Opini
Membaca Gagasan Ketua Umum ABI Tentang Pekan Persatuan Umat dalam Semangat Maulid Nabi

Oleh: Muhlisin Turkan
Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan (HMP) Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia
Jepara, 8 September 2026 – Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW membawa umat Islam kembali kepada sosok yang menjadi pusat iman dan sejarah mereka. Solawat dilantunkan, perjalanan hidup Rasulullah dikenang, dan kemuliaan akhlaknya kembali dibicarakan. Namun, di tengah penghormatan itu, ada kenyataan yang sulit diabaikan: umat yang sama-sama mengaku mencintai Nabi masih kerap menemukan alasan untuk saling menjauh, bahkan saling menyesatkan. Perbedaan mazhab, tradisi, organisasi, dan pandangan keagamaan tidak jarang berkembang menjadi jarak sosial dan kecurigaan yang diwariskan dari satu lingkungan ke lingkungan lain.
Maulid Nabi karena itu menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW: sejauh mana nilai-nilai yang dibawanya benar-benar hadir dalam cara kita hidup dengan semesta dan memperlakukan sesama? Pertanyaan itu pula yang memberi relevansi tersendiri bagi Seminar Nasional Pendekatan Antarmazhab Islam di Indonesia yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Astina Hall, Hotel Grasia, Semarang, Sabtu, 5 September 2026.
Baca juga: Di Semarang, Maulid Nabi Menyatukan Tokoh Antarmazhab dan Lintas Iman
Wakil Ketua MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Abu Hapsin, M.A., Ph.D., hadir sebagai pembicara kunci, sementara jalannya diskusi dipandu K.H. Drs. Taslim Syahlan, Sekretaris Jenderal Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama Indonesia. Sejumlah tokoh dari beragam latar belakang turut menjadi narasumber. Mereka adalah Prof. Sumanto Al Qurtuby, Ph.D., dari Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations UKSW Salatiga; Prof. Dr. Rozihan, S.H., M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah; Ustadz Zahir Yahya, M.A., Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia; serta Pdt. Aryanto Nugroho, Ketua Badan Pimpinan Pusat Gereja JAGI.
Di tengah pembahasan mengenai hubungan antarmazhab dan kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk, Ustadz Zahir Yahya menyampaikan paparan bertajuk Muhammad, Nabi Rahmat, Toleransi dan Solidaritas. Pandangan yang disampaikannya tidak menempatkan persatuan semata-mata sebagai kebutuhan politik umat atau hasil kesepakatan sosial antarkelompok. Persatuan dipandang sebagai sesuatu yang harus bertumpu pada landasan yang lebih dalam: rahmat Nabi, toleransi, solidaritas, serta kesediaan manusia membangun hubungan di tengah perbedaan.

Seminar Antarmazhab di Semarang membahas persatuan umat melalui pandangan Ustadz Zahir Yahya tentang rahmat, perbedaan, Palestina, dan komunikasi.
Persatuan yang Terlalu Sering Berhenti pada Seruan
Pembicaraan tentang persatuan bukan sesuatu yang langka dalam kehidupan umat Islam. Hampir setiap pertemuan keagamaan memunculkan seruan yang sama. Perpecahan dipandang sebagai persoalan, persatuan disebut sebagai cita-cita, dan ukhuwah dikemukakan sebagai jalan keluar. Namun, persatuan tampaknya jauh lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan.
Umat Islam sesungguhnya tidak kekurangan alasan untuk bersatu. Kesamaan Tuhan, Nabi, kitab suci, kiblat, dan pokok-pokok keimanan merupakan ikatan yang jauh lebih besar daripada banyak perbedaan yang selama ini dipertentangkan. Akan tetapi, kesamaan yang begitu mendasar tidak dengan sendirinya melahirkan kemampuan untuk hidup bersama secara dewasa. Dalam kenyataan, manusia sering lebih tekun menghitung perbedaan daripada merawat kesamaan. Karena itu, persoalan persatuan tidak akan selesai hanya dengan memperbanyak seruan. Persatuan yang berhenti dalam pidato, spanduk, atau tema pertemuan mudah kehilangan daya ketika manusia kembali kepada lingkungan dan kepentingannya masing-masing. Kesepakatan yang tampak kokoh di dalam sebuah ruangan belum tentu bertahan ketika berhadapan dengan perbedaan yang nyata di luar ruangan.
