Perspektif ABI
Ustadz Husain Syahab: Di Tengah Heningnya 1,4 Miliar Umat, Karbala Tetap Bergema

Jakarta, 28 Juni 2026 — Bagaimana mungkin lebih dari 1,4 miliar umat Islam dan sekitar 450 juta bangsa Arab masih membiarkan penindasan terhadap Palestina terus berlangsung? Mengapa jutaan manusia memilih diam ketika ketidakadilan berlangsung di depan mata? Bagi Ustadz Husain Syahab, jawabannya bukan terletak pada kekurangan jumlah, persenjataan, atau sumber daya, melainkan pada hilangnya ruh Karbala dalam kehidupan umat.
Di hadapan ribuan jamaah yang memadati peringatan Syahadah Imam Husain a.s. yang diselenggarakan Lembaga Komunikasi Ahlul Bayt (LKAB) Jakarta, Jumat (26/6/2026), Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI) itu menyampaikan orasi yang tidak berhenti pada romantisme sejarah. Dengan menghubungkan tragedi Karbala, krisis Palestina, hingga dinamika geopolitik Timur Tengah, dan menegaskan bahwa Asyura bukan peristiwa masa silam, melainkan paradigma perlawanan terhadap kezaliman yang terus menemukan relevansinya di setiap zaman. Berikut liputan lengkap dan petikan penting dari orasi tersebut.
Mengawali ceramahnya, Ustadz Husain Syahab menegaskan bahwa peringatan hari Asyura bukan semata ritual tahunan, melainkan momen untuk mengingat titik balik paling menentukan dalam sejarah Islam.
“Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah SWT pada siang hari yang berbahagia ini kita bisa hadir untuk memperingati hari Asyura, hari yang paling menentukan sejarah manusia. Hari yang paling menentukan perjalanan sejarah Islam yang original, Islamnya Muhammad SAW.”
Ustadz Husain menyatakan bahwa revolusi Imam Husain di Karbala adalah kelanjutan dari misi kenabian. Menurutnya Islam yang murni dan tidak terkontaminasi oleh tradisi Arab Jahiliah dapat bertahan karena pengorbanan sang Imam. Semangat itu, lanjut beliau, diteruskan oleh para pecinta sejati, mulai dari Sayyidah Zainab yang sabar, pemuda-pemuda seperti Ali Akbar, hingga anak-anak kecil seperti Ali Asghar.
“Berkat semua ini, perjalanan perjuangan Imam Husain di Karbala berlanjut. Al-Islamu baduhu Muhammadiyun wa baquhu Husainiyun. Islam dimulai oleh datuknya Al-Husain yang bernama Muhammad, dan dilanjutkan oleh Al-Imam Abi Abdillahil Husain.”
Misi Suci: Islah, Bukan Kerusakan
Dalam bagian sentral ceramahnya, Ustadz Husain mengupas tuntas tujuan utama gerakan Imam Husain. Beliau dengan tegas membantah anggapan bahwa perlawanan di Karbala didorong oleh ambisi kekuasaan. Justru, misi utamanya adalah perbaikan (islah) umat.
Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa
“Imam Husein katakan, ‘Innama kharajtu li-islahi fi ummati jaddi.’ Aku keluar bukan karena ingin membikin kerusakan. Aku keluar bukan karena ingin melakukan kezaliman. Aku keluar bukan karena ingin merampas hak orang.”
Ketua DS ABI itu mengingatkan bahwa para pengikut Imam Husain di masa kini pun diwarisi misi yang sama. Beliau menekankan bahwa kehadiran mereka di majelis tersebut bukan untuk memecah belah, melainkan untuk memperbaiki kondisi umat.
“Para pejabat harus tahu itu. Penguasa harus tahu itu. Pengikut Imam Husein adalah orang-orang yang setia dengan misinya… bukan karena ingin melakukan keonaran, membuat perpecahan, tetapi karena ingin memperbaiki umat Muhammad SAW.”
Beliau membandingkan kondisi zaman sekarang dengan tirani Bani Umayyah di bawah Yazid bin Muawiyah yang digambarkan sebagai penguasa zalim, pelaku korupsi besar-besaran, dan penindas rakyat. Imam Husain, dalam narasi ini, adalah simbol perlawanan tegak terhadap ketidakadilan, bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya.
