Ikuti Kami Di Medsos

Khutbah

Pidato Sekretaris Dewan Syura ABI tentang Peristiwa Ghadir Khum

Published

on

Sekretaris Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), Ustadz Abdollah Beik.
Sekretaris Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), Ustadz Abdollah Beik. (Dok. ABI)

Jakarta, 5 Juni 2026 — Pidato ini diadaptasi dari ceramah Sekretaris Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (DS ABI), Ustadz Abdollah Beik, yang tayang di Kanal ABI pada 5 Juni 2026 dalam rangka peringatan Hari Raya Idul Ghadir. Berikut transkrip pidatonya yang telah disunting untuk kepentingan publikasi.

Makna Syukur pada Hari Idul Ghadir

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wa shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa Ahli Baytihi ath-Thayyibin ath-Thahirin wa Ashhabihi al-Muntajabin wa man tabi‘ahum bi ihsanin ila qiyami yaumiddin.

Allahumma syrah li shadri wa yassir li amri wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qauli. Rabbi anthiqni bil huda wa alhimni at-taqwa.

Para pemirsa TV Ahlulbait Indonesia, khususnya para pengurus di semua jenjang, saya ucapkan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. yang pada hari ini memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali memperingati sebuah hari raya besar, yaitu Idul Ghadir. Sebuah hari ketika kita dianjurkan, sesama pengikut Ahlul Bait a.s., untuk menyampaikan ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan taufik kepada kita sehingga termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada tali wilayah, tali kepemimpinan al-Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan para Imam suci Ahlul Bait a.s. yang melanjutkan kepemimpinan beliau setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI Ustadz Ahmad Hidayat tentang Idul Adha

Kita dianjurkan mengucapkan alhamdulillah yang telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap bertahan dalam wilayah Ali bin Abi Thalib a.s. dan para Imam dari keturunannya.

Tentu ini tidak hanya menjadi sebuah ungkapan semata. Ini tidak hanya menjadi ucapan selamat dan syukur yang disampaikan secara verbal melalui lisan kita. Ungkapan syukur ini harus menjadi sebuah realitas dalam kehidupan kita, baik dalam tataran pemahaman maupun dalam tataran praktik kehidupan sehari-hari, secara personal maupun dalam kehidupan komunitas.

Karena itu, kita harus memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan berpegang teguh pada wilayah al-Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan para Imam suci Ahlul Bait a.s. Pemahaman itu dapat diperoleh melalui pendalaman terhadap Peristiwa Ghadir Khum yang dapat dilihat dari berbagai dimensi.

Ghadir Khum dalam Catatan Sejarah Islam

Dimensi yang paling sering dibahas adalah dimensi sejarah.

Peristiwa Ghadir Khum merupakan bagian dari sejarah Rasulullah SAW yang dicatat oleh para ahli sejarah, baik dari kalangan pengikut mazhab Ahlulbait maupun dari kalangan lainnya. Pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriah, setelah melaksanakan ibadah haji, Rasulullah SAW mengumpulkan seluruh kaum Muslimin yang berhaji bersama beliau. Jumlah mereka mencapai puluhan ribu orang, bahkan sebagian riwayat menyebut hingga lebih dari seratus ribu orang.

Rasulullah SAW berhenti di sebuah tempat yang dikenal sebagai Ghadir Khum, sebuah lembah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Di tempat itulah para jamaah haji yang telah meninggalkan Makkah akan melanjutkan perjalanan menuju daerah masing-masing. Rasulullah SAW meminta seluruh jamaah yang hadir untuk tetap berada di tempat tersebut. Sebagian riwayat bahkan menyebut beliau tinggal selama dua hingga tiga hari untuk menunggu mereka yang belum tiba. Setelah seluruh jamaah berkumpul, Rasulullah SAW menyampaikan sebuah khutbah yang panjang dan sangat penting.

Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI: Idul Adha, Tauhid, dan Jalan Persatuan Umat

Khutbah tersebut layak untuk dibaca, direnungkan, dan dikaji secara mendalam karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran besar bagi umat Islam.

Dalam khutbah itu Rasulullah SAW mengangkat tangan mulia Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan bersabda: “Man kuntu maulahu fa hadza ‘Aliyyun maulahu.” “Barang siapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya.”

Dalam pemahaman Ahlul Bait, kata maula pada hadis ini merujuk kepada kepemimpinan dan otoritas. Sebelumnya Rasulullah SAW telah memberikan indikator yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah kepemimpinan yang membimbing, mengarahkan, dan menuntun umat menuju Allah SWT., menuju kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW.