Dalam seminar tersebut, Ustadz Zahir Yahya mengajak peserta melihat persoalan ini lebih jauh: di atas apa sebenarnya persatuan hendak dibangun? Kesepakatan tentu diperlukan dalam kehidupan bersama, tetapi kesepakatan dapat berubah. Kepentingan bergeser, keadaan berubah, dan hubungan yang hari ini tampak erat dapat renggang ketika situasi tidak lagi menguntungkan. Persatuan juga kerap muncul sebagai reaksi terhadap keadaan. Ketika konflik terjadi, persatuan kembali diserukan. Ketika ancaman datang, solidaritas dibangkitkan. Setelah keadaan mereda, perhatian kembali terpecah. Dalam pola seperti ini, persatuan mudah berubah menjadi kebutuhan sesaat, bukan kesadaran yang terus dipelihara.
Baca juga: Kaderisasi ABI: Menjemput Masa Depan dengan Tiga Pilar
Dari kegelisahan inilah gagasan tentang Pekan Persatuan menjadi penting. Bukan sebagai agenda peringatan tambahan, melainkan sebagai ikhtiar untuk menjadikan persatuan pekerjaan yang terus dirawat. Kesamaan memang dapat menjadi titik awal, tetapi hubungan tidak akan bertahan tanpa perjumpaan, saling mengenal, solidaritas, dan empati. Persatuan tidak seharusnya baru dicari ketika umat merasa terancam, lalu kembali dilupakan setelah ancaman berlalu.
Dari Rahmat Nabi ke Ruang Hidup Bersama
Ustadz Zahir Yahya menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa rahmat. Rahmat bukan hanya gambaran tentang kelembutan pribadi Rasulullah, melainkan bagian dari misi dan risalah kenabiannya. Bagi Ustadz Zahir, rahmat Nabi tidak berhenti pada hubungan pribadi, tetapi harus hadir dalam cara manusia memperlakukan orang lain. Karena itu, toleransi dan solidaritas tidak semestinya berhenti pada lingkungan atau kelompok sendiri.
Gagasan ini terdengar sederhana, tetapi pelaksanaannya tidak selalu mudah. Menerima orang lain relatif gampang selama perbedaannya tidak terlalu mengusik kenyamanan kita. Toleransi terdengar mulia selama mereka yang berbeda masih berada dalam batas yang kita anggap wajar. Ujiannya muncul ketika perbedaan menyentuh wilayah yang paling dekat dengan identitas seseorang: keyakinan, mazhab, tradisi ibadah, sejarah kelompok, atau pandangan tentang siapa yang paling benar. Menghormati orang yang sudah kita sukai tidak membutuhkan banyak latihan batin. Persoalan baru terasa ketika seseorang berhadapan dengan mereka yang tidak sepandangan dengannya. Dalam keadaan seperti itulah rahmat, toleransi, dan solidaritas benar-benar diuji. Pendekatan antarmazhab bukan jalan untuk menghapus perbedaan, melainkan upaya membangun kemampuan hidup bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mencabut penghormatan terhadap sesama.
Dari cara pandang itu, persatuan tidak hanya menyangkut hubungan antarkelompok Islam. Ustadz Zahir Yahya melihat kehidupan manusia melalui tiga lingkaran yang saling berkaitan: manusia, umat, dan bangsa. Ketiganya bukan identitas yang saling berebut tempat, melainkan bagian dari kenyataan yang bersama-sama membentuk kehidupan manusia.
Sebelum menjadi pengikut mazhab tertentu, anggota organisasi, atau warga suatu negara, seseorang terlebih dahulu adalah manusia. Dalam paparan Ustadz Zahir Yahya, fitrah ketauhidan menjadi dasar universal yang tertanam pada setiap insan. Kesadaran akan kemanusiaan inilah yang memungkinkan hubungan dengan orang lain tetap berdiri, bahkan ketika kesamaan kelompok tidak ditemukan. Di dalam kehidupan beragama, manusia kemudian terhubung dalam ikatan keimanan. Umat Islam memiliki keterhubungan kepada Allah dan ajaran-Nya yang semestinya memperluas persaudaraan di antara sesama Muslim, bukan justru menyempitkannya ke dalam batas kelompok dan mazhab.
