Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ustadz Ahmad Hidayat: Maulid Mengajarkan Tauhid, Harapan, dan Perlawanan

Published

on

Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan sambutan dalam rapat reguler DPP Ahlulbait Indonesia (ABI) secara hybrid, Selasa (1/9/2026), dengan menekankan Maulid Nabi sebagai sekolah tauhid, akhlak, persatuan, dan perlawanan.
Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan sambutan dalam rapat reguler DPP Ahlulbait Indonesia (ABI) secara hybrid, Selasa (1/9/2026), dengan menekankan Maulid Nabi sebagai sekolah tauhid, akhlak, persatuan, dan perlawanan.

Jakarta, 2 September 2026 – Suasana bulan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu pokok renungan dalam rapat reguler Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ahlulbait Indonesia (ABI) yang digelar secara hybrid pada Selasa (1/9). Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum ABI, Ustadz Ahmad Hidayat, mengajak seluruh jajaran pimpinan organisasi untuk memaknai kelahiran Rasulullah SAW bukan hanya sebagai sebuah peristiwa sejarah, melainkan sebagai peristiwa penting dalam perjalanan tauhid, kemanusiaan, dan peradaban. Bagi Ustadz Ahmad, Maulid mengandung pelajaran yang jauh lebih luas daripada peringatan tahunan, karena kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa sebuah risalah yang mengubah cara manusia memahami Tuhan, dirinya sendiri, kehidupan, dan hubungan antarsesama.

Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Muharram, Panggung Perlawanan terhadap Kezaliman demi Tegaknya Keadilan

Memahami Kembali Kehadiran Rasulullah

Masih dalam suasana bulan Maulid, Ustadz Ahmad mengawali sambutannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 45–46:

“Wahai Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutus engkau untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, serta untuk menjadi penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita yang menerangi.”

Ayat tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami kembali makna kehadiran Nabi Muhammad SAW. Menurut Ustadz Ahmad, kelahiran Rasulullah tidak dapat dipisahkan dari risalah yang dibawanya, tugas kenabiannya, serta perubahan besar yang kemudian ditorehkan Islam dalam perjalanan manusia dan peradaban. Karena itu, Maulid bukan hanya momentum mengenang kelahiran seorang tokoh besar, melainkan kesempatan untuk kembali melihat alasan mengapa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang demikian mendasar.

“Maulid itu sangat istimewa. Maulid adalah sekolah tauhid, sekolah akhlak, sekolah persatuan, dan sekolah perlawanan,” ujar Ustadz Ahmad.

Menurutnya, kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak dapat dipahami sebagaimana kelahiran manusia biasa. Kehadiran Rasulullah memiliki hubungan yang mendasar dengan agama dan risalah yang dibawanya. Seluruh perjalanan hidup Nabi, termasuk sebelum menerima wahyu dan diangkat sebagai Rasul, menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian memperlihatkan nilai-nilai yang dibawa dan disempurnakan melalui ajaran Islam. Karena itu, peringatan Maulid tidak semestinya berhenti pada perayaan kelahiran, melainkan perlu menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai dan pelajaran yang terkandung dalam risalah Rasulullah.

Dari Kejahilan Menuju Kesadaran Tauhid

Dalam pandangan Ustadz Ahmad, salah satu pesan utama Maulid adalah kebangkitan tauhid. Kelahiran Rasulullah membawa manusia keluar dari kejahilan menuju kesadaran, dan tauhid menjadi fondasi dari perubahan tersebut. Melalui pengenalan kepada Allah, manusia memperoleh arah untuk memahami dirinya, kehidupannya, dan tujuan keberadaannya. Dengan kata lain, perubahan yang dibawa Islam tidak bermula dari perubahan lahiriah semata, melainkan dari perubahan cara manusia memandang kehidupan.

“Maulid adalah kebangkitan fondasi tauhid, pemahaman, dan makrifat,” kata Ustadz Ahmad.

Tauhid, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan keyakinan yang berada dalam ruang pribadi seseorang. Dari tauhid lahir cara manusia menentukan arah hidup, membangun hubungan sosial, dan membentuk peradaban. Karena itu, memperingati Maulid juga berarti membangkitkan kembali kesadaran untuk keluar dari berbagai bentuk kejahilan yang masih membelenggu manusia, baik dalam cara berpikir maupun dalam cara menjalani kehidupan.

Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Pemakaman Imam Syahid Menjadi Klimaks 47 Tahun Revolusi Islam

Risalah yang Membuka Harapan

Kehadiran Rasulullah SAW, lanjut Ustadz Ahmad, juga membawa kabar gembira dan membuka harapan bagi manusia. Risalah Nabi memberi manusia arah dan keyakinan bahwa kehidupan tidak dijalani tanpa tujuan. Harapan, menurutnya, memiliki tempat penting dalam kehidupan, sebab ketika seseorang memiliki sesuatu yang diyakini dapat diraih, tumbuh pula kegembiraan dan kekuatan untuk terus melangkah menghadapi berbagai kesulitan.

Nabi Muhammad SAW datang membawa perubahan melalui tauhid dan Islam. Dengan risalah tersebut, manusia tidak lagi berjalan tanpa arah, tetapi memiliki jalan dan landasan untuk menentukan sikap dalam kehidupan. “Dalam kehidupan, kita tidak sendirian. Kita memiliki jalan dan landasan yang sudah diberikan Nabi. Tinggal bagaimana kita istiqamah di jalan itu,” ujarnya.