Alhamdulillah, dari sisi historis, peristiwa ini tidak memerlukan pembuktian ulang mengenai keberadaannya. Banyak ahli sejarah dan ahli hadis telah memverifikasi hadis Ghadir sebagai hadis mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh begitu banyak perawi dalam setiap generasi sehingga tidak mungkin dianggap sebagai riwayat yang dibuat-buat.

Bahkan terdapat ulama yang menulis kitab-kitab khusus yang menghimpun para perawi hadis Ghadir sejak masa sahabat, tabi’in, hingga generasi-generasi berikutnya. Para penyair dan sastrawan Muslim juga mengabadikan peristiwa ini dalam syair-syair mereka sebagai bukti betapa besar dan agungnya Peristiwa Ghadir Khum dalam sejarah Islam.

Ghadir dan Kesempurnaan Akidah

Dimensi yang lain adalah bahwa Peristiwa Idul Ghadir juga memiliki dimensi akidah.

Baca juga: Pidato Ustadz Miqdad Turkan: Imam Ja’far Shadiq Kunci Persatuan Umat Islam

Dengan Idul Ghadir, keyakinan dan keimanan seorang mukmin menjadi lengkap. Selain beriman kepada Allah SWT. dan beriman kepada nabi yang diutus oleh Allah SWT., yang diakhiri dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai nabi terakhir, kita juga meyakini bahwa setelah Rasulullah SAW menyelesaikan seluruh tugas dan risalahnya, lalu beliau dipanggil oleh Allah SWT., agama dan risalah yang diperjuangkan oleh beliau tidak dibiarkan begitu saja.

Rasulullah SAW, atas perintah Allah SWT., telah mengangkat al-Imam Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai pelanjut risalah beliau. Imam Ali a.s. bukan seorang nabi, tetapi beliau adalah seorang washi, penerima wasiat Rasulullah SAW, sekaligus seorang imam yang melanjutkan risalah Rasulullah SAW hingga akhir zaman.

Inilah keyakinan para pengikut Ahlulbait, bahwa agama ini dijaga oleh para Imam suci Ahlul Bait a.s., dimulai dari al-Imam Ali bin Abi Thalib a.s. hingga Imam kedua belas, al-Imam al-Mahdi al-Muntazhar ajjalallahu farajahu asy-syarif.

Imam Mahdi dan Orientasi Masa Depan Umat

Imam al-Mahdi afs. adalah imam yang, atas hikmah dan kemaslahatan yang dikehendaki Allah SWT., berada dalam masa kegaiban. Pada saat yang telah ditentukan oleh Allah SWT., beliau akan hadir untuk memenuhi dunia dengan keadilan.

Baca juga: Pidato Ketum ABI, Ustadz Zahir Yahya tentang Idul Fitri 1447 H

Dimensi ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin adalah seorang yang selalu menatap masa depan. Kita tidak cukup hanya berbangga bahwa Nabi SAW. telah mengangkat Imam Ali as., lalu selesai. Kita juga tidak cukup hanya bersyukur karena meyakini wilayah Imam Ali as. dan sebelas Imam dari keturunannya.

Kita juga meyakini bahwa sebagaimana Islam pada masa Rasulullah SAW telah diatur secara apik oleh Allah SWT. melalui perjuangan Rasulullah SAW dan para Imam suci, demikian pula masa depan dunia ini. Akhir perjalanan dunia adalah tegaknya kebaikan dan keadilan di bawah kepemimpinan al-Imam al-Mahdi al-Muntazhar afs.

Karena itu, kehidupan kita harus dibangun di atas keyakinan bahwa kita adalah pengikut Imam Zaman. Kita dituntut untuk mempersiapkan diri menjadi pengikut setia al-Imam al-Mahdi afs., baik dalam kehidupan saat ini maupun jika Allah SWT. memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup pada masa kemunculan beliau.

Tanpa persiapan mental, spiritual, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan berbagai kemampuan yang dibutuhkan dalam perjuangan beliau, jangan bermimpi bahwa kita akan menjadi pengikut al-Imam al-Mahdi afs. dan bersama-sama beliau membangun peradaban Islam yang adil pada masa yang akan datang.

Kepemimpinan Umat pada Masa Kegaiban

Pembangunan peradaban Islam harus dimulai dari saat ini. Kita meyakini bahwa pada masa kegaiban terdapat pihak-pihak yang mengisi kekosongan kepemimpinan Imam al-Mahdi afs. secara langsung, yaitu para ulama, para maraji’, dan Waliyul Faqih. Karena itu, kita harus menanamkan dalam diri bahwa pada masa kegaiban pun kita tetap merupakan umat yang dipimpin. Kita adalah makmum yang berkewajiban mengikuti arahan para Imam suci as. sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadis-hadis mereka.