Manusia dan umat pada saat yang sama hidup dalam kenyataan kebangsaan. Seorang Muslim Indonesia merupakan bagian dari masyarakat dan bangsa yang dibentuk oleh sejarah, keragaman, serta kesepakatan hidup bersama. Dalam kehidupan tersebut, Pancasila menyediakan titik temu bagi warga dengan latar belakang yang berbeda untuk hidup dalam ruang kebangsaan yang sama. Dengan demikian, kemanusiaan memberikan pijakan universal, keislaman menghadirkan ikatan keimanan, sementara kebangsaan menyediakan ruang untuk hidup bersama. Ketiganya tidak perlu saling meniadakan atau dipertentangkan.
Persoalan muncul ketika salah satu identitas dipaksa menjadi ukuran tunggal dalam memandang manusia. Ketika kelompok menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan siapa yang layak dihormati, persatuan kehilangan pijakan kemanusiaannya. Ketika agama hanya dijadikan penanda kelompok, pesan universalnya menyempit. Ketika kebangsaan dilepaskan dari tanggung jawab moral, kehidupan bersama mudah berubah menjadi kumpulan slogan.

Tokoh agama, akademisi, dan perwakilan berbagai organisasi duduk bersama dalam Seminar Nasional Pendekatan Antarmazhab Islam yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Astina Hall, Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Memahami Perbedaan Sebelum Menilainya
Persatuan tidak sama dengan keseragaman. Kehidupan manusia memang tidak tumbuh dari kesamaan yang mutlak. Sejarah membentuk pengalaman yang berbeda, lingkungan melahirkan kebiasaan yang berbeda, dan kebudayaan ikut memengaruhi cara manusia memahami dunia. Karena itu, tidak semua orang melihat persoalan dari sudut yang sama. Indonesia sendiri berdiri di atas kenyataan tersebut. Keberagaman suku, bahasa, budaya, organisasi, dan ekspresi keberagamaan bukan sesuatu yang berada di pinggir kehidupan bersama, melainkan bagian dari kenyataan sehari-hari. Di lingkungan Islam, keragaman mazhab dan tradisi juga tidak dapat disingkirkan hanya dengan menolak mengakuinya.
Masalah mulai muncul ketika perbedaan pada bentuk dianggap sebagai perbedaan pada hakikat. Sesuatu yang tidak dikenal dalam tradisi sendiri mudah dicurigai sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing. Perbedaan dalam praktik kemudian tergesa-gesa diperlakukan sebagai bukti bahwa seluruh pandangan, bahkan seluruh identitas, juga berbeda. Padahal, memahami suatu pandangan tidak sama dengan menyetujuinya. Seseorang tetap dapat mempertahankan ketidaksetujuan tanpa mengubah perbedaan menjadi kebencian.
Banyak perselisihan bertahan bukan karena orang benar-benar memahami apa yang diperdebatkan, melainkan karena gambaran tentang pihak lain telah terbentuk terlebih dahulu. Sebuah kelompok lebih sering dikenal melalui cerita orang lain daripada melalui penjelasan kelompok itu sendiri. Tuduhan beredar, prasangka diwariskan, lalu generasi berikutnya menerimanya sebagai pengetahuan. Begitulah, kabar yang tidak pernah diperiksa kadang mampu berumur lebih panjang daripada penjelasan yang sebenarnya. Manusia memang cukup berbakat memelihara kesimpulan sebelum bersusah payah mencari fakta.
Baca juga: Deklarasi New York: Babak Damai atau Penutup Sejarah Palestina?
Dalam pandangan yang disampaikan Ustadz Zahir Yahya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan membedakan antara pandangan dunia dan paradigma. Ada hal-hal yang menjadi dasar pandangan hidup dan bersifat mendasar serta universal. Namun, ada pula persoalan yang berada dalam wilayah penafsiran, penerapan, dan jawaban terhadap keadaan tertentu. Keduanya penting, tetapi tidak berada pada tingkat yang sama. Kesalahan sering terjadi ketika sesuatu yang berada dalam wilayah paradigma diperlakukan seolah-olah merupakan prinsip yang tidak dapat diperdebatkan. Pilihan politik, bentuk kelembagaan, strategi sosial, atau rumusan kehidupan bersama kemudian berubah menjadi pertarungan identitas. Perbedaan dalam cara menjawab persoalan dianggap sebagai perbedaan dalam dasar keyakinan.