“Imam Husein tidak akan pernah diam. Imam Husein mau disogok. Imam Husein ditawarkan berbagai macam kelebihan, tapi Imam Husein menolak semua itu. Apabila aku berbaiat kepada orang seperti Yazid, itu namanya aku mengucapkan selamat tinggal kepada Islam.”
Sayyidah Zainab: Pilar Kesabaran dan Penerus Perlawanan
Ustadz Husain memberikan penghormatan istimewa kepada Sayyidah Zainab, yang dijuluki Ummul Masaib (Ibu segala musibah). Ia menggambarkan bagaimana kesetiaan Zainab kepada misi sang kakak mengalahkan duka pribadinya atas gugurnya putra-putranya di Karbala.
“Tahukah ketika pertama kali dia kembali ke kota Madinah, orang-orang Madinah bertanya kepada Sayyidah Zainab, ‘Bagaimana keadaan anak-anakmu?’ Sayyidah Zainab tidak jawab. Kalian harus tanya bagaimana Abi Abdillahil Husain. Abi Abdillahil Husain adalah yang pertama dan utama. Anak-anak menjadi urutan kesekian.”
Karbala, Gaza, dan Paradoks Jumlah: Menyoroti Diamnya Dunia Islam
Puncak orasi beralih dari sejarah ke realitas kekinian. Dengan nada lantang, Ustadz Husain mengaitkan semangat Husain dengan perjuangan rakyat Palestina di Gaza. Beliau menyoroti ironisnya jumlah umat Islam yang mencapai 1,4 miliar dan orang Arab sebanyak 450 juta, namun masih gentar di hadapan Israel yang berpenduduk 9 juta.
“Penduduk Timur Tengah itu jumlahnya orang Arab, bukan orang Parsi. Jumlahnya 450 juta orang. Israel jumlahnya 9 juta orang. 450 juta mati di hadapan 9 juta Israel. Kenapa? Karena tidak ada Imam Husein Alaih Salam.”
Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Muharram, Panggung Perlawanan terhadap Kezaliman demi Tegaknya Keadilan
Beliau menyebut fenomena ini sebagai hamajun ru’a, buih yang banyak namun kosong. Pengikut Imam Husain Husain, meski mungkin sedikit, memiliki kualitas dan energi yang sanggup mengubah segalanya.
“Kalau banyak lalu kemudian seperti buih tidak memiliki energi, tidak memiliki keberanian. Maka kata hadis ia disebut hamajun rua. Buih-buih banyak tetapi kosong. Sedikit tapi berkualitas, itu yang akan bisa merubah segalanya.”
Ustadz Husain secara eksplisit menyebut bahwa semangat Karbala kini terlihat pada “putra-putra Imam Ali bin Abi Thalib” di kancah global, mereka yang berani mengirim rudal dan bersuara lantang membela Palestina, dengan menyebut nama-nama seperti Sayyid Hasan Nasrullah, Sayyid Ali Khamenei, hingga Sayyid Mujtaba Khamenei.
Rahasia Energi Abadi: Air Mata yang Menggerakkan Revolusi
Salah satu segmen paling mendalam dari ceramah tersebut adalah pengupasan misteri kekuatan spiritual pengikut Ahlul Bait. Ustadz Husain menegaskan bahwa tangisan untuk Imam Husain bukanlah tanda kelemahan, melainkan sumber energi dahsyat.
Beliau mengutip sebuah analogi luar biasa dari para syuhada Karbala:
“Dunia tidak paham, Amerika enggak paham, Israel enggak paham bahwa pecinta-pecinta Husain merindukan syahid di jalan Allah lebih daripada seorang bayi merindukan puting susu ibunya. Pengikut Al-Husin merindukan syahid lebih daripada seorang bayi merindukan ASI daripada ibunya.”
Untuk memperkuat argumen ini, Ustadz Husain menuturkan kisah Imam Khomeini di pengasingan di Nopelesato, Paris. Ketika hari Asyura tiba dan Imam Khomeini menangis tersedu-sedu hingga janggutnya basah, para wartawan asing bingung. Mereka mengira itu adalah ketakutan, padahal di balik tangisan itulah lahir energi untuk menggulingkan rezim Syah Iran yang digdaya.
