Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ketum ABI kepada Kader Jateng: Keteraturan dan Kerja Bersama Menentukan Masa Depan Komunitas

Published

on

Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya berdiskusi bersama jajaran pengurus dan kader ABI Jawa Tengah dalam kegiatan Ngopi Bareng Ketum ABI di Semarang, Sabtu, 5 September 2026.
Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya berdiskusi bersama jajaran pengurus dan kader ABI Jawa Tengah dalam kegiatan Ngopi Bareng Ketum ABI di Semarang, Sabtu, 5 September 2026.

Semarang, 6 September 2026 – Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Tengah menggelar diskusi bersama Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, Ustadz Zahir Yahya, di Sekretariat DPW ABI Jawa Tengah, Semarang, pada Sabtu malam (5/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Ustadz Zahir didampingi anggota Dewan Syura ABI, Ustadz Miqdad Turkan, serta Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan DPP ABI, Muhlisin Turkan. Kegiatan dipandu Ketua DPW ABI Jawa Tengah, Sayyid Musthofa Al-Jufri.

Baca juga: DPW ABI Jateng dan Tokoh Lintas Agama Kecam Dua Insiden Intoleransi di Karanganyar dan Surakarta

Dikemas dalam kegiatan “Ngopi Bareng Ketum ABI”, pertemuan itu mempertemukan jajaran DPW ABI Jawa Tengah, perwakilan 12 Dewan Pimpinan Daerah ABI, Muslimah ABI Jawa Tengah, serta Pandu ABI Jawa Tengah. Forum tersebut menjadi ruang bagi pengurus dan kader untuk membicarakan berbagai persoalan keorganisasian yang dihadapi di daerah sekaligus meninjau kembali arah dan gerak komunitas.

Usai menyampaikan pandangan dan arahannya, Ustadz Zahir membuka ruang dialog bersama pengurus dan kader ABI Jawa Tengah. Beragam persoalan keorganisasian kemudian mengemuka dalam sesi tanya jawab yang berlangsung akrab, terbuka, dan dinamis.

Ketua Umum ABI mengapresiasi pertemuan tersebut dan menilai forum seperti itu penting agar persoalan yang muncul di berbagai wilayah tidak dibiarkan tanpa pembahasan dan penyelesaian bersama. Menurut beliau, kemampuan mengenali masalah merupakan langkah awal, tetapi organisasi tidak boleh berhenti pada tahap tersebut. Persoalan yang telah disadari harus ditindaklanjuti melalui langkah dan keputusan yang nyata.

Ngopi Bareng Ketum ABI di Semarang membahas tantangan internal dan pentingnya keteguhan pengurus serta kader dalam kerja organisasi.

Ngopi Bareng Ketum ABI di Semarang membahas tantangan internal dan pentingnya keteguhan pengurus serta kader dalam kerja organisasi.

Belajar dari Perjalanan Sayyid Musa al-Sadr

Mengawali perbincangan, Ustadz Zahir mengangkat pengalaman Sayyid Musa al-Sadr dalam membangun komunitas Syiah di Lebanon pada awal 1970-an. Sayyid Musa al-Sadr, menurut Ketua Umum Ahlulbait Indonesia itu, dikenal sebagai seorang ulama yang sangat memperhatikan keteraturan dan pengorganisasian masyarakat.

Dari proses yang dibangun secara bertahap, lahir berbagai lembaga sosial dan gerakan masyarakat. Ustadz Zahir menyinggung Dar al-Aytam dan Gerakan Amal sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Komunitas yang sebelumnya berada dalam posisi termarginalkan kemudian berkembang menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan dan memiliki kehadiran lebih luas di tengah masyarakat, baik melalui kerja sosial maupun peran politik.

Baca juga: ABI Jateng Siapkan Survei Internal dan Kajian Manifesto untuk Optimalisasi Kinerja DPD

Perjalanan tersebut, menurut Ustadz Zahir, menunjukkan bahwa kesamaan identitas dan ikatan mazhab belum cukup untuk membawa sebuah komunitas berkembang. Dalam kondisi tertentu, kelompok-kelompok kecil mungkin masih mampu memenuhi kebutuhan yang terbatas. Namun, ketika komunitas ingin tumbuh, mengambil peran yang lebih besar, dan membangun kemandirian, kerja yang dilakukan sendiri-sendiri akan sampai pada batasnya.