Padahal, dua masyarakat dapat berangkat dari nilai yang sama, tetapi memilih jalan berbeda ketika menerjemahkannya ke dalam kehidupan sosial. Tidak semua perbedaan harus dibaca sebagai pertentangan prinsip. Sebagiannya lahir dari perbedaan dalam membaca keadaan, menentukan prioritas, atau memilih cara untuk menerapkan nilai yang sama. Kemampuan membedakan antara yang mendasar dan yang berada dalam wilayah penafsiran bukan berarti menganggap semua pandangan sama atau seluruh perbedaan harus diabaikan. Yang diperlukan adalah kejujuran intelektual untuk memahami pada tingkat mana sebuah perbedaan sebenarnya terjadi. Tanpa kemampuan itu, perbedaan kecil mudah dibesarkan menjadi permusuhan besar, sementara sikap keras kepala terhadap perkara yang sesungguhnya masih dapat diperdebatkan sering keliru dianggap sebagai bukti keteguhan dalam beragama.
Solidaritas Melampaui Batas Kelompok
Pendekatan antarmazhab menguji kemampuan umat Islam mengelola perbedaan di dalam dirinya sendiri. Palestina menghadirkan ujian yang lebih luas: apakah kesadaran untuk hidup bersama itu mampu melampaui batas kelompok, identitas, bahkan kepentingan sendiri.
Dalam pandangan yang disampaikan Ustadz Zahir Yahya, Palestina ditempatkan dalam cakrawala solidaritas, keadilan, dan kemanusiaan. Persoalan ini tidak berhenti sebagai urusan satu bangsa, satu agama, atau satu kawasan. Penderitaan rakyat Palestina menjadi ujian terhadap kemampuan manusia menemukan titik persatuan melalui keberpihakan kepada keadilan. Di hadapan persoalan seperti itulah gagasan tentang rahmat memperoleh maknanya yang paling konkret. Solidaritas tidak dapat berhenti pada mereka yang memiliki identitas sama dengan kita. Jika kemanusiaan baru dibela ketika korban berasal dari kelompok sendiri, yang tumbuh bukan solidaritas universal, melainkan kesetiaan yang dibatasi oleh identitas.
Baca juga: Pidato Waketum ABI: Ahlulbait Indonesia, Wilayah, dan Cita-Cita Peradaban
Palestina, karena itu, memperluas makna persatuan yang dibicarakan dalam seminar tersebut. Persatuan diperlukan bukan hanya agar umat Islam mampu mengelola perbedaan di antara sesamanya, tetapi juga agar manusia mampu menemukan keberpihakan bersama ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Sebab, persatuan yang hanya menguatkan hubungan di dalam kelompok, tetapi tidak melahirkan keberanian moral di hadapan penderitaan manusia lain, akan kehilangan salah satu maknanya yang paling mendasar.
Persepsi yang Menggantikan Pengetahuan
Tidak semua perbedaan berubah menjadi konflik karena perbedaan itu sendiri. Sering kali persoalan bermula dari cara sebuah kelompok dipandang oleh kelompok lain. Informasi yang tidak lengkap berubah menjadi kesimpulan, kesimpulan berkembang menjadi prasangka, dan prasangka yang terus diulang akhirnya diterima seperti kebenaran, meskipun tidak pernah benar-benar diperiksa.
Dialog sulit berjalan sehat ketika masing-masing pihak datang dengan gambaran yang keliru tentang pihak lain. Hubungan yang jujur juga sulit tumbuh apabila seseorang terus berbicara tentang sebuah kelompok, tetapi tidak pernah bersedia mendengar bagaimana kelompok itu menjelaskan dirinya sendiri. Banyak ketegangan antarkelompok bertahan bukan karena perbedaan yang tidak dapat dijembatani, melainkan karena orang lebih dahulu membangun penilaian sebelum mengenal apa yang sebenarnya diyakini oleh pihak lain. Persoalan ini semakin rumit di tengah kehidupan komunikasi modern. Sebuah potongan pernyataan dapat beredar tanpa konteks dan segera membentuk kesan yang jauh lebih luas daripada makna sebenarnya. Pendapat seseorang dapat dianggap sebagai sikap resmi seluruh komunitas, sementara penjelasan resmi sebuah organisasi justru kalah oleh cerita yang lebih sensasional dan lebih cepat menyebar. Informasi yang paling cepat beredar, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan manusia, belum tentu yang paling layak dipercaya.
Dalam kerangka itulah gagasan tentang Manifesto ABI memperoleh relevansinya. Manifesto bukan semata dokumen organisasi, melainkan pernyataan terbuka mengenai pandangan, sikap, dan posisi yang hendak disampaikan kepada publik. Kehadirannya penting agar hubungan dengan pihak lain tidak sepenuhnya dibangun dari informasi tangan kedua atau gambaran yang dibentuk oleh mereka yang berada di luar komunitas tersebut.