Kita juga mengikuti arahan para ulama yang telah mengkaji dan menyimpulkan berbagai ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an, Rasulullah SAW, Imam Ali bin Abi Thalib a.s., dan para Imam Ahlul Bait a.s. dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari ibadah, fikih, akhlak, hingga adab sosial.

Semua itu bersumber dari dua pusaka besar yang ditinggalkan Rasulullah SAW, yaitu Al-Qur’an al-Karim dan Ahlul Bait a.s.

Pada saat yang sama, kita juga berkewajiban berpegang teguh kepada arahan para marja’ dan pemimpin umat pada masa kegaiban. Dalam konsep Wilayatul Faqih, seorang fakih yang memenuhi syarat menjadi rujukan umat, khususnya dalam berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.

Baca juga: Pidato Dewan Syura ABI | Kelahiran Imam Ali: Ilmu, Amanah dan Keadilan

Mengamalkan Ajaran Ghadir di Indonesia

Menjadi pengikut Ahlul Bait dan meyakini Peristiwa Ghadir bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan kita saat ini. Ajaran Ghadir harus hadir dalam kehidupan personal, kehidupan sosial, kehidupan berbangsa, dan kehidupan bernegara, khususnya bagi kita yang hidup di Republik Indonesia.

Kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai agama, keyakinan, mazhab, organisasi, dan pilihan-pilihan sosial lainnya.

Sesuai dengan arahan dan fatwa pemimpin kita yang telah syahid akibat arogansi musuh-musuh Islam, yaitu Amerika dan Zionisme Israel, yang kemudian dilanjutkan oleh Ayatullah Sayyid Mustafa Khomeini, kita diperintahkan untuk selalu hidup di tengah masyarakat dengan membawa hal-hal yang mengharumkan nama baik komunitas Ahlulbait, nama baik para Imam suci Ahlul Bait, dan nama baik Islam Muhammadi yang autentik.

Dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang mencoreng nama baik pengikut Ahlul Bait a.s.

Menjaga Persatuan dan Persaudaraan Bangsa

Di antara ajaran penting yang harus kita pegang adalah menjaga persatuan dan persaudaraan. Baik persatuan di kalangan kaum Muslimin maupun persatuan di kalangan anak bangsa Indonesia. Kita tidak boleh menjadi penyebab retaknya persatuan yang telah dibangun oleh para pendahulu bangsa. Kita tidak boleh mencela, mencaci maki, atau menggunakan kata-kata yang tidak pantas terhadap tokoh-tokoh yang dihormati oleh kelompok lain.

Baca juga: Pidato Ustadz Husain al-Kaff di Hari Santri Nasional: Santri, Penjaga Tradisi dan Penggerak Zaman

Sebagai pengikut Ahlul Bait, kita diharamkan untuk melecehkan dan merendahkan pihak lain, sekalipun terdapat perbedaan pandangan dalam memahami Peristiwa Ghadir atau persoalan-persoalan sejarah Islam.

Perbedaan boleh ada. Perbedaan dapat memengaruhi cara beribadah dan cara memahami agama. Namun perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merobek persatuan dan persaudaraan. Yang harus dibangun adalah sikap toleransi, sikap saling menghormati, dan kemampuan menerima perbedaan.

Dengan sikap toleransi itu, setiap orang dapat menjalankan keyakinannya dengan tenang. Setiap komunitas dapat hidup berdampingan secara damai. Dan masyarakat dapat membangun kehidupan yang harmonis.

Sikap toleransi akan melahirkan kerukunan. Kerukunan akan memperkuat persatuan. Dan persatuan akan melahirkan kekuatan bangsa. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memainkan peran penting dalam percaturan dunia dan tidak mudah didikte oleh kepentingan pihak lain. Karena itu, memperkuat persatuan dan persaudaraan adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan sekaligus tanggung jawab kebangsaan kita.

Mudah-mudahan pada hari-hari yang akan datang kita dapat menyaksikan kehidupan yang lebih baik, toleransi yang lebih kuat, persaudaraan yang semakin kokoh, serta kemajuan bangsa Indonesia yang semakin nyata.

Semoga kita semua mendapatkan rahmat Allah SWT. yang menghendaki kehidupan yang damai, kehidupan yang penuh persaudaraan, dan kehidupan yang penuh persatuan.

Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca juga: Pidato Ustadz Abdullah Beik: Merayakan Maulid Nabi dan Kelahiran Imam Ja’far As-Shadiq