Dalam kerangka tersebut, Maulid menjadi ruang untuk membangun kembali optimisme. Harapan yang lahir dari keyakinan bukan hanya membuat manusia lebih kuat menghadapi kehidupan, tetapi juga mendorongnya untuk menjaga harga diri dan menempuh jalan kemuliaan. Risalah Nabi, karena itu, tidak hanya berbicara tentang kehidupan akhirat, tetapi juga memberi orientasi moral bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Keteladanan dan Kekuatan Kebersamaan

Ustadz Ahmad juga menyinggung kedudukan Rasulullah sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Meneladani Nabi, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan perilaku pribadi atau hubungan seorang manusia dengan Tuhannya. Keteladanan Rasulullah juga mengajarkan bagaimana membangun hubungan sosial yang kuat, bertumpu pada penghormatan, respek, kasih sayang, dan ikatan moral di antara manusia.

Sebuah komunitas, termasuk organisasi, tidak cukup dibangun hanya dengan struktur dan program. Organisasi membutuhkan ikatan yang membuat orang-orang di dalamnya merasa terhubung oleh tujuan dan harapan bersama. Ikatan moral tersebut menjadi penting agar sebuah komunitas tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi persoalan dan tantangan. Tanpa kebersamaan yang dibangun di atas penghormatan dan rasa saling menjaga, struktur organisasi dapat tetap berdiri, tetapi kehilangan kekuatan yang membuatnya mampu bertahan dan bergerak.

Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI Ustadz Ahmad Hidayat tentang Idul Adha

Ustadz Ahmad mengingatkan bahwa menjadikan Rasulullah sebagai teladan juga berarti tidak mengikuti jalan yang membawa manusia kepada kerusakan. Ketundukan kepada pihak-pihak yang membawa kehancuran, menurutnya, tidak akan melahirkan harapan dan kemuliaan. Keteladanan Nabi justru mengajarkan keberanian untuk mempertahankan prinsip tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga hubungan dan kebersamaan di antara mereka yang berjalan dalam satu perjuangan.

Perlawanan yang Berakar pada Tauhid

Dari fondasi tauhid dan moralitas itulah Ustadz Ahmad memaknai Maulid sebagai sekolah perlawanan. Perlawanan yang dimaksud bukan sekadar sikap konfrontatif, melainkan keteguhan untuk tidak tunduk kepada kebatilan, kerusakan, dan berbagai kekuatan yang merendahkan martabat manusia. Keteguhan tersebut, menurutnya, harus berjalan bersama dengan kasih sayang dan kebersamaan, sebab sebuah perjuangan akan kehilangan kekuatannya apabila orang-orang yang menjalankannya tidak mampu menjaga ikatan di antara mereka sendiri.

Ustadz Ahmad menyinggung gambaran Al-Qur’an tentang para pengikut Rasulullah yang teguh menghadapi kekuatan yang memusuhi kebenaran, tetapi penuh kasih sayang di antara sesama. Ketegasan terhadap kebatilan dan kasih sayang terhadap sesama bukan dua sikap yang saling bertentangan. Justru perpaduan keduanya membentuk kekuatan moral yang memungkinkan sebuah komunitas bertahan tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Semangat tersebut juga dikaitkan dengan perjalanan ABI sebagai organisasi. Keberadaan dan perjalanan organisasi hingga saat ini, menurut Ustadz Ahmad, tidak dapat dilepaskan dari keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan sekaligus upaya menjaga prinsip perjuangan. Keteguhan membutuhkan keberanian, tetapi keberanian tanpa ikatan moral dapat dengan mudah berubah menjadi kekerasan. Karena itu, tauhid, akhlak, kebersamaan, dan keteguhan harus berjalan bersama.

Cahaya Nabi sebagai Energi Organisasi

Pada bagian akhir sambutannya, Ustadz Ahmad kembali merujuk pada gambaran Nabi Muhammad SAW sebagai sirajan muniran, pelita yang menerangi. Cahaya Rasulullah, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai konsep yang dikenang setiap tahun pada bulan Maulid. Cahaya tersebut harus hadir dalam pribadi-pribadi yang meyakininya, kemudian menjelma dalam kehidupan bersama, termasuk dalam gerak dan perjalanan sebuah organisasi.

Baca juga: Pidato Ketua Umum ABI: Makna Kemerdekaan dan Jalan Menuju Kedaulatan Sejati

“Dengan moral dan jiwa perlawanan di atas basis tauhid, insya Allah cahaya itu akan menjadi simpul seluruh komunitas, dari pusat sampai daerah,” ujarnya.

Harapan tersebut ditujukan kepada seluruh jajaran pimpinan ABI, dari tingkat pusat hingga daerah, termasuk lembaga-lembaga otonom. Nilai-nilai yang dipetik dari peringatan Maulid Nabi, menurut Ustadz Ahmad, perlu menemukan wujudnya dalam kehidupan dan gerak organisasi. Tauhid menjadi fondasi, akhlak menjaga hubungan antarmanusia, persatuan memperkuat barisan, sementara semangat perlawanan menjaga organisasi agar tetap teguh pada arah dan prinsip perjuangannya.

Bagi Ustadz Ahmad Hidayat, Maulid Nabi membawa pesan yang melampaui sebuah peringatan tahunan. Kelahiran Rasulullah mengingatkan umat tentang hadirnya sebuah risalah yang membawa manusia keluar dari kejahilan, membangun harapan, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, dan mengajarkan keberanian untuk tidak tunduk kepada kebatilan. Pesan tersebut diharapkan menjadi energi bagi ABI dalam menjalankan program dan menempuh perjalanan organisasi ke depan. Cahaya Nabi, sebagaimana ditekankan Ustadz Ahmad, pada akhirnya perlu diterjemahkan dalam kerja nyata, keteguhan pada prinsip, serta ikatan yang menguatkan seluruh komunitas ABI dari pusat hingga daerah. []

Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Oleh-oleh dari Iran, Kesadaran Kolektif di Balik Lautan Manusia