Perspektif ABI
Iran dalam Balutan Warna Hitam dan Merah

Oleh: Ustadz Ahmad Hidayat
Wakil Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI)
Jakarta, 26 Juli 2026 — Tanggal 5 Juli 2026, sesaat setelah menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri para mullah, guna menghadiri prosesi penghantaran dan pemakaman jenazah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Al-Imam Asy-Syahid Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali al-Husayni al-Khamenei (q.s), terpampang dua warna kontras yang begitu mencolok menghiasi sudut-sudut kota. Di sepanjang jalan Kota Teheran, Qom, dan Masyhad, bahkan juga di kota-kota lainnya, warna tersebut begitu dominan: bendera hitam dan merah.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Oleh-oleh dari Iran, Kesadaran Kolektif di Balik Lautan Manusia
Bendera-bendera tersebut bukan hanya ornamen dan hiasan, melainkan menggambarkan suasana batin, luapan emosi, dan situasi psikologis rakyat Iran. Warna hitam dan merah menjadi cerminan bahwa Iran, sebagai sebuah bangsa, sedang memadukan suasana duka dan kemarahan sekaligus.
Warna itu merupakan ekspresi kesadaran kolektif, partisipasi, dan tanggung jawab yang mendorong terciptanya kohesi sosial secara masif demi kelangsungan bangsa sepeninggal pemimpinnya.
Dalam tradisi Syiah, terutama Syiah Imamiyah, warna hitam dan merah memiliki makna simbolis yang sangat kuat dan sering muncul dalam berbagai ritual maupun acara berkabung.
Warna hitam bermakna, antara lain:
Pertama, bermakna duka dan perkabungan yang terhubung langsung dengan tragedi Karbala. Gugurnya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi, di Karbala pada tahun 61 H merupakan pusat kesedihan dalam tradisi Syiah.
Kedua, kesetiaan kepada Ahlulbait. Memakai pakaian hitam berarti, “Kami sedang berduka bersama keluarga Nabi.” Ini merupakan bentuk loyalitas dan identifikasi diri dengan penderitaan Ahlulbait.
Ketiga, kesederhanaan dan zuhud. Hitam juga melambangkan pelepasan diri dari dunia, fokus pada akhirat, dan pengorbanan.
Warna merah memiliki makna, antara lain:
Pertama, darah syahid dan pengorbanan. Merah merupakan perlambang darah Imam Husain dan para syuhada Karbala yang tertumpah di tanah. Bendera merah sering dikibarkan sebagai simbol tuntutan pembalasan atas darah yang tertumpah dan janji untuk meneruskan perjuangan melawan kezaliman.
Kedua, perlawanan dan revolusi. Setelah Revolusi Iran 1979, merah juga diasosiasikan dengan semangat perlawanan terhadap penindasan, mengikuti semboyan Imam Husain, “Haihata minna dzillah” (“Jauh dari kami kehinaan”).
Ketiga, cinta dan pengorbanan tertinggi. Darah merupakan bukti cinta yang paling puncak kepada Allah dan Ahlulbait. Karena itu, pada banyak bendera dan spanduk yang menyertai parade tertulis kalimat “Ya Tsaral Husain”, sebagai simbol bendera perjuangan dan kesiapan untuk melakukan pembalasan.
Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Pemakaman Imam Syahid Menjadi Klimaks 47 Tahun Revolusi Islam
Hubungan Hitam dan Merah
Dua warna yang menyelimuti Teheran, Qom, Masyhad, hingga berbagai kota dan desa di Iran tampak begitu indah dan mempesona. Dua warna itu sekaligus menyambungkan narasi kesyahidan Imam Husain bin Ali as. yang terjadi sekitar 1.300 tahun lalu. Tragedi Karbala seakan hidup kembali secara begitu epik melalui kesyahidan Imam Ali Khamenei. Syair-syair Asyura tentang Imam Husain dan Karbala pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian upacara.
Bagi siapa saja yang memahami filosofi simbolik dua warna hitam dan merah dalam seluruh parade dan prosesi pemakaman Imam Syahid Sayyid Ali Khamenei, mereka akan mendapati pelajaran penting bahwa prosesi tersebut sedang menyampaikan pesan yang dahsyat dan menggetarkan.
Hitam adalah duka, tangisan, perkabungan, dan janji setia. “Bahwa kami berduka, tetapi kami akan bangkit dengan perlawanan tanpa akhir.”
Merah adalah darah syahid, perlawanan, dan janji bahwa kami tidak akan diam atas kezaliman. “Kami hanya punya satu kata: pembalasan atas darah syahid pemimpin kami.”
Tampak sangat jelas bahwa balutan dua warna hitam dan merah yang menyertai rakyat dalam parade prosesi itu menjadi ungkapan penyesalan yang mendalam atas abainya rakyat terhadap pemimpinnya. Sebagian dari mereka meratapi sikap tidak peduli, atau bahkan tindakan yang mereka anggap telah “menyakiti” pemimpin mereka. Sebagian lainnya menyesali keterlambatan mereka dalam menyadari kemuliaan, keagungan pribadi, dan akhlak pemimpinnya, dan seterusnya.
Baca juga: Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing
Dalam situasi kebatinan yang demikian itulah rakyat Iran berusaha menunjukkan ekspresi dan tanggung jawab mereka dengan memberikan persembahan terakhir demi menjaga kemuliaan dan kehormatan seluruh prosesi, sehingga berlangsung aman, damai, serta menampilkan keindahan yang aura dan pesonanya seolah menyelimuti seluruh jagat.
Semua mata menyaksikan bahwa puluhan juta manusia itu bukanlah sebuah kerumunan, melainkan sebuah episode sejarah yang belum pernah terjadi sepanjang kehidupan umat manusia. Sebuah parade yang memadukan sisi emosional dan ikatan psikologis yang begitu kuat antara pemimpin dan umatnya, dibalut cinta serta penghormatan yang mendalam dari rakyat kepada pemimpinnya.
Prosesi itu sekaligus menunjukkan bahwa warna hitam sebagai simbol kesedihan atas tragedi kesyahidan pemimpinnya tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya prosesi pemakaman, tetapi akan terus berlanjut menjadi penguat kohesi sosial yang menyampaikan pesan global dan transnasional bahwa duka adalah sumber kekuatan dan kebangkitan baru.
Demikian pula warna merah, sebagai janji untuk meneruskan perjuangan melawan kezaliman, sekaligus menjadi isyarat bahwa siapa pun yang menjadi bagian dari konspirasi kezaliman akan menuai perlawanan, pembalasan, dan kehancuran. Wallahu a’lam. []
Baca juga: Darah yang Menghidupkan Peradaban: Membaca Makna Dam, Tsar, dan Muhjah dalam Bahasa Asyura







