Perspektif ABI
Ustadz Ahmad Hidayat: Pemakaman Imam Syahid Menjadi Klimaks 47 Tahun Revolusi Islam

Jakarta, 23 Juli 2026 – Oleh-oleh dari Iran itu disampaikan Ustadz Ahmad Hidayat, Wakil Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), dalam rapat reguler Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) yang digelar secara hybrid pada Selasa (21/7/2026).
Melalui sambungan Zoom, Ustadz Ahmad memandang prosesi penghormatan dan pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei sebagai titik kulminasi perjalanan Revolusi Islam Iran selama 47 tahun. Menurutnya, apa yang disaksikan dunia selama sepekan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan buah dari proses panjang pembinaan masyarakat sejak Revolusi Islam 1979.
“Bagi saya, inilah gambaran hasil Revolusi Islam setelah 47 tahun. Klimaksnya tampak pada prosesi penghormatan dan pemakaman Imam Syahid selama sepekan. Dan saya meyakini, proses ini belum berhenti, tetapi akan terus berlanjut,” ujarnya.
Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Muharram, Panggung Perlawanan terhadap Kezaliman demi Tegaknya Keadilan
Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa warisan Imam Ali Khamenei tidak berhenti pada kepemimpinan politiknya. Warisan tersebut hidup dalam visi, misi, dan arah perjuangan yang terus ditanamkan kepada masyarakat, terutama pada tahun-tahun terakhir kepemimpinannya hingga menjelang kesyahidan dan prosesi pemakaman.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Ustadz Ahmad adalah spanduk-spanduk besar berisi pesan-pesan Al-Qur’an yang menghiasi berbagai ruang publik, mulai dari masjid hingga jalan-jalan utama, terutama di Kota Suci Qom. Salah satu yang paling membekas dalam ingatannya adalah firman Allah dalam Surah Saba’ ayat 46:
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَىٰ وَفُرَادَىٰ…
“Katakanlah: Aku hanya hendak memperingatkan kepadamu satu perkara saja, yaitu agar kamu bangkit karena Allah…” (QS. Saba’ [34]: 46)
Menurut Ustadz Ahmad, ayat tersebut bukan hanya hiasan atau slogan yang dipasang di ruang-ruang publik. Pesan itu menjadi bagian dari proses membangun kesadaran kolektif masyarakat. Penyampaiannya secara serempak di berbagai tempat melahirkan kohesi sosial yang sangat kuat.
“Yang saya lihat bukan hanya masyarakat Iran yang bersatu, tetapi juga keterlibatan masyarakat dari berbagai negara. Ini menunjukkan kekuatan yang sangat solid. Bahkan kelompok-kelompok yang selama ini berada di belakang berbagai kepentingan dunia pun tidak mampu memecahnya. Dalam pandangan saya, ini merupakan semacam mukjizat yang lahir melalui kesyahidan Imam Ali Khamenei,” katanya.
Ustadz Ahmad juga menceritakan perbincangannya dengan YouTuber Hussein Gaza. Dari dialog tersebut, beliau menangkap adanya perubahan cara pandang terhadap Syiah dan Iran setelah menyaksikan langsung rangkaian prosesi penghormatan dan pemakaman.
Menurutnya, pengalaman menyaksikan secara langsung sering kali jauh lebih kuat daripada narasi yang dibangun dari kejauhan. Banyak prasangka yang selama ini berkembang akhirnya runtuh ketika seseorang melihat sendiri realitas yang terjadi di lapangan.
Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI Ustadz Ahmad Hidayat tentang Idul Adha
Karena itu, Ustadz Ahmad mengusulkan agar Media ABI menghadirkan para kreator konten dan YouTuber yang mengikuti prosesi tersebut dalam sebuah podcast. Menurutnya, pengalaman mereka dapat menjadi ruang dialog untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai Iran, Syiah, serta berbagai dinamika yang mereka saksikan secara langsung.
Selain itu, Ustadz Ahmad juga menyoroti tata kelola informasi selama penyelenggaraan prosesi. Beliau mengaku terkesan melihat bagaimana setiap detail komunikasi dirancang agar pesan dapat diterima secara luas oleh masyarakat.
“Hampir di setiap tiang listrik dipasang perangkat suara. Pesan-pesan terus disampaikan kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa panitia tidak hanya mengelola sebuah acara, tetapi juga mengelola arus informasi agar membangun kesadaran masyarakat secara baik dan benar,” ujarnya.
Menutup refleksinya, apa yang disaksikan Ustadz Ahmad selama prosesi penghormatan dan pemakaman merupakan manifestasi nyata dari pesan yang sudah dibangun sejak lama. Kesadaran masyarakat yang tumbuh secara luas menunjukkan bahwa pesan Imam Ali Khamenei telah berakar kuat di hati rakyat dan terus hidup setelah kesyahidannya. []







