang bertuhan. Dan di saat yang sama harus melakukan upaya, melakukan upaya sedemikian rupa untuk membangun persatuan di antara sesama manusia.

Persatuan dalam pandangan Islam bertingkat-tingkat. Ada yang disebut dengan persatuan alamiah. Semua alam ini yang ada di alam kosmos ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Mereka interdependen antara satu dengan yang lain, saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Dan karena itu tidak ada eksploitasi, tidak boleh ada pihak yang boleh dirampas haknya. Alam bahkan tidak boleh dirampas haknya. Karena ketika alam dirampas haknya, dieksploitasi maka akan melahirkan ketidakseimbangan semesta. Lalu kemudian melahirkan dampak-dampak kealaman yang berdampak buruk kepada umat manusia.

Persaudaraan kepada sesama manusia, semua manusia adalah bersaudara. Sampai amirul mu’minin Ali bin Abi Talib menyebutkan bahwa semua manusia bersaudara. Kalau tidak bersaudara karena seagama, dia bersaudara sebagai mahluk hamba Allah SWT. Yang asalnya dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT dengan sebuah masa depan yang cerah.

Karena itu agama datang dalam rangka melakukan perbaikan dalam kehidupan manusia dan kemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan dituntun oleh nilai-nilai agama, dituntun oleh prinsip-prinsip ketuhanan. Yang berhasil diratifikasi oleh setiap orang yang menjalankan ibadah haji di bulan haji sekarang ini.

Baca juga: Analisis Pidato Imam Ali Khamenei: Persatuan, Ilmu Pengetahuan, Martabat, dan Cermin Bagi Indonesia

Ironi Umat dan Panggilan Aksi Global

Pada hari-hari haji seperti hari ini, kita menyaksikan 3 juta lebih orang-orang yang hukum di Arafah. Mereka semua mengucapkan doa, melantunkan ritual-ritual yang demikian kuat kepada Allah SWT. Agar mereka bisa mentransformasi nilai itu ke dalam dirinya sehingga mereka pulang. Yang mereka lakukan adalah membangun persatuan diantara sama manusia. Persatuan yang mana? Persatuan yang didalamnya, didalam rangka melakukan perbaikan terhadap sama manusia. Tolong menolong antara satu dengan yang lainnya dan membela mereka-mereka yang terzalimi.

Bisa dibayangkan bahwa hari-hari seperti sekarang ketika orang-orangwukuf, ketika orang-orang melakukan tawaf. Yang mereka melakukan jumrah, melontar jumrah di jamarat. Di saat yang sama, saudara-saudara kita yang ada di Gaza, saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Mereka hari-hari ini ditindas oleh Zionis Israel, oleh Amerika Serikat. Bahkan raja-raja negara Arab bergabung bersama penindas Zionis dan Amerika Serikat. Tanpa pernah memikirkan nasib saudaranya Muslim di Palestina dan di Gaza. Ini adalah ironi, ini adalah problem di saat mereka menerima jemaah haji setiap tahunnya. Tetapi di saat yang sama tidak ada upaya untuk mendorong agar umat Islam yang datang haji. Melakukan persatuan global bagi umat manusia di muka bumi ini.

Baca juga: Kaderisasi ABI: Menjemput Masa Depan dengan Tiga Pilar

Peran Ahlulbait Indonesia (ABI)

Yang ketiga persatuan se-Islam. Umat Islam sudah seharusnya bersatu. Haji adalah momentum untuk menegakkan persatuan.

Dan yang keempat persatuan dan persaudaraan seiman. Negara Kesatuan Republik Indonesia di mana kita berada di dalamnya. Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) yang berdiri dan hadir di negara Kesatuan Republik Indonesia. Di antara tujuan utama pendirian organisasi dengan mengambil nilai-nilai hari Idul Adha. Bulan-bulan haji ini selalu berada di garda terdepan untuk mendorong kesatuan. Kesatuan terhadap sesama alam semesta, terhadap sama manusia, terhadap sesama bangsa. Terhadap sesama umat Islam, terhadap mereka yang se-iman.

Bersatulah. Karena hanya dengan itulah kita bisa mendefinisikan nilai-nilai tauhid kita dalam kehidupan kemanusiaan kita. Hanya dengan itulah kita bisa mengedukasi diri kita untuk hadir di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Dalam rangka berkhidmat dan melakukan perbaikan. Inilah ibadah yang sebetulnya melahirkan, akan melahirkan sebuah proses perubahan sosial yang sangat masif. Jika umat Islam menyadari dengan baik.

Baca juga: Deklarasi New York: Babak Damai atau Penutup Sejarah Palestina?

Saudara-saudara yang sama dimuliakan Allah SWT.

Ahlulbait Indonesia dengan demikian mengajak kita semua untuk memperkuat kohesi sosial kita. Sebagai bangsa, sebagai umat, sebagai umat Islam. Sebagai pecinta Rasulullah dan Ahlul Bait yang di tangan kita ada Al-Quran. Mari kita menjadi soko guru utama untuk membangun persatuan. Menolak hegemoni sosial, menolak penindasan, menolak penghancuran nilai-nilai moral. Menolak berbagai macam kejahatan yang sedang dilakukan oleh musuh-musuh Allah. Yang kita ucapkan dengan mengatakan “Lasyarika laka labbaik”. Saya tidak akan berpaling, saya tidak akan menoleh, saya tidak akan bekerjasama. Saya tidak akan bergabung dengan mereka-mereka yang musyrik. Atau melakukan penentangan terhadap nilai-nilai ketuhanan.

Semoga Allah SWT menjaga kita, mempersatukan umat Islam. Khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia. Dan manusia-manusia yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani. Untuk membantu mereka-mereka yang tertindas memerdekakan Palestina dan menghancurkan Zionis Israel. Semoga Allah SWT membantu kita.

Baca juga: Pidato Waketum ABI: Ahlulbait Indonesia, Wilayah, dan Cita-Cita Peradaban

Penutup

Atas nama pimpinan Organisasi Ahlulbait Indonesia mengucapkan Selamat Hari Idul Adha, Selamat Hari Idul Qurban. Dan mari kita mengorbankan seluruh ego kita untuk mendorong persatuan dan kesatuan umat manusia. Demi kepentingan kemajuan peradaban yang bermartabat.

Terima kasih. Billahi taufiq wal hidayah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca juga: Taslim sebagai Fondasi Wilayah dalam Ujian Membersamai Imam