“Ketika kita ingin menjadi komunitas yang berkembang, memiliki peran lebih besar dan mandiri, mustahil semuanya berhasil kalau dilakukan sendiri-sendiri,” kata Ustadz Zahir.

Dari pengalaman tersebut, Ketua Umum ABI mengajak pengurus dan kader untuk melihat pentingnya koordinasi dan keteraturan. Kebutuhan terhadap organisasi, menurutnya, tumbuh seiring bertambahnya persoalan dan tanggung jawab komunitas. Ketika kebutuhan masyarakat semakin luas, berbagai potensi yang selama ini bergerak sendiri perlu dipertemukan dalam arah yang sama.

Keteraturan Menjadi Kebutuhan

Untuk menjelaskan pentingnya keteraturan, Ustadz Zahir menyinggung penjelasan Sayyid Musa al-Sadr terhadap Surah Ar-Rahman ayat 7 dan 8.

“Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan. Agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.”

Ketua Umum ABI menjelaskan bahwa timbangan dalam ayat tersebut tidak hanya dimaknai sebagai benda fisik. Timbangan menggambarkan adanya aturan, ketepatan, dan keseimbangan yang diletakkan Allah dalam seluruh ciptaan.

Ustadz Zahir kemudian mengulang pertanyaan yang pernah diajukan Sayyid Musa al-Sadr mengenai makna Allah meninggikan langit dan meletakkan timbangan. Menurut beliau, pertanyaan tersebut membawa manusia pada pemahaman bahwa segala sesuatu diciptakan dan berjalan berdasarkan aturan yang tepat.

Baca juga: Pengkaderan Perdana Muslimah ABI Jateng di Wonosobo, 49 Peserta Ikuti PTD

Pesan berikutnya adalah agar manusia tidak melampaui aturan yang telah ditetapkan. Prinsip tersebut, kata Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, juga berlaku dalam kehidupan komunitas dan organisasi.

“Kalau ingin bertahan dan berkembang, kita harus teratur. Allah menciptakan segala sesuatu sesuai aturan. Melanggar aturan akan membawa kehancuran,” ujarnya.

Ketidakteraturan dalam satu bagian, menurut Ustadz Zahir, dapat menimbulkan dampak terhadap bagian lain. Karena itu, organisasi membutuhkan cara kerja yang mampu menjaga hubungan antarbagian agar tidak bergerak menurut kepentingan masing-masing.

Dari Lembaga Lokal Menuju Gerak Bersama

Ustadz Zahir mengatakan komunitas ABI telah melalui perjalanan panjang. Di berbagai daerah, tumbuh majelis taklim, husainiyah, hauzah, yayasan, dan berbagai lembaga yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Semua itu, menurut beliau, memiliki peran penting dalam perjalanan komunitas.

Namun, perkembangan kebutuhan kemudian menuntut cara bergerak yang lebih luas. Ketika komunitas mulai berbicara tentang kemandirian ekonomi, pendidikan, dan masa depan bersama, kekuatan yang tersebar tidak akan cukup apabila masing-masing berjalan tanpa koordinasi.

Di situlah, menurut Ketua Umum ABI, keberadaan organisasi kemasyarakatan menjadi penting. Organisasi bukan untuk menggantikan atau menghilangkan lembaga-lembaga yang telah tumbuh, melainkan mempertemukan berbagai potensi komunitas dalam satu arah gerak.

“Kalau tujuan akhir komunitas hanya memiliki sekolah atau husainiyah, itu masih berada pada level kebutuhan masing-masing. Tetapi kalau kita berbicara tentang kemandirian ekonomi, pendidikan, dan masa depan komunitas, semua itu sangat sulit dicapai tanpa kerja organisasi,” kata Ustadz Zahir.

Beliau menekankan bahwa kemajuan komunitas tidak dapat hanya dibangun oleh satu kelompok atau wilayah. Kemandirian dalam berbagai bidang membutuhkan kerja bersama, koordinasi, serta kemampuan menempatkan kepentingan komunitas di atas kepentingan yang lebih sempit.

Tantangan yang Dihadapi Organisasi

Membangun organisasi, kata Ustadz Zahir, tidak pernah lepas dari berbagai hambatan. ABI membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, jaringan, keterampilan, serta kapasitas untuk mengelola berbagai kebutuhan organisasi.

Namun, tantangan tidak selalu datang dari luar. Dalam paparannya, Ketua Umum ABI menyinggung sikap individualistis, kecenderungan memikirkan kepentingan dan kepuasan pribadi, primordialisme, kedaerahan, serta ketergantungan kepada tokoh tertentu sebagai persoalan yang dapat menghambat kerja organisasi.