“Pas pada waktu itu hari-hari Muharram, pas hari Asyura, kumpullah orang-orang bersama Imam Khumaini. Ketika dibacakan maqal tentang Imam Husain, menangis Imam Khumaini tersedu-sedu, janggutnya sampai basah. Wartawan bertanya, ‘Nangis untuk siapa ini orang?’… Jawabannya hanya satu, dia menangis untuk Al Imam Abi Abdillahil Husain. Dan karenanya kemudian dia mendapatkan energi kekuatan yang abadi.”
Simbolisme Pukulan Dada (Maktam) dan Guncangan Istana Zalim
Tidak hanya tangisan, ritual pukulan dada (latm) juga dijelaskan sebagai senjata psikologis dan fisik. Ustadz Husain dengan tegas menyatakan bahwa ritual ini menggetarkan musuh-musuh Ahlul Bait, mulai dari kaum Wahabi di dalam negeri hingga rezim Zionis di luar negeri.
“Semakin kita tepuk dada kuat-kuat, semakin goncang istana-istana orang zalim. Kita pukul dada di sini, orang-orang zalim goncang, Israil goncang.”
Beliau bahkan menyebut manfaat kesehatan dari ritual ini secara metaforis, seraya mengajak seluruh hadirin untuk melakukannya dengan penuh keyakinan sebagai bentuk kesiapan membela kebenaran.
Penutup: Karbala sebagai Kompas Moral Umat
Ustadz Husain Syahab mengakhiri ceramahnya dengan harapan agar komunitas Ahlul Bait memiliki pusat kegiatan yang lebih representatif. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk terus membangun kekuatan umat, bukan hanya melalui semangat spiritual, tetapi juga melalui penguatan infrastruktur dakwah yang mampu melayani masyarakat secara lebih luas.
“Saya sangat-sangat berkeinginan dan berharap mudah-mudahan kita bisa maktam di luar. Maktam di luar tentu dengan koordinasi para panitia. Tapi kalau nanti kita sudah punya gedung sendiri, kita bisa bermaktam di bawah langit terbuka.”
Baca juga: Darah yang Menghidupkan Peradaban: Membaca Makna Dam, Tsar, dan Muhjah dalam Bahasa Asyura
Seruan itu kemudian disambut dengan pekikan “Labaika Ya Husain” dari ribuan jamaah yang memenuhi majelis. Bukan sekadar slogan, seruan tersebut menjadi ikrar kolektif untuk tetap berpihak kepada kebenaran dan keadilan sebagaimana diwariskan oleh Imam Husain a.s.
Pada akhirnya, orasi Ustadz Husain Syahab tidak berhenti sebagai pembacaan atas tragedi Karbala. Ia menjelma menjadi ajakan untuk mengukur kembali kualitas keberpihakan umat terhadap keadilan. Karbala bukan hanya kisah tentang masa lalu, melainkan kompas moral yang terus menguji setiap generasi: apakah memilih diam di hadapan kezaliman, atau berdiri bersama kebenaran meski harus membayar harga yang mahal.
Sebagaimana ungkapan yang berkali-kali dikutip dalam majelis tersebut, “Kullu yaumin Asyura wa kullu ardin Karbala”, setiap hari adalah Asyura dan setiap jengkal bumi adalah Karbala. Selama ketidakadilan masih berlangsung, selama kebenaran masih membutuhkan pembela, dan selama manusia masih dihadapkan pada pilihan antara tunduk kepada kezaliman atau berpihak kepada kebenaran, pesan Imam Husain a.s. akan tetap hidup, melampaui ruang, waktu, dan batas-batas sejarah.
“Kullu yaumin Asyura, kullu ardin Karbala. Setiap hari adalah Asyura dan setiap jengkal tanah adalah Karbala. Husain tidak akan mati di dalam hati kita kapan pun, di mana pun.” []
Baca juga: Ketum ABI: Asyura dan Arbain, Momentum Strategis Penyampaian Risalah Imam Husain a.s.






