Perspektif ABI
Ustadz Zahir Yahya: Oleh-oleh dari Iran, Kesadaran Kolektif di Balik Lautan Manusia

Jakarta, 23 Juli 2026 — Kesadaran kolektif yang menggerakkan jutaan warga Iran dalam prosesi penghormatan dan pemakaman Syahid Imam Ali Khamenei menjadi pelajaran paling berharga yang dibawa Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, bersama rombongan dari kunjungan mereka ke Iran. Mereka menghadiri prosesi tersebut atas undangan resmi Pemerintah Iran. Pengalaman dan oleh-oleh itu kemudian dibagikan Ustadz Zahir dalam rapat reguler Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) yang digelar secara hybrid pada Selasa (21/7/2026).
Melalui sambungan Zoom, Ustadz Zahir mengajak jajaran pengurus DPP ABI melihat prosesi itu dari perspektif yang lebih mendasar. Lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Teheran memang menyita perhatian, tetapi bukan itu saja makna utama peristiwa tersebut. Menurutnya, inti dari seluruh rangkaian prosesi terletak pada kesadaran kolektif yang menggerakkan jutaan orang hadir dalam satu momentum sejarah.
Ustadz Zahir mengawali oleh-oleh sebagai refleksinya dengan menceritakan rangkaian prosesi yang diikutinya, mulai dari penghormatan resmi kenegaraan, penghormatan publik, salat jenazah, pengantaran hingga pemakaman di Teheran. Perjalanan itu kemudian berlanjut ke Qom, Najaf, Karbala, dan Masyhad. Bagi Ustadz Zahir, setiap kota menghadirkan pengalaman dan pesan yang saling bertaut, baik melalui prosesi resmi maupun respons spontan masyarakat.
Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa
“Ini merupakan salah satu peristiwa kontemporer terpenting dalam sejarah umat Islam. Terlalu sulit menggambarkan keseluruhannya hanya melalui foto atau pemberitaan,” ujarnya.
Di tengah lautan manusia yang memadati jalan-jalan Teheran, perhatian Ustadz Zahir tidak tertuju pada besarnya kerumunan. Yang menarik perhatiannya justru berbagai potret kecil yang memperlihatkan bagaimana kesadaran kolektif tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.
Kehadiran sekitar 20 juta orang menjadikan prosesi tersebut sebagai salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah modern, bahkan melampaui jumlah pelayat pada pemakaman Dalai Lama. Namun, bagi Ustadz Zahir, besarnya angka itu bukanlah pesan utama yang ingin disampaikan peristiwa tersebut.
“Aspek kuantitatif memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah landasan kesadaran, motivasi, dan rasa tanggung jawab yang menggerakkan jutaan orang itu. Jangan berhenti pada kekaguman terhadap angka,” ujarnya.
Karena itu, Ustadz Zahir justru mengajak melihat detail-detail yang sering luput dari perhatian. Menurutnya, potongan-potongan kecil yang lahir secara spontan selama prosesi jauh lebih mampu menjelaskan makna sebuah peristiwa dibandingkan statistik jutaan pelayat.
Di sepanjang prosesi, Ustadz Zahir menangkap banyak pemandangan yang, menurutnya, lebih berbicara daripada angka. Beliau melihat para ibu menggendong bayi sambil menggandeng anak-anak mereka, anak-anak yang dipanggul di atas pundak ayahnya, keluarga yang mendorong kereta bayi di tengah lautan manusia, serta beragam ekspresi yang terpancar dari wajah para pelayat, kesedihan, kemarahan terhadap musuh, penghormatan, keteguhan, hingga tekad untuk terus melanjutkan perjuangan.
“Ratusan adegan kecil seperti itulah yang sesungguhnya menggambarkan karakter jutaan manusia,” tuturnya.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Dari Ghadir ke Perlawanan dalam Menjaga Risalah Kepemimpinan Ilahi
Ustadz Zahir menilai, tingkat kesadaran jutaan orang yang hadir tentu tidak seragam. Namun, mereka dipersatukan oleh satu rasa tanggung jawab yang sama: menunaikan penghormatan dan hutang moral kepada seorang syahid yang selama lebih dari empat dekade memimpin Iran dengan kebijaksanaan dan keteguhan.
Prosesi itu, lanjutnya, juga menjadi momentum pembaruan baiat, bukan hanya kepada sosok yang telah syahid, tetapi juga kepada kepemimpinan yang melanjutkan Jalan Perlawanan. Kehadiran jutaan rakyat menjadi penegasan bahwa strategi Amerika Serikat dan Israel untuk memutus kesinambungan Jalan Perlawanan tidak berhasil.