Baca juga: ABI Jateng Perkuat Konsolidasi di Tengah Sorotan Isu Iran

Ustadz Zahir juga mengingatkan bahwa menjadi pengurus maupun kader yang terlibat dalam kerja organisasi tidak selalu menghasilkan apa yang dicari banyak orang. Tidak ada jaminan keuntungan materi atau popularitas. Dalam keadaan tertentu, mereka yang memilih berada di garis depan kerja organisasi bahkan dapat menghadapi kritik dan celaan.

“Anda tidak akan mendapatkan keuntungan materi. Anda tidak akan menjadi populer. Bahkan bisa saja dicaci,” kata Ustadz Zahir.

Karena itu, menurut Ketua Umum ABI, pengurus dan kader harus memiliki keteguhan untuk terus bekerja tanpa menggantungkan motivasi pada penghargaan dari orang lain.

Bekerja Tanpa Bergantung pada Pujian

Dalam bagian lain pembicaraannya, Ustadz Zahir mengutip Surah Ali Imran ayat 195.

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan perbuatan orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain.”

Ayat tersebut, menurut Ketua Umum Ahlulbait Indonesia, menjadi pengingat bahwa amal yang dilakukan dengan keyakinan tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak memperoleh pengakuan dari manusia. Dalam penjelasannya, beliau juga menyinggung pandangan Imam Ali bahwa dukungan banyak orang tidak seharusnya membuat seseorang merasa berlebihan, sementara penolakan dan penghinaan tidak semestinya membuat seseorang kehilangan ketenangan.

Dari penjelasan tersebut, Ustadz Zahir menyampaikan dua hal yang menurutnya perlu dijaga oleh para pengurus dan kader ABI.

Pertama, pengurus dan kader tidak boleh menggantungkan semangat bekerja pada pujian orang lain. Kerja organisasi harus dijalankan karena keyakinan terhadap tujuan yang diperjuangkan. Ketika seseorang bekerja hanya demi pengakuan, kekecewaan akan mudah datang saat penghargaan tersebut tidak diperoleh.

Pengurus dan kader ABI, menurut Ketua Umum ABI, perlu membangun kekuatan dari dalam diri dan memandang kerja organisasi sebagai amal yang harus dijalankan dengan kesungguhan, termasuk ketika menghadapi kesulitan dan tekanan.

Hal kedua adalah kesabaran dalam melihat hasil. Tidak semua kerja baik langsung memperlihatkan hasilnya. Ustadz Zahir mengibaratkan kerja organisasi seperti menanam pohon yang membutuhkan waktu sebelum akhirnya berbuah.

Karena itu, pengurus, kader, dan seluruh unsur penggerak ABI tidak perlu tergesa-gesa menilai hasil dari setiap langkah yang telah dijalankan. Proses membutuhkan waktu, ketekunan, dan kemampuan untuk terus bekerja meskipun hasilnya belum langsung terlihat.

Baca juga: DPW ABI Jateng Hadir di Forum Lemhannas: Ormas Diingatkan Jangan “Bulus”, Waspadai Intoleransi

“Proses dan waktu berjalan seiring dengan pelaksanaan amal,” kata Ustadz Zahir.

Pertemuan di Semarang tersebut menjadi kesempatan bagi jajaran pengurus dan kader ABI Jawa Tengah untuk kembali membicarakan arti penting organisasi dalam perjalanan komunitas. Bagi Ketua Umum ABI, organisasi bukan hanya persoalan struktur dan kepengurusan, melainkan cara untuk menghubungkan berbagai kekuatan yang ada agar mampu bergerak menuju tujuan bersama.

Keteraturan diperlukan agar setiap bagian tidak berjalan sendiri-sendiri, sementara keteguhan dibutuhkan agar kerja organisasi tidak berhenti ketika hasil belum terlihat atau ketika pengurus dan kader tidak memperoleh pengakuan atas apa yang telah dikerjakannya. Dengan demikian, pembicaraan mengenai persoalan komunitas tidak berhenti pada kemampuan melihat masalah, tetapi diarahkan pada tanggung jawab untuk mengambil langkah dan menyelesaikannya bersama. []

Baca juga: DPW ABI Jateng Tutup Pelatihan Dua Hari: Jurnalistik dan Kehumasan Jadi Fondasi Citra Organisasi