Prinsipnya sederhana: sebuah kelompok tidak semestinya terus dinilai berdasarkan apa yang dikatakan pihak lain tentang dirinya. Kritik tetap sah dan perbedaan pendapat tidak perlu dihilangkan. Namun, kritik yang jujur menuntut kesediaan untuk terlebih dahulu mengetahui apa yang sebenarnya diyakini dan disampaikan oleh pihak yang dikritik. Karena itu, komunikasi merupakan bagian penting dari kerja persatuan. Ke luar, komunikasi diperlukan agar identitas dan sikap sebuah komunitas tidak seluruhnya ditentukan oleh narasi pihak lain. Ke dalam, komunikasi membantu membedakan pandangan pribadi dari sikap bersama. Kepercayaan sulit dibangun apabila setiap pihak lebih mengenal karikatur tentang kelompok lain daripada pandangan kelompok itu sendiri.
Maulid dan Cara Kita Memperlakukan Sesama
Dari seluruh pembicaraan itu, Maulid Nabi memperoleh makna yang lebih luas daripada seremoni tahunan. Mengingat kelahiran Rasulullah tentu penting. Melantunkan selawat dan mengenang perjalanan hidup serta kemuliaan akhlaknya juga merupakan bagian dari kecintaan umat kepada Nabi. Namun, kecintaan tidak berhenti pada apa yang diucapkan dalam sebuah peringatan.
Ada ukuran yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seseorang memperlakukan mereka yang tidak sama dengannya.
Baca juga: Analisis Strategis dan Filosofis Sambutan Ketua Umum DPP Ahlulbait Indonesia
Pertanyaan ini mungkin tidak selalu nyaman. Lebih mudah berbicara tentang kemuliaan Nabi daripada memeriksa cara kita memperlakukan orang di luar kelompok sendiri. Lebih mudah mengagungkan akhlak Rasulullah daripada menahan diri ketika menerima kabar buruk tentang kelompok yang tidak kita sukai. Lebih mudah menyerukan persatuan daripada mengoreksi prasangka yang telah lama dipelihara. Nilai-nilai yang dibicarakan dalam peringatan Maulid justru diuji ketika manusia kembali ke kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam suasana religius yang penuh penghormatan, melainkan ketika berhadapan dengan perbedaan, prasangka, kepentingan, dan orang-orang yang tidak selalu sejalan dengan pandangan kita.
Seminar di Semarang tentu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan antarmazhab. Perbedaan mazhab dibentuk oleh sejarah panjang, pengalaman intelektual, serta dinamika sosial yang tidak akan hilang dalam satu pertemuan. Namun, sebuah forum dapat melakukan sesuatu yang lebih mungkin dan sekaligus penting: mengubah arah percakapan. Dari kebiasaan saling menilai menuju kesediaan untuk saling mendengar. Dari prasangka menuju pemeriksaan. Dari keinginan menjadikan semua orang sama menuju kesadaran bahwa kehidupan bersama justru harus dibangun karena perbedaan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapus.
Apa yang disampaikan Ustadz Zahir Yahya dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa persatuan bukan hanya persoalan menemukan kesamaan. Umat sebenarnya telah memiliki banyak titik temu. Tantangan yang jauh lebih besar adalah menempatkan kesamaan dan perbedaan secara proporsional, membedakan antara prinsip dan penerapan, merawat solidaritas dalam jangka panjang, serta memastikan hubungan antarkelompok tidak dibangun di atas informasi yang keliru.
Persatuan tidak dimulai ketika semua orang akhirnya menjadi sama. Persatuan mulai tumbuh ketika manusia memiliki kedewasaan untuk memahami bahwa tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan, tidak semua perbedaan berada pada tingkat yang sama, dan tidak setiap cerita tentang kelompok lain patut diterima tanpa pemeriksaan.
Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas, kepentingan, dan banjir informasi, pekerjaan semacam itu barangkali jauh lebih mendesak daripada terus menambah seruan tentang persatuan. Persatuan tidak hidup karena terus-menerus diucapkan.
Persatuan hidup ketika manusia masih bersedia mendengar sebelum menghakimi, memahami sebelum menuduh, dan berlaku adil bahkan kepada mereka yang memilih jalan berbeda. []
Baca juga: Seminar Maulid Nabi dan Ikhtiar Merawat Dialog Antarmazhab Dibuka Ustadz Miqdad Turkan