Dari rangkaian prosesi tersebut, Ustadz Zahir menangkap sedikitnya tiga pesan strategis.
Pertama, Jalan Perlawanan merupakan pilihan strategis bangsa Iran, bukan instrumen ekspansi kawasan seperti yang selama ini dituduhkan.
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran menghadapi perang, sanksi ekonomi, tekanan politik, operasi intelijen, hingga berbagai bentuk agresi yang bertujuan mematahkan semangat perlawanan. Seluruh tekanan itu, menurut Ustadz Zahir, diarahkan untuk mengubah orientasi strategis bangsa Iran.
Prosesi penghormatan yang dihadiri jutaan rakyat justru memperlihatkan kenyataan sebaliknya. Kesetiaan yang mereka tunjukkan menjadi pesan bahwa Jalan Perlawanan tidak berhenti bersama syahidnya seorang pemimpin, melainkan akan terus berlanjut dengan tekad yang lebih kuat.
“Kesetiaan yang diperlihatkan jutaan rakyat Iran menjadi pesan bahwa Jalan Perlawanan tidak berhenti bersama syahidnya seorang pemimpin. Jalan itu akan terus berlanjut, bahkan dengan tekad yang lebih besar,” ujar Ustadz Zahir.
Pesan kedua, prosesi tersebut, menurut Ustadz Zahir, berhasil mematahkan narasi yang selama ini dibangun mengenai adanya jurang antara rakyat dan sistem Republik Islam Iran.
Selama bertahun-tahun, berbagai media Barat menggambarkan dukungan masyarakat terhadap Revolusi Islam terus melemah. Apa yang disaksikannya selama rangkaian prosesi justru menunjukkan sebaliknya. Dari jajaran pemimpin negara hingga rakyat biasa, seluruhnya hadir dalam satu suasana yang mencerminkan kohesi sosial yang kuat.
“Bila ada yang berharap terjadi perpecahan antara rakyat dan pemerintah di Iran, prosesi ini menunjukkan bahwa harapan itu merupakan kesalahan kalkulasi,” katanya.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha
Pesan ketiga, berkaitan dengan dimensi transnasional prosesi tersebut. Menurut Ustadz Zahir, rangkaian penghormatan itu sekaligus mengonsolidasikan posisi Iran dan Jalan Perlawanan di tingkat internasional.
Hal itu tercermin dari kehadiran berbagai delegasi negara dalam prosesi tersebut. Bahkan, sejumlah negara yang sebelumnya cenderung menjaga jarak akhirnya tetap mengirimkan delegasi resmi sebagai bentuk penghormatan.
Refleksi serupa juga dirasakannya saat melanjutkan perjalanan ke Najaf dan Karbala, Irak. Di tengah berbagai upaya untuk memisahkan Iran dan Irak, yang tampak justru ikatan persaudaraan yang kuat antara kedua bangsa. Bagi Ustadz Zahir, pemandangan itu menjadi pesan tersendiri bahwa hubungan Iran dan Irak tidak mudah dipisahkan oleh berbagai kepentingan politik di kawasan.
Menutup sambutannya, Ustadz Zahir menegaskan bahwa warisan Syahid Imam Ali Khamenei melampaui kepemimpinannya di Iran. Warisan itu, menurutnya, berupa strategi membangun Jalan Perlawanan, komitmen membela Palestina, serta ikhtiar memperkuat persatuan umat Islam.
Warisan tersebut diyakininya tidak akan berhenti bersama wafatnya sang pemimpin, melainkan akan diteruskan dan diperkuat oleh para penerusnya.
Ustadz Zahir juga mengingat kembali salah satu pesan Syahid Imam Ali Khamenei. Menurutnya, Syahid Imam Ali Khamenei pernah menegaskan bahwa setiap kali Islam dan Iran menghadapi ancaman, Allah akan membangkitkan orang-orang yang siap bangkit untuk membela, melindungi, dan menolongnya.
“Bagi saya, apa yang disaksikan di Iran merupakan manifestasi nyata dari pesan tersebut. Dunia dibuat kagum bukan semata karena jutaan manusia berkumpul, melainkan karena kesadaran yang menggerakkan mereka untuk hadir dan menunjukkan kesetiaannya,” pungkasnya. []
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh







